Potensi Long-Stay Turis Arab Saudi Target Pariwisata Indonesia
Sabtu, 22 November 2025 | 11:42
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Freepik
Indonesia tengah menaruh perhatian serius pada pasar wisatawan Arab Saudi, sebuah segmen yang dinilai memiliki potensi besar bagi pertumbuhan pariwisata nasional. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) melihat bahwa karakter wisatawan Saudi yang gemar melakukan perjalanan bersama keluarga, menyukai akomodasi mewah, serta cenderung melakukan perjalanan panjang (long-stay) dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf, Ni Made Ayu Marthini, menyampaikan bahwa pemerintah sedang menjalin kerja sama dengan Kementerian Haji Arab Saudi untuk mengoptimalkan arus kunjungan wisatawan menuju Indonesia.
"Kita lagi bekerja sama dengan Kementerian Haji (soal ini). Tentu bagaimana ini bisa dialihkan mereka jadi berkunjung ke Indonesia. Karena terus terang sampai saat ini mereka tahunya kan Bali lagi, mungkin Jakarta, Jawa Barat mereka tahu," ujar Made.
BACA JUGA
Diplomasi Wisata Indonesia Makin Kuat, Arab Saudi Jadi Mitra Kunci di Timur Tengah
Traveling Lintas Iman dan Benua Lewat Film 'Pengin Hijrah'
Mengungkap Fakta Turun Salju di Jabal al-Lawz, Arab Saudi yang Viral di Media Sosial
Musim haji menjadi momentum strategis karena wisatawan Arab Saudi kerap memanfaatkan periode tersebut untuk sekaligus berlibur ke berbagai negara. Indonesia berupaya memperluas pilihan destinasi yang mereka ketahui sehingga tidak hanya terpusat pada Bali atau Puncak, tetapi juga kawasan lain yang menawarkan pengalaman alam, budaya, dan layanan berkualitas tinggi.
Alam Sejuk, Hotel Mewah, dan Pengalaman Asri
Menurut Made, wisatawan Arab Saudi memiliki karakter dan preferensi yang cukup spesifik. Mereka cenderung mengeluarkan pengeluaran besar untuk menginap di hotel-hotel berkelas internasional.
"Misalnya kalau di Bali ada beberapa. Mereka ke St. Regis, Jumeirah, itu yang bintang tujuh. Itu yang dicari, jadi karena enggak masalah dan mereka memang layanan itu harus mewah, jadi itu hal yang lumrah," jelasnya.
Selain akomodasi premium, lanskap alam yang hijau serta cuaca yang sejuk menjadi daya tarik kuat. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi geografis negara asal mereka yang didominasi gurun dan iklim panas. Oleh karena itu, kawasan seperti Puncak, Bandung, Malang, hingga daerah-daerah berhawa dingin lain menjadi destinasi favorit.
"Dia (wisatawan Arab Saudi) sangat suka hujan, jadi ketika kita kehujanan, dia malah mau melihat. Jadi, dia suka yang lucu-lucu," kata Ketua Umum ASITA, Rusmiati.
Ia juga bercerita pernah membawa turis Saudi ke Pelabuhan Ratu, dan mereka justru menikmati perjalanan sederhana menggunakan mobil tanpa permintaan fasilitas transportasi khusus. Selain cuaca, wisatawan Saudi juga menyukai kuliner autentik yang dianggap memiliki manfaat kesehatan, serta destinasi yang menonjolkan unsur alami seperti laut, pepohonan hijau, dan suasana pedesaan.
Peluang Ekonomi dari Tren Long-Stay
Berbeda dari banyak wisatawan lain, turis Arab Saudi lebih sering memilih untuk berlibur dalam durasi panjang. Tren long-stay ini berpotensi memberi kontribusi signifikan bagi berbagai sektor pariwisata, termasuk akomodasi, restoran, pusat perbelanjaan, hingga destinasi wisata lokal.
Selain itu, karakter mereka sebagai big spender menjadikan pasar Saudi salah satu segmen yang paling berpotensi meningkatkan devisa pariwisata Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada 2024, jumlah wisatawan Arab Saudi yang berkunjung ke Indonesia mencapai 135.643 orang. Angka ini masih berada di bawah capaian 2019, yakni 157.512 wisatawan.
Meski mengalami penurunan dibanding masa pra-pandemi, angka tersebut justru mengindikasikan adanya ruang pertumbuhan yang besar. Dengan strategi promosi yang lebih intensif dan pemahaman mendalam mengenai preferensi wisatawan Saudi, Indonesia berpeluang memperkuat posisinya sebagai destinasi utama bagi pasar Timur Tengah.










