5 Kota Indonesia Raih Penghargaan Kota Wisata Bersih dan Berkelanjutan ASEAN
Kamis, 5 Februari 2026 | 12:30
Penulis: Arif S

Sumber: Envato
Pariwisata tak lagi diukur dari kilau hotel bintang lima atau kemegahan resor, tetapi juga dari indikator lain. Lima kota di Indonesia masuk daftar Kota Wisata Bersih dan berkelanjutan tingkat Asia Tenggara.
Pengakuan itu datang dari ASEAN Clean Tourist City Award 2026 yang diumumkan pada ASEAN Tourism Standards Awards di Cebu City, Filipina.
Penghargaan ini diberikan kepada kota yang unggul dalam kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah, fasilitas wisata, tata kota, serta kenyamanan dan Keamanan Wisatawan.
BACA JUGA
Bandung Percantik 17 Ruas Jalan Ikonik, Menyulap Kota Jadi Galeri Wisata Terbuka
10 Smart City Paling Maju di Dunia: Destinasi Wisata Masa Depan Berbasis Teknologi
10 Kota Terindah di Dunia 2026 Wajib Dikunjungi, Nomor 10 Situs Warisan UNESCO
Dikutip dari rilis Kemenpar, Rabu 4 Februari 2026, lima kota di Indonesia yang menembus standar ketat ASEAN adalah Bukittinggi, Surakarta (Solo), Malang, Gianyar, dan Tomohon.
Masing-masing kota itu menghadirkan cerita berbeda tentang bagaimana pariwisata dapat tumbuh tanpa mengorbankan kualitas hidup penduduk maupun pengunjung.
Bukittinggi, Sumatera Barat dinilai berhasil menjaga kebersihan kawasan ikonik seperti Jam Gadang, Ngarai Sianok, dan pusat kota.
Pengelolaan sampah yang konsisten, ruang terbuka hijau, serta keterlibatan masyarakat menjadi kunci, sejalan dengan posisinya sebagai destinasi sejarah dan alam.
Di Jawa Tengah, Surakarta menampilkan keunggulan penataan kawasan wisata dan pelestarian budaya.
Kebersihan tetap terjaga di tengah denyut aktivitas budaya, dari kawasan keraton hingga kampung batik.
Integrasi kebersihan, transportasi, dan pariwisata budaya menjadi nilai tambah kota ini.
Malang menguat lewat tata kelola lingkungan perkotaan dan fasilitas wisata ramah pengunjung.
Ruang publik tertata, kawasan Wisata Kota bersih, dan program kebersihan berbasis komunitas memberi fondasi yang konsisten.
Kota ini menunjukkan bahwa keberlanjutan bisa dibangun dari kebiasaan sehari-hari.
Dari Bali, Gianyar masuk daftar berkat pengelolaan destinasi budaya dan alam berkelanjutan.
Kawasan seperti Ubud dinilai mampu menjaga kebersihan, mengelola sampah pariwisata, serta mempertahankan keseimbangan antara Kunjungan Wisatawan dan kelestarian budaya lokal.
Sementara itu, Tomohon di Sulawesi Utara menegaskan pesonanya sebagai kota Wisata Pegunungan yang bersih dan tertata.
Pengelolaan lingkungan, kebersihan Destinasi Alam, dan komitmen pemerintah daerah menjadi faktor utama yang mengantarkannya ke panggung ASEAN.
Indonesia bukan satu-satunya yang bersinar. Dari Vietnam, Quy Nhon kembali meraih penghargaan berkat konsistensi menjaga kebersihan kota pesisir dan Pariwisata Berkelanjutan.
Kota ini tidak hanya memenuhi standar, tetapi menetapkan tolok ukur baru, bagaimana kota berkembang dapat tumbuh sambil menjaga jiwa hijaunya tetap utuh.
Keindahan Quy Nhon yang kerap dijuluki Maladewa dari Vietnam kian menggema. Pantai Ky Co dengan air toska dan tebing dramatis menjadi magnet. Sementara Menara Banh It dan Thap Doi kuno menghadirkan kontras spiritual yang tenang.
Kota ini menawarkan cetak biru masa depan pariwisata. Air tetap jernih, jalanan bersih, dan sambutan hangat seperti matahari tropis.
Dari Filipina, Iloilo City, City of Ilagan, dan Tabuk City dinilai unggul dalam manajemen sampah, kebersihan ruang publik, serta fasilitas wisata ramah pengunjung.
Myanmar diwakili Pindaya dan Hpa-an, yang berhasil menjaga kebersihan destinasi alam dan budaya.
Setiap kota yang diajukan melewati “uji stress” standar lingkungan dan perkotaan. Penilaian dilakukan melalui tujuh aspek, meliputi Manajemen Lingkungan, Kebersihan dan Higiene, Pengelolaan Limbah dan Air Limbah, Kesadaran Lingkungan, Ruang Hijau, Kesehatan dan Keselamatan, serta Infrastruktur Pariwisata.










