Mengungkap Fakta Turun Salju di Jabal al-Lawz, Arab Saudi yang Viral di Media Sosial
Senin, 22 Desember 2025 | 19:41
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Canva
Saat foto dan video Jabal al-Lawz bersalju ramai beredar di media sosial, banyak orang di luar Arab Saudi terkejut. Gambaran lanskap yang biasanya diidentikkan dengan gurun pasir berubah drastis menjadi hamparan putih seperti wilayah Alpen atau Skandinavia. Salju menutupi puncak dan lereng pegunungan, suhu turun di bawah titik beku, dan warga lokal maupun wisatawan melakukan aktivitas musim dingin yang jarang terjadi di wilayah Semenanjung Arab. Namun, fenomena ini sesungguhnya bukan hal aneh yang banyak dibayangkan orang.
Jabal al-Lawz sendiri merupakan puncak tertinggi di wilayah Tabuk, Arab Saudi bagian barat laut, dengan elevasi mencapai sekitar 2.580 meter di atas permukaan laut. Ketinggian ini sangat berbeda dengan oase gurun di sekitarnya, sehingga iklimnya pun cenderung lebih dingin dan rentan terhadap fenomena Cuaca Ekstrem, termasuk salju.
Sebagai salah satu gunung tertinggi di Jamaah Arab Arabia, penyebutan “Jabal” berarti gunung, sedangkan “al-Lawz” bermakna almond, merujuk pada keberadaan pohon almond di kawasan tersebut.
BACA JUGA
Potensi Long-Stay Turis Arab Saudi Target Pariwisata Indonesia
Jadwal Resmi Piala Asia 2027 Resmi Diumumkan AFC
Arab Saudi Buka Toko Alkohol Pertama di Riyadh, Aturan Ketat untuk Pembeli Diterapkan
Terlepas dari nama atau legenda yang mengelilinginya, yang menarik perhatian publik belakangan ini adalah bagaimana fenomena salju di sana menjadi sorotan global, terutama ketika suhu dilaporkan turun hingga di bawah minus derajat Celcius dan lanskap gersang berubah sepenuhnya.
Lukisan Putih di Tengah Padang Pasir
Fenomena turun salju di Jabal al-Lawz memang menciptakan pemandangan yang kontras dengan citra Arab Saudi yang selama ini dikenal dunia. Biasanya berita tentang negeri gurun akan dipenuhi oleh suhu ekstrem di siang hari yang menjulang, gersangnya hamparan pasir, serta panas yang mungkin tak tertahankan bagi pengunjung luar. Namun, di wilayah utara seperti Tabuk, berbeda.
Menurut laporan dari berbagai media internasional dan otoritas meteorologi Arab Saudi, salju turun di Jabal al-Lawz karena kombinasi ketinggian gunung dan massa udara dingin yang bergerak dari wilayah Mediterania.
Massa udara dingin ini membawa curah hujan dan suhu yang jauh lebih rendah daripada iklim gurun biasa di Arab Saudi. Dalam beberapa kejadian, suhu di puncak Jabal al-Lawz bahkan mencapai di bawah minus 4 derajat Celsius saat salju turun, fenomena yang mampu mengubah lanskap seketika menjadi putih berselimut salju.
Fenomena seperti ini memang jarang terjadi di sebagian besar wilayah Saudi Arabia, tetapi bukan berarti aneh atau tanpa dasar meteorologis. Tabuk, wilayah di mana Jabal al-Lawz berada, memang sudah dikenal memiliki iklim yang lebih dingin terutama pada musim dingin. Salju tertangkap turun secara musiman setiap tahun di daerah pegunungan utara Saudi, termasuk Jabal al-Lawz, Hail, dan Al-Jouf. Hal ini disebabkan oleh posisi geografisnya yang dekat dengan perbatasan Yordania dan dataran tinggi yang lebih rentan terhadap massa udara dingin dari Mediterania dan utara Afrika.
Seperti dijelaskan oleh laporan cuaca dan lembaga meteorologi di Saudi, setiap musim dingin (Desember hingga Februari), wilayah ini memang berpotensi menerima salju ringan atau bahkan salju tebal di puncak pegunungan.
Jadi meskipun salju di Arab Saudi sering dipandang luar biasa atau viral di media sosial, secara ilmiah salju di Jabal al-Lawz adalah bagian dari siklus cuaca regional yang alami.
