Borobudur Moon, Merayakan Cahaya Budaya di Bawah Purnama
Rabu, 8 Oktober 2025 | 10:43
Penulis: Arif S

Sumber: Antara
Cahaya bulan purnama menyinari megahnya Candi Borobudur, Selasa 7 Oktober 2025 malam. Di bawah langit temaram, gema musik, tarian, dan ekspresi budaya berpadu dalam acara Borobudur Moon, perhelatan seni yang untuk pertama kalinya digelar di kompleks warisan dunia itu.
Bupati Magelang, Jawa Tengah, Grengseng Pamuji, membuka langsung acara tersebut dengan penuh semangat dan harapan besar.
“Borobudur Moon hari ini kita buka untuk pertama kali dan saya berharap menjadi event yang kita laksanakan setiap bulan purnama,” ujarnya.
BACA JUGA
Satu-satunya dari Indonesia, House of Tugu Jakarta Tembus World’s Greatest Places 2026
Machu Picchu di Ujung Tanduk: Ketika Keajaiban Dunia Terancam karena Ulah Manusia
5 Pulau Tersembunyi di Eropa yang Cocok untuk Traveler Pencari Kesunyian
Menurutnya, Borobudur Moon bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan simbol perjalanan budaya yang terus menyala dari masa ke masa.
“Semoga Borobudur Moon menjadi cahaya yang menerangi perjalanan hidup budaya dan pariwisata di Indonesia, khususnya di wilayah Kabupaten Magelang,” harapnya.
Lebih jauh, Grengseng menekankan pentingnya kolaborasi lintas daerah dan lintas generasi dalam menghidupkan budaya.
“Saya berharap ini menjadi jembatan kolaborasi dalam membangun dan menjadikan budaya sebagai salah satu identitas kebangsaan kita,” katanya.
Ia mengapresiasi para seniman dan pelaku budaya yang disebutnya sebagai penjaga nilai luhur bangsa.
“Para seniman, para pelaku budaya adalah penjaga luhur yang terus menghidupkan semangat kebangsaan melalui ekspresi-ekspresi yang kreatif dan inovatif,” katanya.
Bagi Bupati Grengseng, Borobudur bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang refleksi yang menyatukan masa lalu, kini, dan masa depan.
“Candi Borobudur bukan hanya destinasi wisata tetapi menjadi ruang refleksi dan dialog lintas zaman,” katanya.
Lewat Borobudur Moon, ia ingin mengembalikan peran Borobudur sebagai poros budaya dunia.
“Melalui Borobudur Moon saya berharap kita bisa menghidupkan kembali semangat Borobudur sebagai pusat budaya dunia, menjadi tempat bertemu gagasan, nilai dan ekspresi dari berbagai penjuru,” katanya.
Borobudur Moon edisi perdana ini juga menjadi wujud kolaborasi antar daerah.
Selain menampilkan seniman dari Kabupaten Magelang, ratusan seniman dari Gianyar, Bali, turut ambil bagian, menghadirkan perpaduan energi budaya yang unik dan penuh warna.
“Saya berharap ini menjadi sebuah realitas ke depan, bukan hanya harapan semu dan ke depan kolaborasi antara Kabupaten Magelang dan Gianyar ini menjadi pertukaran seniman, festival bersama dan mungkin proyek-proyek kreatif lintas zaman yang nantinya akan semakin menguatkan kedua daerah,” katanya.
Lebih dari sekadar pesta seni, Grengseng ingin Borobudur Moon menjadi peristiwa yang menyatukan jiwa nusantara di bawah cahaya purnama.
Kegiatan ini bukan hanya pertunjukan seni, tetapi sebuah peristiwa simbolik yang menyatukan jiwa nusantara di bawah cahaya purnama Borobudur.
“Borobudur Moon merupakan perwujudan harmoni antara seni, budaya dan alam. Kegiatan ini menggabungkan keindahan spiritual Candi Borobudur dengan ekspresi budaya yang hidup dan dinamis dengan berbagai penjuru negeri,” katanya.
Di bawah sinar purnama Borobudur, harmoni antara alam dan budaya benar-benar terasa.
Siapa tahu, di masa depan, setiap bulan purnama akan selalu membawa cahaya baru bagi kebudayaan Indonesia.(Antara)***










