ID EN

Mandalika, Jakarta, Danau Toba: Surga Sports Tourism Nusantara

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:00

Penulis: Respaty Gilang

Lari Mandalika
Peserta ajang Mandalika Last Sunday Run 2025 saat berlari di Sirkuit Pertamina Mandalika, Nusa Tenggara Barat di Lombok Tengah.
Sumber: Antaranews

Di penghujung 2025, langkah strategis diambil Kementerian Pariwisata bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga lewat penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pengembangan sports tourism. Kolaborasi ini menegaskan satu hal penting, Wisata Olahraga kini bukan sekadar tren musiman, melainkan bagian dari peta besar pariwisata dan ekonomi Indonesia.

Buat Generasi Muda yang hobi jalan-jalan sambil tetap aktif, sports tourism menawarkan pengalaman berbeda. Liburan bukan cuma soal foto estetik, tapi juga soal ikut event, adrenalin, dan cerita seru yang layak dibawa pulang. 

Lalu, apa sebenarnya sports tourism dan kenapa Indonesia begitu serius menggarapnya?

Sports Tourism, Liburan Aktif yang Jadi Gaya Hidup

Menurut UN Tourism, sports tourism adalah aktivitas wisata yang melibatkan perjalanan untuk mengikuti atau menyaksikan Event Olahraga. Sektor ini terus tumbuh pesat. Pada 2023, sports tourism menyumbang sekitar 10% dari total belanja wisata global dan diproyeksikan melonjak hingga 17,5% pada 2030.

Dari sisi perilaku wisatawan, survei Expedia mencatat 44% pelancong bersedia bepergian ke luar negeri demi menonton atau ikut event olahraga, dengan rata-rata pengeluaran mencapai US$1.500 per kunjungan. Artinya, sports tourism bukan hanya soal pengalaman, tapi juga punya nilai ekonomi tinggi.

Indonesia berada di posisi yang sangat menguntungkan. Survei Nielsen 2025 menunjukkan 86% masyarakat Indonesia kini lebih proaktif menjaga kesehatan, jauh di atas rata-rata global. Tren ini membuat event lari, sepeda, triathlon, yoga, hingga festival wellness semakin relevan dan diminati, terutama oleh generasi muda.

Mandalika, Etalase Sports Tourism Indonesia

Jika membicarakan sports tourism kelas dunia, Mandalika di Nusa Tenggara Barat hampir selalu jadi contoh utama. Kawasan Destinasi Pariwisata Prioritas ini berhasil naik kelas lewat penyelenggaraan MotoGP Mandalika.

Dampaknya bukan sekadar ramai penonton. Data Indonesia Tourism Outlook menunjukkan okupansi hotel berbintang di NTB meningkat dari 33,51% pada 2021 menjadi 40,39% pada 2024. Hotel nonbintang pun ikut merasakan lonjakan signifikan. 

Dari sisi ekonomi, Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika menargetkan investasi Rp4,43 triliun pada 2025. Sementara secara sosial, angka kemiskinan di Lombok Tengah berhasil ditekan dari 13,44% pada 2020 menjadi 12,07% pada 2024. Mandalika membuktikan bahwa sports tourism bisa menggerakkan banyak sektor sekaligus.

Pocari Sweat Run Mandalika, Lari dengan Sensasi Berbeda

Masih dari Mandalika, Pocari Sweat Run Mandalika 2025 menghadirkan pengalaman unik yang sulit ditandingi. Ini menjadi ajang lari pertama yang digelar di sirkuit MotoGP, menghadirkan sensasi berlari di atas salah satu aspal terbaik dunia.

Event ini diikuti ribuan pelari dengan pilihan kategori 4,3 km, 10K, half marathon, hingga marathon. Sekitar 70% peserta datang dari luar Lombok, dan perputaran ekonomi yang dihasilkan mencapai Rp85,5 miliar. Bagi kamu yang ingin menggabungkan lari dan Liburan Pantai, event ini layak masuk kalender. Edisi berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 11–12 Juli 2026.

Danau Toba, Balapan Air dengan Latar Alam Ikonik

Tak hanya Mandalika, Danau Toba juga menjelma menjadi magnet sports tourism. Sepanjang 2025, dua event internasional digelar di kawasan ini, yakni Aquabike Jetski World Championship dan F1 Powerboat Lake Toba.

Puluhan pembalap dari berbagai negara hadir, menjadikan Danau Toba tak hanya indah secara visual, tetapi juga hidup sebagai panggung olahraga dunia. Menariknya, kedua event ini digelar gratis dan menjadi bagian dari perayaan HUT Kemerdekaan RI, sehingga masyarakat lokal dan wisatawan bisa menikmati langsung atmosfernya.

Jakarta International Marathon, Menyusuri Ikon Ibu Kota

BTN Jakarta International Marathon atau JAKIM menawarkan pengalaman urban sports tourism yang tak kalah seru. Lebih dari 30 ribu pelari ambil bagian dalam event berlabel World Athletics Label Road Races ini.

Sensasinya unik, start dari kawasan Monas dan finis di dalam Stadion Utama GBK. Selama event berlangsung, hotel-hotel di sekitar rute dipadati peserta, sementara sektor kuliner, transportasi, hingga hiburan ikut bergerak. JAKIM membuktikan bahwa kota besar pun bisa menjadi destinasi sports tourism yang atraktif.

Petualangan Ekstrem dan Alam Terbuka

Sports tourism Indonesia tidak melulu soal lari di jalan raya. Untuk pencinta tantangan, Paragliding Accuracy World Cup 2025 di Lombok menghadirkan adrenalin dengan peserta dari delapan negara. Sementara itu, trail running menjadi pilihan favorit bagi mereka yang ingin menyatu dengan alam.

Event seperti Rinjani100, Merbabu Skyrace, Dieng Caldera Race, hingga MesaStila menawarkan kombinasi medan menantang dan panorama spektakuler, dari pantai hingga puncak gunung. Setiap event bukan hanya lomba, tapi juga perjalanan yang meninggalkan kesan mendalam.

Sports tourism kini berkembang menjadi paket lengkap, liburan, gaya hidup sehat, pengalaman unik, sekaligus penggerak ekonomi. Dari Mandalika hingga Danau Toba, dari jalanan kota sampai jalur gunung, Indonesia punya semua yang dibutuhkan untuk menjadi destinasi sports tourism unggulan. Tinggal satu pertanyaan, event mana yang bakal kamu kejar tahun ini?

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!