Wisata Estetik Jadi Tren, Bekasi Dilirik Traveler Gen Z
Minggu, 25 Januari 2026 | 13:00
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: AI Chat GPT
Wisata tak lagi sekadar soal pergi dan pulang. Bagi generasi Z, perjalanan adalah pengalaman visual, ruang ekspresi, sekaligus cara memulihkan diri dari rutinitas. Tren ini ikut mengerek pamor sejumlah Destinasi Wisata di Kota Bekasi yang kini mulai dilirik sebagai alternatif liburan urban dengan sentuhan estetik.
Perwakilan industri perhotelan, Yudhitia Kurniawan, menilai generasi Z memiliki pendekatan yang berbeda dalam memilih destinasi. Aspek visual kini menjadi pertimbangan utama, namun tetap berjalan beriringan dengan kenyamanan dan kebutuhan relaksasi.
“Generasi Z sangat selektif. Mereka mencari tempat yang bukan hanya nyaman, tetapi juga memiliki karakter visual kuat. Pengalaman yang bisa dibagikan menjadi nilai tambah yang penting,” kata Yudhitia dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat, 23 Januari 2026.
BACA JUGA
Gen Z Ubah Peta Wisata Dunia 2026, Lebih Utamakan Liburan daripada Karier
Generasi Z Dorong Tren Wisata Visual, Destinasi Bekasi Kian Dilirik
10 Kota Favorit Gen Z untuk Liburan Singkat, Nomor 4 Tetangga Indonesia
Perubahan perilaku ini mendorong pelaku industri pariwisata dan perhotelan untuk beradaptasi. Desain tematik, area komunal yang fotogenik, hingga tata cahaya yang mendukung pengalaman visual kini menjadi elemen penting dalam menciptakan destinasi yang relevan bagi wisatawan muda.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan, motivasi utama generasi Z dalam berwisata masih didominasi kebutuhan untuk refreshing sebesar 67,2 persen. Sementara itu, eksplorasi budaya menyumbang 18,5 persen dan pencarian pengalaman baru 14,3 persen. Angka ini menegaskan bahwa di balik maraknya konten media sosial, wisata tetap berfungsi sebagai ruang pemulihan emosi dan pencarian makna.
Di Bekasi, tren Wisata Visual mulai menemukan momentumnya. Sejumlah destinasi seperti Hutan Bambu Bekasi, Sabana Delta Mas, Situ Rawa Gede, hingga Trans Snow World Bekasi menawarkan pengalaman yang memadukan alam, ruang terbuka, dan wahana tematik. Kombinasi ini dinilai sejalan dengan karakter generasi Z yang gemar eksplorasi ringan tanpa harus bepergian jauh dari pusat kota.
Yudhitia melihat fenomena ini sebagai peluang besar bagi pengembangan pariwisata urban dan Ekonomi Kreatif di wilayah penyangga Jakarta.
“Wisata yang instagramable bukan sekadar soal foto. Jika dikelola dengan baik, estetika bisa menjadi pintu masuk untuk menggerakkan ekonomi lokal dan memperkenalkan destinasi yang sebelumnya kurang dikenal,” ujarnya.
Lebih dari sekadar tren sesaat, wisata visual dinilai mampu memperkuat identitas Bekasi sebagai kota dengan ragam pengalaman urban. Akses yang mudah, pilihan destinasi yang variatif, serta konsep ruang yang semakin kreatif menjadikan Bekasi relevan bagi Traveler Muda yang mencari pengalaman singkat namun berkesan.
Ke depan, Yudhitia berharap pengembangan wisata visual tidak hanya berorientasi pada kebutuhan konten digital, tetapi juga mengedepankan keberlanjutan dan kualitas ruang publik.
“Dengan integrasi data yang akurat dan perencanaan wilayah yang terarah, Bekasi kini bersiap menjadi pemimpin dalam pasar pariwisata urban di Jawa Barat, menyasar generasi yang menghargai keindahan sekaligus makna dari sebuah perjalanan,” kata Yudhitia selaku tim pemasaran The Ascott Limited tersebut.
Tren ini menandai pergeseran cara Generasi Muda memaknai perjalanan. Bekasi, yang selama ini identik sebagai kota penyangga, kini perlahan membangun citra baru sebagai destinasi urban yang layak masuk daftar liburan singkat generasi Z.