Sebagai perbandingan, banyak pegunungan di dunia yang berada pada elevasi tinggi juga mengalami salju tahunan, bahkan dalam zona yang secara umum memiliki iklim panas di daerah rendahnya. Contoh ini mirip dengan salju di pegunungan tropis seperti Andes atau Kilimanjaro, di mana ketinggian menjadi faktor dominan yang mengubah suhu dan pola curah hujan secara drastis.
Dari Wisata Musim Dingin Hingga Objektif Meteorologi
Ketika salju menutupi lereng Jabal al-Lawz, fenomena itu tidak hanya menarik perhatian global karena kontrasnya terhadap lanskap gurun yang biasanya diidentikkan dengan Saudi Arabia. Salju juga telah menjadi magnet Pariwisata musim dingin yang unik di kawasan ini, bahkan sebelum viralnya fenomena terkini.
Beberapa laporan menyebutkan bahwa salju tahunan di Jabal al-Lawz telah menarik wisatawan, penduduk lokal, dan pencinta alam untuk menikmati pengalaman yang jarang terjadi di Timur Tengah. Aktivitas yang biasa dilakukan termasuk bermain salju, mengambil foto lanskap putih, hingga menjelajahi jalur pendakian yang kini diselimuti salju.
Dalam beberapa musim dingin sebelumnya, masyarakat dan pengunjung bahkan melakukan kegiatan seperti hiking atau bergembira di tengah hamparan salju yang turun secara musiman. Hal ini menunjukkan bahwa salju sebenarnya telah menjadi bagian dari siklus alam di wilayah tertentu dalam Arab Saudi, bukan hanya fenomena sekali muncul dan lenyap begitu saja.
Meski begitu, cuaca ekstrem seperti salju tebal tetap membutuhkan kewaspadaan. Otoritas setempat seperti National Center for Meteorology telah mengeluarkan peringatan cuaca dan himbauan keselamatan saat fenomena ini terjadi. Mereka mengingatkan tentang potensi hujan es, angin kencang, serta kondisi jalan yang licin akibat pembentukan es di pegunungan.
Sepanjang pekan terakhir, fenomena ini membuat puncak Jabal al-Lawz berubah menjadi objek wisata musiman yang menarik. Suasana gurun yang biasanya panas berubah menjadi lapangan bermain musim dingin, dan hal ini memperkaya wawasan tentang keragaman iklim kerajaan yang lebih luas daripada sekedar gurun yang dipenuhi matahari terik.
Dalam beberapa video yang beredar di dunia maya, masyarakat terlihat bermain ski improvisasi, mengambil foto bersama keluarga, atau sekadar menikmati dinginnya udara yang seharusnya asing bagi wilayah gurun tropis. Representasi ini memperlihatkan bagaimana salju tidak hanya menjadi fenomena meteorologi, tetapi juga bagian pengalaman hidup di kawasan tinggi yang khas musim dingin.
Salju di Jabal al-Lawz Bukan Kejutan Tanpa Akar
Viralnya foto dan video Jabal al-Lawz yang diselimuti salju telah memancing kekaguman global. Namun jika dilihat dari perspektif ilmiah, fenomena ini bukan sekadar fenomena meteorologi aneh yang baru muncul, melainkan ekspresi nyata dari iklim pegunungan di wilayah utara Arab Saudi pada musim dingin.
Salju tahunan di pegunungan seperti Jabal al-Lawz memang lebih jarang terjadi dibanding salju di wilayah iklim sedang atau dingin, tetapi hal itu telah tercatat dan dialami secara berkala selama musim dingin. Suhu ekstrem, massa udara dingin dari Mediterania, serta elevasi tinggilah yang menjadi faktor penyebabnya, bukan kebetulan tanpa alasan ilmiah.
Dengan demikian, fenomena salju di Jabal al-Lawz bukan hanya pemandangan langka yang layak dicatat media sosial, tetapi juga bagian dari kompleksitas iklim regional yang sering terlupakan dalam narasi umum tentang Arab Saudi sebagai negeri gurun. Pengalaman ini menunjukkan bahwa bumi menyimpan beragam kejutan alam yang menunggu untuk dipelajari — dan kadang, untuk dinikmati.










