Profil Ryan Peake dari Jeruji Besi ke Fairway Hijau, Kisah Kedua dari Seorang Juara
Senin, 6 Oktober 2025 | 10:18
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Antaranews
Pegolf profesional asal Australia, Ryan Peake, bukan sekadar atlet yang piawai mengayunkan stik golf. Di balik setiap pukulan yang presisi, tersimpan perjalanan hidup yang penuh luka, pembelajaran, dan kebangkitan. Bagi Peake, golf bukan hanya olahraga, tapi juga cermin keseimbangan hidup, kompas yang menuntunnya kembali ke arah yang benar setelah sempat kehilangan kendali.
“Golf bagi saya adalah semacam keseimbangan kehidupan. Saya terus berusaha dan melakukannya sebaik mungkin. Itu memberikan pengetahuan yang saya butuhkan untuk meningkatkan level kehidupan saya, untuk memberikan arah yang benar kepada saya,” ujarnya dalam konferensi pers jelang Mandiri Indonesia Open 2025 di Pondok Indah Golf Course, Jakarta, 27 Agustus 2025.
Dari Gelap Penjara Menuju Terang Lapangan Golf
BACA JUGA
Hideki Matsuyama Menutup Musim dengan Gelar Hero World Challenge Lewat Drama Playoff
Laba Bersih GOLF Tumbuh 22,7% di Q3-2025, Didorong Kinerja Operasional Golf dan Efisiensi Biaya
Luxury on the Green, Eksplorasi 5 Lapangan Golf Paling Eksklusif di Jabodetabek
Kisah Ryan Peake tak dimulai dari fairway yang rapi, melainkan dari balik jeruji besi. Lima tahun hidup di penjara karena kasus penyerangan saat menjadi anggota geng motor menjadikannya sosok yang berbeda. Namun, golf justru menjadi medium penyelamatnya, tempat ia menebus masa lalu dan menulis ulang masa depan.
Dukungan pelatih Richie Smith menjadi penentu arah baru dalam hidupnya. Smith bukan hanya mengasah teknik pukulan, tapi juga mengembalikan keyakinan Peake pada dirinya sendiri.
“Semua pujian yang saya dapatkan karena bermain golf, mestinya itu untuk dia. Dialah yang mengarahkan masa depan untuk saya,” ungkap Peake dengan nada penuh rasa hormat.
Gaya Bermain dan Filosofi Hidup
Usai menjuarai New Zealand Open 2025, Peake dikenal sebagai pegolf dengan gaya bermain yang berani, namun tetap penuh perhitungan. Ia bermain di garis tipis antara agresif dan hati-hati, mencerminkan filosofi hidupnya yang terbentuk dari pengalaman jatuh-bangun.
“Menurut saya ada garis yang jelas antara agresif dan bodoh. Jika pukulannya bagus dan saya nyaman dengan pukulan itu, tentu saya akan mencoba melakukannya. Jika saya sedikit ragu, saya mestinya tidak bermain-main dengan pukulan itu,” ujarnya.
Sisi Lain Ryan Peake: Rock, Tato, dan Nasi Goreng
Di luar lapangan, Peake adalah sosok yang tak biasa. Lengan bertato penuh membuatnya tampil kontras di dunia golf yang lekat dengan kesan konservatif. Ia juga dikenal dekat dengan dunia musik rock di Australia. Namun, di tengah gaya hidup dan karier globalnya, Peake tetap punya sisi sederhana. Saat datang ke Jakarta, ia mengaku terkesan dengan nasi goreng dan keramahan lokal yang ditemuinya.
“Saya rasa saya akan lebih banyak mengelap keringat saat bermain golf. Saya tidak terlalu yakin, saya bukan penggemar suhu lembab, namun ini tidak seburuk yang saya duga saat tiba di sini,” ujarnya sembari tertawa.
Dalam dunia golf yang kerap terasa steril dan kaku, Ryan Peake hadir membawa cerita yang lebih manusiawi. Ia bukan hanya simbol ketepatan dan kekuatan, tetapi juga contoh nyata bahwa perjalanan hidup, seperti permainan golf, selalu tentang menemukan keseimbangan antara keberanian dan ketenangan. (Antara)










