Gen Z Ubah Peta Wisata Dunia 2026, Lebih Utamakan Liburan daripada Karier
Sabtu, 6 Desember 2025 | 17:30
Penulis: Arif S

Sumber: Pixabay
Temuan baru dari Global Hotel Alliance (GHA) memberi gambaran menarik tentang bagaimana wisatawan, terutama Gen Z menata ulang prioritas hidup mereka. Survei berbasis data lebih dari 34 juta anggota GHA DISCOVERY, mengungkap bagaimana generasi muda memandang perjalanan sebagai bagian mendasar dari identitas, bukan sekadar pelarian singkat dari rutinitas.
Menurut laporan itu seperti dilansir Hotelsmag, Sabtu 6 Desember 2025, 65% responden melihat perjalanan sebagai cermin diri mereka.
Tren ini mencapai puncaknya pada Gen Z, di mana separuh dari mereka menyebut liburan lebih penting dibanding pencapaian karier.
BACA JUGA
10 Kota Favorit Gen Z untuk Liburan Singkat, Nomor 4 Tetangga Indonesia
Wisata Estetik Jadi Tren, Bekasi Dilirik Traveler Gen Z
Tren Wisata Ramadhan 2026: Iftar Hiking hingga Kota Nokturna Dunia Muslim
Perspektif ini menandai pergeseran signifikan, generasi muda ingin hidup lebih lambat, lebih personal, dan lebih bermakna di luar tuntutan profesional yang selama ini menekan generasi sebelumnya.
“Studi kami menggambarkan wisatawan lebih bijaksana dan berorientasi pada nilai,” ujar EVP Strategi GHA, Kristi Gole.
Survei memperkirakan pada 2026, wisatawan akan melakukan rata-rata enam perjalanan pribadi dan hanya empat perjalanan bisnis.
Sekitar 50% responden bahkan memprediksi frekuensi liburan mereka akan meningkat, dipimpin Gen Z dan Milenial.
Sementara itu, Baby Boomer memilih ritme berbeda, liburan lebih jarang tetapi berdurasi panjang, mencari kedalaman dan ketenangan.
Keinginan menjelajahi tempat baru juga meningkat. Sebanyak 62% responden memilih destinasi yang belum pernah mereka kunjungi.
Keamanan, kenyamanan, serta pengalaman budaya menjadi prioritas, terutama bagi Gen Z yang haus kedekatan lokal.
Tren wisata santai semakin mengemuka, dengan 60% responden mengincar kota-kota kecil atau pedesaan sebagai tempat berlibur.
Dalam hal pengeluaran, wisatawan semakin selektif. Sebanyak 79% mengatakan bersedia membayar lebih untuk kualitas layanan terbaik.
Meski konsep kemewahan kini lebih cair, 78% tetap menjadikan hotel butik atau bintang lima sebagai standar yang sulit digantikan.
“Kualitas hotel menjadi aspek yang tidak bisa mereka kompromikan,” lanjut Gole.
Kesetiaan pelanggan juga mengalami evolusi. Upgrade kamar, check-in awal, hingga fasilitas loyalitas menjadi hal paling dihargai 44% responden. Bahkan, 73% mempertimbangkan berlangganan layanan perjalanan demi kemudahan tambahan.
Teknologi semakin melekat pada pengalaman berwisata. Enam dari sepuluh pelancong kini menggunakan perangkat berbasis AI untuk merancang perjalanan mereka, dengan Gen Z menjadi pengguna paling dominan.
Pembayaran digital, smart key, hingga boarding biometrik telah berubah dari inovasi menjadi kebutuhan.
Dalam peta destinasi global, Asia muncul sebagai kawasan paling diminati untuk 2026. Jepang berada di urutan teratas sebagai destinasi impian, disusul China dan Thailand.
Inspirasi perjalanan pun semakin beragam, namun tetap didominasi keluarga, teman (36%), dan media sosial seperti Instagram (34%).
“Loyalitas bukan sekadar poin, tapi tentang gaya hidup, pengalaman berbeda di setiap tempat yang mereka singgahi,” pungkas Gole.***










