ID EN

Bandung Percantik 17 Ruas Jalan Ikonik, Menyulap Kota Jadi Galeri Wisata Terbuka

Rabu, 14 Januari 2026 | 13:00

Penulis: Arif S

Suasana Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Jawa Barat
Suasana Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Jawa Barat.
Sumber: Pemkot Bandung

Bandung tak lagi sekadar kota untuk berbelanja atau bersantai di kafe kekinian. Ibu kota Jawa Barat ini perlahan membentuk wajah baru sebagai Destinasi Wisata perkotaan yang bisa dinikmati dengan berjalan kaki, menyusuri trotoar rindang, hingga bangunan bersejarah.

Upaya itu diperkuat Pemerintah Kota Bandung dengan mempercantik 17 ruas jalan Utama. Selama ini, 17 ruas itu telah berkembang menjadi magnet wisata, mulai dari kawasan heritage, pusat belanja, hingga koridor kuliner dan budaya.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan langkah ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan bagian dari strategi menjadikan jalan sebagai ruang publik dan pengalaman wisata.

"Hasil rapat pimpinan tadi, kita akan melakukan perbaikan, dan perawatan khusus di 17 ruas jalan di Kota Bandung beserta sayap-sayapnya, karena ruas-ruas jalan ini sudah menjadi destinasi wisata,” ujar Farhan di Bandung, Selasa.

Koridor Kota Menjadi Destinasi Wisata

Tujuh belas ruas jalan itu bukan jalur biasa. Di sanalah wisatawan menemukan denyut kota. Jalan Ir H Juanda (Dago) yang sejuk dan kreatif, RE Martadinata yang modis, Merdeka dan Lembong yang sibuk dan kosmopolitan, hingga Asia Afrika yang sarat sejarah.

Daftarnya mencakup pula Jalan Tamblong, Simpang Lima, Naripan, Sunda, Sumatera, Jawa, Wastukancana, serta sejumlah ruas strategis lain yang membentuk jantung aktivitas kota.

Farhan menjelaskan penanganan yang dilakukan bersifat menyeluruh, menyentuh aspek fungsional sekaligus visual kota.

“Perbaikannya perbaikan normal, tapi dengan perhatian khusus agar kawasan ini benar-benar siap sebagai tujuan wisata,” katanya.

Perbaikan mencakup badan jalan, trotoar, hingga penataan kawasan agar lebih rapi, nyaman, dan aman bagi pejalan kaki yang bagian penting dari wisata urban modern.

Dari Infrastruktur ke Pengalaman Wisata

Di banyak kota dunia, jalan bukan lagi sekadar ruang transit, tetapi ruang tinggal sementara bagi wisatawan. Tempat berjalan, berfoto, berhenti, menikmati Kopi, atau sekadar mengamati kehidupan lokal. 

Penataan 17 ruas jalan ini diharapkan membentuk koridor wisata terintegrasi, memungkinkan wisatawan menjelajah pusat kota secara organik tanpa harus selalu bergantung pada kendaraan.

Farhan menekankan tujuan akhirnya adalah menjaga kualitas kota sekaligus menggerakkan ekonomi.

“Ini bagian dari upaya kita menjaga kualitas kota, terutama di kawasan yang paling sering dikunjungi wisatawan,” pungkasnya.(ANTARA)

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!