Machu Picchu di Ujung Tanduk: Ketika Keajaiban Dunia Terancam karena Ulah Manusia
Sabtu, 4 Oktober 2025 | 20:00
Penulis: Arif S

Sumber: Pixabay/jdbenthien
Ada paradoks yang menarik di jantung pegunungan Andes, Peru. Di satu sisi, Machu Picchu berdiri megah sebagai simbol keajaiban peradaban Inca. Di sisi lain, situs bersejarah yang menjadi magnet jutaan wisatawan itu kini tengah menghadapi ancaman kehilangan salah satu gelar paling prestisius di dunia, status “7 Keajaiban Dunia Baru”.
Dilansir The Independent, Senin 29 September 2025, peringatan keras datang dari Organisasi New 7Wonders, lembaga yang pada tahun 2007 menetapkan Machu Picchu sebagai salah satu dari tujuh keajaiban modern bersama Colosseum di Roma dan Petra di Yordania.
Alasannya bukan karena faktor alam, melainkan ulah manusia sendiri.
BACA JUGA
Borobudur Moon, Merayakan Cahaya Budaya di Bawah Purnama
5 Pulau Tersembunyi di Eropa yang Cocok untuk Traveler Pencari Kesunyian
Bukan Paris atau Tokyo, Ini Destinasi dengan Pertumbuhan Wisata Tercepat 2026
Semua bermula dari keresahan warga lokal. Sekitar 900 wisatawan terjebak di dekat situs kuno itu setelah perjalanan kereta penumpang dihentikan akibat demonstrasi besar-besaran terkait konsesi transportasi.
Jalur kereta PeruRail pun terpaksa berhenti beroperasi setelah pengunjuk rasa memblokade lintasan dengan batu dan kayu.
Tuntutan mereka sederhana tapi tegas, transparansi dan keadilan dalam pergantian operator bus wisata Consettur, yang masa konsesinya telah berakhir. Namun, dampak dari aksi ini ternyata jauh lebih luas.
Merespons situasi yang makin memanas, New 7Wonders menyatakan Machu Picchu tidak lagi memenuhi standar yang diharapkan dari situs dengan gelar sekelas “Keajaiban Dunia”.
Dalam pernyataannya, organisasi tersebut menyoroti salah urus, pariwisata berlebihan, dan ketidakstabilan yang kini membayangi kawasan bersejarah itu.
Direktur New 7Wonders Foundation, Jean-Paul de la Fuente, bahkan memberikan peringatan keras.
“Faktor-faktor ini dapat merusak citra Peru karena pengalaman buruk yang dialami para pengunjung, sekaligus mengancam kredibilitas Machu Picchu sebagai salah satu dari 7 Keajaiban Dunia Baru kami,”jelas Jean-Paul.
Menurutnya, jika tekanan tinggi akibat pariwisata tidak segera dikendalikan, bukan hanya reputasi, tapi juga keutuhan fisik situs peninggalan kuno itu yang terancam rusak.
Sementara itu, Kementerian Kebudayaan Peru bergerak cepat menanggapi kabar tersebut. Mereka menegaskan bahwa UNESCO adalah satu-satunya lembaga yang berwenang secara global dalam hal identifikasi, perlindungan, dan pelestarian warisan budaya maupun alam.
Kementerian juga menambahkan, Machu Picchu masih berada dalam kondisi aman, dan belum termasuk dalam daftar World Heritage in Danger.
Sejak didaftarkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 1983, upaya konservasi terus dijalankan untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian dan pariwisata.
Namun, satu hal yang jelas, Machu Picchu kini berada di persimpangan antara warisan dan komersialisasi. Apakah dunia akan kehilangan salah satu keajaibannya karena keserakahan manusia sendiri? Waktu yang akan menjawab.***










