ID EN

Jawa Tengah Kian Mendunia Berkat Borobudur Marathon

Minggu, 16 November 2025 | 19:15

Penulis: Respaty Gilang

Borobudur Marathon
Borobudur Marathon 2025.
Sumber: Antaranews

Setiap akhir tahun, Magelang berubah jadi kota yang berdenyut lebih cepat dari biasanya. Bukan cuma karena ribuan pelari dari dalam dan luar negeri memenuhi jalanan, tapi karena Borobudur Marathon telah menjelma menjadi perpaduan unik antara olahraga, budaya, dan eksplorasi destinasi. 

Di balik hiruk-pikuk race day, ada cerita tentang bagaimana sebuah ajang lari bisa mengangkat ekonomi lokal, menambah warna di industri pariwisata, sampai membawa Jawa Tengah ke panggung dunia.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menangkap energi besar itu. Baginya, Borobudur Marathon bukan sekadar event olahraga yang dikemas rapi. Ada sesuatu yang lebih dalam, yang lahir dari semangat komunitas, potensi daerah, dan daya tarik wisata yang tak habis dimakan waktu.

“Borobudur Marathon itu sudah naik kelas. Sekarang sudah elite marathon, artinya sudah kelas dunia. Dari 38 negara yang ikut, secara tidak langsung akan menarik Jawa Tengah menjadi tempat investasi. Tidak hanya untuk marathon tetapi juga investasi terkait dengan wisata, ada UMKM dan lain sebagainya,” katanya.

Magnet Baru untuk Traveler dan Pelari Dunia

Status Elite Label dari World Athletics jelas bukan hal sepele. Label itu membuat Borobudur Marathon sejajar dengan ajang lari bergengsi dunia. Untuk para pelari internasional, status ini seperti stempel bahwa rute mereka aman, penyelenggaraannya profesional, dan atmosfernya unik. Dan memang, siapa yang bisa menolak lari pagi dengan latar Candi Borobudur yang megah?

Setiap tahun, semakin banyak traveler yang datang bukan hanya sekadar ingin “finisher”, tetapi juga ingin merasakan vibe Magelang yang tenang, adem, dan penuh kejutan. Banyak peserta marathon yang kemudian extend perjalanan mereka, ada yang naik Jeep ke Punthuk Setumbu, ada yang keliling kampung-kampung wisata, ada pula yang memanjakan diri dengan kuliner lokal seperti mangut lele atau sego godhog.

Ahmad Luthfi melihat jelas bagaimana dinamika ini menggerakkan perekonomian masyarakat.

Ia menyebut, Borobudur Marathon sudah menjadi kegiatan tahunan yang menyatu dengan budaya setempat. UMKM tumbuh, hotel penuh, transportasi ramai, dan desa-desa wisata ikut panen rezeki.

“Bukan sekadar kegiatan olahraga lari, tetapi di dalamnya ada wisata yang menggerakkan ekonomi masyarakat, terutama UMKM,” ujarnya.

Dari Event Tunggal ke Ekosistem Lari yang Lebih Besar

Dengan dampak sebesar ini, wajar jika Gubernur ingin lebih banyak event berlevel serupa lahir di berbagai wilayah Jawa Tengah. Mimpinya cukup ambisius, tapi sangat mungkin diwujudkan jika melihat betapa cepat ekosistem lari berkembang.

Ia bahkan membayangkan lahirnya berbagai tema marathon seperti, Moon Marathon, Night Marathon, Beach Marathon atau Mountain Marathon.

Bayangkan betapa menariknya Jawa Tengah dengan kalender lari sepanjang tahun yang tidak hanya memberi pengalaman berlari, tetapi juga memperkenalkan karakter masing-masing daerah.

“Event Borobudur Marathon akan menjadi trigger untuk marathon-marathon yang lain, sehingga secara tidak langsung masyarakat menjadi sehat. Kemudian UMKM berdiri. Investasi akan tumbuh karena ada pariwisatanya, dan yang tidak kalah penting adalah Jawa Tengah menjadi ikonnya marathon dunia,” kata Ahmad Luthfi.

Bonus Hingga Rp600 Juta, Bukti Keseriusan Penyelenggara

Tahun ini, panitia Borobudur Marathon menyediakan total bonus Rp600 juta bagi para pelari yang sukses memecahkan rekor. Tidak hanya untuk kategori internasional, tetapi juga ada bonus khusus bagi pelari asal Jawa Tengah.

“Kita sudah siapkan dari Bank Jateng hampir Rp600 juta. Total Rp600 juta akan kita bagikan,” kata gubernur.

Bagi pelari muda lokal, ini bukan sekadar kompetisi, tapi pembuktian. Banyak bibit atletik Indonesia lahir dari event seperti ini, dari mereka yang pertama kali ikut 10K sampai pelari yang akhirnya berani naik level ke full marathon.

Dampak Pariwisata, Lebih Besar dari Yang Terlihat

Bagi traveler, Borobudur Marathon adalah alasan baru untuk kembali ke Magelang. Sementara bagi pemerintah daerah, event ini jadi cara efektif mengukur dampak pariwisata terhadap ekonomi.

Setiap pelari membawa “dampak berantai”, mereka menginap, makan, eksplorasi, belanja suvenir, hingga mengajak keluarga atau teman ikut liburan. Efeknya terasa langsung oleh masyarakat.

Meski berlangsung hanya sehari, euforia Borobudur Marathon bisa berdampak sepanjang tahun. Magelang makin sering masuk bucket list traveler, desa-desa wisata makin kreatif, dan pelaku UMKM makin berani mengembangkan produk.

Dengan status baru sebagai Elite Label, bukan tidak mungkin ajang ini akan menjadi ikon global seperti Tokyo Marathon atau Berlin Marathon, yang tidak hanya dikenal karena rutenya, tetapi karena pengalaman yang melekat.