ID EN

Bukan Paris atau Tokyo, Ini Destinasi dengan Pertumbuhan Wisata Tercepat 2026

Senin, 16 Februari 2026 | 18:07

Penulis: Respaty Gilang

Piramida
Piramida di Mesir salah satu daya tarik wisata.
Sumber: Canva

Kalau selama ini Eropa Barat atau kota-kota besar Asia jadi primadona Liburan, tren 2026 menunjukkan arah yang berbeda. Wisatawan dunia kini mulai melirik destinasi yang punya identitas kuat, budaya autentik, dan pengalaman yang belum terlalu “ramai”.

Data terbaru dari UN Tourism mencatat lebih dari 1,5 miliar wisatawan internasional bepergian pada 2025. Angka itu naik 4% secara global dan diprediksi mencetak rekor baru di 2026. Menariknya, lonjakan terbesar justru terjadi di negara-negara yang sebelumnya belum terlalu mainstream.

Dari Afrika hingga Amerika Selatan, berikut destinasi yang mencuri perhatian dunia.

Mesir: Magnet Baru Berkat Grand Egyptian Museum

Mesir mencatat pertumbuhan 20% kunjungan internasional. Salah satu pemicunya adalah akhirnya dibukanya Grand Egyptian Museum di dekat Piramida Giza setelah penantian lebih dari dua dekade.

Museum ini menjadi daya tarik baru yang membuat wisatawan lama kembali, sekaligus menarik generasi traveler baru. Ditambah lagi, persepsi keamanan yang membaik dan antusiasme menyambut gerhana matahari 2027 membuat Mesir semakin dilirik.

Menariknya, tren di Mesir kini bergeser ke Slow Travel. Banyak wisatawan memilih berlayar dengan dahabiyas (perahu tradisional kayu) di Sungai Nil, bukan Kapal Pesiar besar. Pengalaman jadi lebih intim dan tidak terburu-buru.

Brasil: Pusat Budaya dan Kuliner Dunia

Brasil mencatat lonjakan tertinggi, yaitu 37%. Konektivitas udara yang semakin baik dan promosi internasional yang agresif membuat negara ini kembali masuk radar traveler global.

Tapi bukan cuma soal pantai Copacabana atau Patung Kristus Penebus. Kota seperti São Paulo kini jadi pusat budaya dan kuliner dunia. Belém, di wilayah Amazon, juga mulai dikenal lewat pasar tradisional Ver-o-Peso dan eksplorasi bahan pangan unik dari hutan hujan.

Yang menarik, profil wisatawan berubah. Kini banyak conscious luxury traveler datang ke Brasil — mereka yang mencari pengalaman alam, wellness, dan interaksi dengan komunitas lokal.

Ethiopia: Surga Sejarah dan Petualangan Afrika

Ethiopia mencatat pertumbuhan 15% dan menjadi salah satu yang paling bersinar di Afrika.

Negara ini menawarkan kombinasi arkeologi, sejarah kuno, dan lanskap dramatis. Gereja batu Lalibela, arsitektur abad pertengahan Gondar, hingga Pegunungan Simien dengan monyet gelada langka jadi magnet utama.

Setelah sempat terdampak konflik beberapa tahun lalu, kini Ethiopia bangkit dengan infrastruktur wisata yang lebih baik dan promosi internasional yang agresif.

Traveler Muda yang suka hiking, sejarah, dan budaya otentik mulai memasukkan Ethiopia dalam bucket list mereka.

Seychelles: Honeymoon dan Wellness Traveler

Seychelles tumbuh 13% dan membuktikan bahwa destinasi kepulauan kecil pun bisa bersaing.

Selama ini identik dengan honeymoon, kini Seychelles menarik keluarga dan wellness traveler. Selain pantai berpasir putih, wisatawan bisa hiking ke air terjun, snorkeling, menikmati kuliner kreol, hingga ikut tarian tradisional Moutya.

Menariknya lagi, negara ini melindungi 30% wilayah lautnya dan tidak memiliki pantai privat. Semua pantai terbuka untuk umum, termasuk warga lokal.

Bhutan: Destinasi untuk Menemukan Makna

Bhutan mencatat kenaikan 30%, meski tetap memegang prinsip “high value, low volume”. Negara ini mengenakan biaya pembangunan berkelanjutan sekitar 100 dolar AS per malam untuk menjaga kualitas dan keberlanjutan.

Bhutan bukan destinasi untuk checklist cepat. Di sini, traveler diajak duduk bersama biksu senior, belajar menenun tekstil tradisional, atau tinggal di lembah terpencil.

Filosofi Gross National Happiness yang dianut Bhutan membuat perjalanan terasa lebih reflektif. Cocok untuk kamu yang ingin jeda dari hiruk-pikuk dunia.

Kenapa Destinasi Ini Tumbuh Cepat?

Menurut para pelaku industri travel global, wisatawan kini mencari:

  • Budaya yang autentik
  • Lanskap unik dan belum jenuh
  • Pengalaman personal dan bermakna
  • Slow travel dan koneksi dengan komunitas lokal

Destinasi dengan identitas kuat dan akses penerbangan yang membaik menjadi pemenang.