ID EN

Maraton HKSN 2025 di Borobudur, Ribuan Pelari Satukan Langkah untuk Korban Bencana Sumatera

Minggu, 21 Desember 2025 | 11:19

Penulis: Respaty Gilang

Maraton
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono melepas 7.000 peserta lari maraton untuk solidaritas korban bencana Pulau Sumatera.
Sumber: Antaranews

Maraton Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) 2025 menjadi lebih dari sekadar ajang Olahraga. Digelar di kawasan bersejarah Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Minggu, event ini menjelma sebagai ruang pertemuan ANTARA semangat sportivitas, solidaritas sosial, dan kepedulian kemanusiaan bagi masyarakat terdampak bencana di Pulau Sumatera.

Sebanyak 7.000 pelari dari berbagai daerah di Indonesia turut ambil bagian dalam maraton yang menjadi puncak rangkaian peringatan HKSN 2025. Kegiatan ini diinisiasi oleh Kementerian Sosial bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dengan tujuan utama menggalang dukungan moral dan material bagi korban banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Dengan latar kemegahan Candi Borobudur, para peserta tidak hanya diuji secara fisik melalui lintasan lari, tetapi juga diajak untuk menanamkan nilai empati dan kesetiakawanan. Perpaduan antara Olahraga, nilai budaya, dan misi kemanusiaan menjadikan maraton ini memiliki makna yang lebih luas dibandingkan lomba lari pada umumnya.

Olahraga Sebagai Medium Solidaritas Nasional

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono secara langsung melepas para pelari. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa maraton ini digelar sebagai bentuk kepedulian sekaligus doa bersama bagi masyarakat di wilayah Sumatera yang tengah menghadapi bencana alam.

“Maraton ini untuk solidaritas saudara-saudara kita di Sumatera. Semoga mereka segera bangkit dan kehidupan mereka bisa kembali normal,” kata dia.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa olahraga dapat menjadi medium efektif untuk menyatukan kepedulian publik. Dalam konteks HKSN 2025, lari bukan sekadar aktivitas kompetitif, melainkan simbol gerak bersama untuk membantu sesama.

Sebelum start dimulai, suasana di kawasan Borobudur terasa khidmat. Empat tokoh lintas agama memimpin doa bersama yang diikuti ribuan peserta. Momen ini menjadi pengingat bahwa solidaritas kemanusiaan melampaui perbedaan latar belakang, keyakinan, maupun daerah asal. Doa bersama tersebut sekaligus menjadi bentuk penguatan spiritual bagi para korban bencana yang tengah berjuang memulihkan kehidupan mereka.

Dari sisi olahraga, lintasan maraton yang mengelilingi kawasan Candi Borobudur menawarkan tantangan tersendiri. Kontur jalan yang bervariasi, udara pagi yang sejuk, serta panorama alam khas Magelang menciptakan pengalaman lari yang tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga memanjakan mata. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelari rekreasional maupun komunitas lari yang datang dari berbagai kota.

Donasi, Kolaborasi, dan Peran Filantropi

Selain kegiatan lari, panitia juga membuka penggalangan donasi bagi korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pengumpulan bantuan dilakukan secara digital melalui pemindaian kode batang dompet digital yang difasilitasi filantropi nasional. Skema ini dinilai efektif karena memudahkan peserta dan pengunjung untuk berkontribusi secara langsung dan transparan.

Dalam kesempatan yang sama, Kementerian Sosial juga menerima bantuan ribuan pakaian baru dari salah satu jenama asal Jepang. Bantuan tersebut nantinya akan disalurkan kepada para korban bencana, khususnya mereka yang kehilangan harta benda akibat banjir dan longsor.

Agus Jabo Priyono berharap peringatan HKSN 2025 tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan, melainkan mampu memperkuat nilai kesetiakawanan sosial di tengah masyarakat. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, dunia usaha, komunitas olahraga, hingga individu, dalam membantu masyarakat yang sedang tertimpa musibah.

"Kementerian Sosial berterima kasih kepada seluruh pihak yang sudah berpartisipasi memberikan dukungan. Sekali lagi ini semua bentuk solidaritas kita," ungkapnya.

Kehadiran berbagai pemangku kepentingan dalam maraton ini menunjukkan bahwa olahraga dapat menjadi titik temu yang efektif untuk membangun kerja sama sosial. Di sisi lain, model penggalangan dana yang terintegrasi dengan event olahraga juga membuka peluang baru dalam menggerakkan partisipasi publik secara lebih luas.

Suara Peserta dan Makna di Balik Garis Finis

Antusiasme peserta datang dari berbagai latar belakang. Salah satunya adalah Rita (28), peserta asal Jakarta, yang mengikuti maraton bersama lima rekan sekantornya. Ia mengaku rela menempuh perjalanan jauh demi ambil bagian dalam ajang lari tersebut.

Bagi Rita, partisipasinya bukan hanya soal menaklukkan jarak 10K-8K, tetapi juga tentang menyampaikan empati kepada para korban bencana di Sumatera. Lintasan yang mengelilingi kawasan Candi Borobudur menjadi pengalaman tersendiri, memadukan aktivitas fisik dengan refleksi sosial.

"Meski kami tidak bisa datang langsung tapi dengan begini mungkin bisa bantu meringankan, segera pulih saudara kita di Aceh dan sekitarnya, dan kegiatan ini juga bisa cari sehat di sela waktu cuti," kata dia.

Pernyataan Rita mencerminkan tren baru di kalangan penikmat olahraga, khususnya lari. Event lari kini tidak hanya dipandang sebagai ajang kompetisi atau rekreasi, tetapi juga sarana untuk terlibat dalam isu-isu sosial dan kemanusiaan. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran komunitas olahraga terhadap peran mereka di luar lintasan.

Bagi banyak peserta, garis finis Maraton HKSN 2025 bukanlah akhir, melainkan simbol komitmen untuk terus peduli. Keringat yang bercucuran sepanjang lintasan menjadi representasi usaha kolektif untuk membantu mereka yang tengah berjuang bangkit dari bencana.

Melalui Maraton HKSN 2025, olahraga kembali menunjukkan wajah humanisnya. Di tengah persaingan prestasi dan Gaya Hidup aktif, nilai solidaritas dan empati tetap menjadi fondasi utama. Dari Borobudur, pesan kemanusiaan itu menggema, mengingatkan bahwa setiap langkah kecil dapat membawa dampak besar bagi sesama.