Luxury Sport Tourism Mandalika: MotoGP dan Pameran Budaya NTB yang Memukau Dunia
Minggu, 5 Oktober 2025 | 10:41
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Antaranews
Gelaran MotoGP Mandalika 2025 bukan sekadar panggung balapan berkecepatan tinggi, tetapi juga perayaan budaya dan pariwisata kelas dunia. Di tengah deru mesin para pembalap internasional, Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) menghadirkan nuansa berbeda melalui pameran budaya “Lombok–Sumbawa Museum of Civilization”, yang menampilkan sisi lain dari pesona Mandalika, memadukan olahraga, warisan, dan kebanggaan lokal dalam satu lanskap destinasi premium.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyebut pameran tersebut sebagai langkah cerdas dalam memperkaya ekosistem wisata olahraga di NTB.
“Saya kira ini sangat bagus sekali. Pemerintah NTB memanfaatkan betul momentum ajang internasional di mana orang dari seluruh dunia datang,” ujar Susiwijono dalam pernyataan di Mataram, Minggu, 5 Oktober 2025.
BACA JUGA
Nonton MotoGP Dapat Bonus Budaya: Dari Arca Kuno hingga Kain Eksotis NTB
Kejuaraan Dunia Foto dan Video Bawah Laut 2026 Siap Ledakkan Sport Tourism Indonesia
Mandalika, Jakarta, Danau Toba: Surga Sports Tourism Nusantara
Pada 4 Oktober 2025, Susiwijono menyambangi Sirkuit Mandalika di Lombok Tengah untuk meninjau perkembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika sekaligus menyaksikan sprint race MotoGP. Di sela kunjungannya, ia juga menyempatkan diri menikmati pameran budaya tersebut, sebuah ruang yang merangkum jejak peradaban dan estetika Nusa Tenggara Barat.
Pameran ini menampilkan tiga kategori utama yakni, sejarah, seni rupa, dan wastra, yang merefleksikan kekayaan peradaban Lombok dan Sumbawa. Di antara koleksinya, pengunjung bisa menemukan artefak sejarah Suku Sasak, kain tenun tradisional, hingga naskah kuno yang menggambarkan identitas masyarakat setempat.
“Mungkin acara-acara yang lain juga harus ada yang seperti ini (pameran budaya),” kata Susiwijono.
Warisan Budaya di Tengah Balapan Dunia
Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam, menjelaskan bahwa pameran ini tak hanya menampilkan benda budaya, tetapi juga peristiwa bersejarah besar yang pernah mengguncang dunia, salah satunya erupsi Gunung Samalas pada tahun 1257.
“Letusan Samalas adalah peristiwa besar dalam sejarah peradaban manusia. Abu vulkaniknya menyebar hingga hampir menutupi separuh dunia,” papar Nuralam.
Selain itu, Museum NTB juga menghadirkan miniatur tiga dimensi letusan Gunung Samalas–Rinjani dan Tambora, kain tembe songke khas Bima, kre alang khas Sumbawa, serta Arca Siwa Mahadewa dan naskah Babat Lombok. Semua karya tersebut bukan sekadar pajangan, melainkan simbol perjalanan panjang manusia dalam menjaga harmoni antara alam, spiritualitas, dan seni.
Naskah Babat Lombok merekam kisah bencana sekaligus menegaskan pentingnya tradisi tulis-menulis dalam melestarikan memori kolektif. Sementara Arca Siwa Mahadewa mencerminkan kedalaman spiritual masyarakat masa lampau yang menjadi fondasi bagi kehidupan budaya di NTB saat ini.
Adapun tembe songke dan kre alang menjadi representasi keanggunan serta ketangguhan perempuan Bima dan Sumbawa, yang keindahannya kini diakui dunia. Kedua kain tersebut bahkan pernah tampil di Islamic Arts Biennale di Jeddah pada awal tahun 2025, yang sekaligus menandai langkah nyata budaya NTB di panggung global.
“Koleksi-koleksi itu disatukan menghadirkan kisah utuh tentang sebuah peradaban yang dibangun di atas interaksi manusia, alam, dan kepercayaan,” pungkas Nuralam.
Sport Tourism yang Menyentuh Rasa
Perpaduan balapan dunia dan pameran budaya di Mandalika menjadi representasi dari arah baru pariwisata Indonesia bukan sekadar hiburan, tapi pengalaman menyeluruh yang menggabungkan adrenalin, estetika, dan nilai sejarah. Bagi wisatawan kelas menengah atas, ini adalah kesempatan menikmati keindahan NTB dalam dua dimensi, sensasi kecepatan dan kedalaman budaya.
Dengan konsep sport tourism yang semakin matang, Mandalika kini tak hanya menjadi sirkuit bertaraf internasional, melainkan juga destinasi premium yang menghadirkan narasi “luxury meets authenticity.” (Antara)










