ID EN

Sate Bulayak, Menu Buka Puasa Legendaris di Lombok Barat yang Wajib Dicoba

Rabu, 4 Maret 2026 | 16:15

Penulis: Arif S

Penjual sate bulayak
Penjual sate bulayak di sentra kuliner Sate Bulayak Narmada, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
Sumber: Antara/Sugiharto Purnama

Aroma asap arang bercampur rempah menyambut langkah para pemburu takjil yang memadati sentra kuliner di Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Di ANTARA deretan gerai kuliner, Sate Bulayak menjadi salah satu primadona untuk berbuka Puasa bagi masyarakat Muslim di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Di tengah antrean menjelang azan magrib, Rahman bersama istri dan anaknya sengaja menempuh perjalanan belasan kilometer dari Kota Mataram menuju Narmada demi seporsi kuliner legendaris dengan cita rasa gurih dan pedas.  

"Gurih bumbu berpadu potongan cabai rawit pedas bikin sate bulayak cocok dimakan saat berbuka puasa," ujar Rahman, seorang pembeli di sentra kuliner Sate Bulayak Narmada, Selasa.

Perjalanan kecil keluarga itu bukan sekadar berburu makan malam. Rahman mengaku sering menikmati sate bulayak di Jalan Udayana, Kota Mataram, namun baru kali ini mencicipi versi autentik di wilayah asalnya.

Sate bulayak memang berasal dari Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Kini, makanan itu telah menyebar ke berbagai sudut Pulau Lombok, dari objek wisata hingga pusat keramaian.

Namun, banyak orang percaya, rasa paling otentik tetap di tanah kelahirannya.

"Kami baru pertama kali ke sini karena tertarik dengan keramaian sentra kuliner Sate Bulayak Narmada," ucap Rahman.

Lontong Mengerucut Menjadi Identitas

Ciri khas sate bulayak terletak pada lontong panjang mengerucut dibungkus daun kelapa atau aren muda. 

Lontong itulah yang disebut bulayak dalam bahasa suku Sasak. Teksturnya padat namun lembut, menjadi pasangan ideal bagi sate daging yang dibakar di atas bara.

Sajian ini kemudian disiram kuah santan kental berbumbu rempah, berpadu dengan gurih kacang dan sensasi pedas dari potongan cabai rawit. 

Setelah seharian menahan lapar dan dahaga, kombinasi rasa tersebut menghadirkan kehangatan yang menenangkan. Harga yang relatif terjangkau menjadi alasan sate bulayak diminati berbagai kalangan.

Selama Ramadhan, para penjual mulai membuka gerai selepas Ashar hingga pukul 22.00 WITA. Aktivitas ini mencapai puncaknya menjelang magrib, terutama saat akhir pekan, ketika warga memilih berbuka puasa bersama keluarga di luar rumah.

Salah seorang penjual sate bulayak, Budi mengatakan penjualan meningkat memasuki hari kesepuluh puasa, karena biasanya warga mulai mencari tempat berbuka puasa di luar rumah.

"Harga sate bulayak Rp20.000 per porsi, ada banyak pilihan sate mulai dari ayam, daging, dan jeroan sapi," kata Budi.

Di Narmada, berbuka puasa bukan hanya soal mengisi perut, tetapi upaya merawat warisan kuliner lokal.(Antara)