Tur Wisata Edukatif di Kebun Kakao Jembrana, Menyusuri Aromatik Bali Barat
Jumat, 12 Desember 2025 | 13:30
Penulis: Arif S

Sumber: Antara/Hreeloita Dharma Shanti
Di ujung barat Pulau Bali, jauh dari riuhnya Kuta dan Seminyak, Jembrana menyimpan pesona kebun kakao di tengah lanskap pedesaan hijau. Kawasan ini menjadi destinasi baru yang diperkenalkan Kementerian Pariwisata kepada wisatawan Singapura melalui tur edukatif bersama Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya (KSS).
Tur ini mengajak wisatawan menyusuri perjalanan biji cokelat sejak masih di pohon hingga proses pengeringannya.
“Jadi tempat ini memang kami promosikan karena para petani juga sudah mencetak prestasi dari kualitas biji cokelatnya, karena bijinya ada rasa buah, rasa rempah karena ini sistemnya tumpang sari, biji cokelatnya jadi mengeluarkan bau yang khas,” ujar Kepala Bidang Pemasaran dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kebudayaan Jembrana, Ni Komang Ayu Tri Ardanawati, Kamis 11 Desember 2025.
BACA JUGA
Tips Liburan Nyaman di Bali Saat Libur Nyepi dan Idul Fitri Maret 2026
Ini Alasan Bali Masih Jadi Surga Wellness di Indonesia
Ramai Wisatawan Mancanegara, Gerbang Handara Mendadak Jadi Spot Wajib di Bali
Empat wisatawan peserta Familiarization Trip (Famtrip) bertajuk Hidden Bali: Serenity, Nature and Sustainability diajak berjalan kaki menyusuri lahan seluas tiga hektare di Desa Nusasari, Kecamatan Melaya—rumah bagi dua ribu pohon cokelat yang menjadi sumber kakao terbaik Jembrana.
Di sepanjang jalur, pepohonan tinggi, embusan angin pedesaan, dan tanah subur menghadirkan nuansa Bali yang berbeda dari wilayah selatan.
Di kebun ini, proses pengolahan kakao masih mengandalkan metode tradisional yang selaras dengan alam.
Para wisatawan melihat langsung bagaimana pupuk alami dari kotoran kambing dan insektisida berbahan air kelapa, lidah buaya, belimbing wuluh, nanas, serta buah maja digunakan untuk merawat pohon-pohon kakao.
Pendekatan organik ini menghasilkan buah berkualitas tinggi tanpa merusak keseimbangan lingkungan.
Mereka juga berkesempatan mencicipi buah cokelat berwarna kuning dan merah—warna yang menentukan rasa dari manis hingga asam.
Petani sekaligus pemilik kebun, Ketut Sudomo, menjelaskan penggunaan bahan alami menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan.
Ia menegaskan teknik organik ini menjaga kesehatan konsumen sekaligus melestarikan alam.
Prestasi kakao Jembrana telah mendunia. Biji cokelat dari kebun ini berhasil meraih 2023 Cacao of Excellence Silver Award pada 8 Februari 2024 di Amsterdam, Belanda.
Bahkan salah satu produsen cokelat premium dunia, Valrhona, menggunakan biji kakao dari Jembrana sebagai bahan baku produk mereka.
Ni Komang Ayu menjelaskan Koperasi KSS dan NGO Yayasan Kalimajari berperan penting dalam membantu petani memasarkan biji kakao mereka ke pasar internasional. Upaya ini membuat kakao Jembrana semakin dikenal di luar negeri.
Di tengah aktivitas tur, wisatawan Singapura seperti Ivan Ngiam Tee Kuen antusias mencoba segala hal baru.
Ia mencoba membuka buah cokelat menggunakan pentungan bernada penasaran.
“Keras banget deh buka ini, coba sekali lagi (dipukul),” katanya. Menurut Ivan, rasa biji cokelat yang dicicipinya seperti mangga.
Wisatawan lain, Ong Seng Tah, mengungkapkan preferensinya terhadap biji cokelat, termasuk kandungan antioksidannya.
Tur kakao di Jembrana ini merupakan bagian dari upaya Kementerian Pariwisata untuk memperkenalkan keindahan Bali yang selama ini jarang tersorot, khususnya bagian utara dan barat.
Kedua kawasan ini menawarkan pengalaman yang jauh lebih tenang, natural, dan autentik dibanding kawasan wisata populer di selatan.
Melalui famtrip ini, Kemenpar berharap agen perjalanan dan operator tur dari Singapura dapat membawa narasi baru.
Bali bukan hanya pantai dan resor, tetapi juga rumah bagi kebun kakao dan pengalaman wisata berbasis keberlanjutan penuh cerita.(Antara)










