ID EN

Traveling Lintas Iman dan Benua Lewat Film 'Pengin Hijrah'

Minggu, 26 Oktober 2025 | 21:10

Penulis: Respaty Gilang

Film Pengin Hijrah
Film Pengin Hijrah menggabungkan perjalanan spiritual pencarian makna hidup dengan visual eksotis lintas negara.
Sumber: Instagram: penginhijrah.film

Ada kalanya perjalanan bukan cuma soal jarak yang ditempuh, tapi juga tentang bagaimana kita menemukan versi terbaik dari diri sendiri. Lewat film “Pengin Hijrah”, sutradara Jastis Arimba mencoba menggabungkan dua hal yang sama-sama menggugah, perjalanan spiritual dan pengalaman visual lintas negara.

Film ini dijadwalkan tayang pada 30 Oktober 2025, membawa penonton menelusuri jejak hijrah, bukan sekadar dalam konteks religius, tapi juga dalam arti mencari makna hidup, dengan lanskap eksotis yang membentang dari Indonesia hingga Uzbekistan.

Sebelumnya, film Indonesia memang beberapa kali mencoba menembus batas geografis. Kita masih ingat “Eiffel... I’m in Love” (2003) yang mengambil Paris sebagai latarnya, atau “Sore: Istri Dari Masa Depan” (2025) yang syuting di Kroasia dan Finlandia. Tapi “Pengin Hijrah” terasa berbeda—lebih personal, lebih bernuansa perjalanan batin ketimbang sekadar pamer destinasi indah.

Melangkah Antara Dua Dunia: Dari Belitung ke Samarkand

Diproduksi oleh Sinemata Pictures dan Multi Buana Kreasindo (MBK) Production, film ini menampilkan paduan dua kultur yang jarang bersinggungan dalam sinema Indonesia, Asia Tenggara dan Asia Tengah.

Cerita diangkat dari novel populer karya Hengki Kumayandi, yang bercerita tentang Alina Saraswati (Steffi Zamora) seorang selebgram yang hidupnya tampak sempurna di dunia maya, tapi sebenarnya rapuh di dunia nyata. Di tengah badai hidup dan pencarian makna, ia bertemu Omar (Endy Arfian), mahasiswa Indonesia yang menjadi sosok penuntun spiritual dan emosionalnya.

Pertemuan itu mengantar keduanya pada perjalanan penuh simbol, dari hiruk pikuk Jakarta, ke udara tropis Belitung, hingga angin dingin Samarkand di Uzbekistan.

Lokasi-lokasi ini bukan sekadar latar belakang cantik. Belitung mengingatkan pada era kejayaan “Laskar Pelangi”, film yang dulu menyalakan gairah pariwisata daerah itu. Sementara Uzbekistan membawa kita ke jantung peradaban Islam, Samarkand, Bukhara, dan Tashkent, tempat kisah dan sejarah berpadu dengan spiritualitas.

Di antara pemandangan biru pantai Belitung dan keagungan arsitektur Imam Bukhari di Samarkand, film ini menciptakan kontras visual yang memanjakan mata, tropis dan dingin, cerah dan kontemplatif.

Temur Mirzaev, aktor sekaligus Advisor Menteri Pariwisata Uzbekistan, bahkan menyebut film ini sebagai “kendaraan promosi yang efektif untuk negaranya”, sebuah bentuk pengakuan bahwa sineas Indonesia kini sudah punya kelas dunia.

Antara Romansa, Hijrah, dan Tantangan Diri

Secara naratif, “Pengin Hijrah” tak sekadar menyajikan kisah cinta. Film ini menyentuh dilema yang sangat dekat dengan realitas anak muda hari ini, keinginan untuk berubah, tapi terjebak dengan masa lalu yang terus memanggil.

Tokoh Joe (Daffa Wardhana) mewakili “lingkaran lama” Alina—masa lalu yang berisik dan sulit dilepaskan. Sementara Omar menjadi lambang masa depan yang lebih tenang dan penuh makna. Di sisi lain, karakter Aisyah (Nadzira Shafa) memberi sentuhan hangat dengan menunjukkan pentingnya support system dalam setiap proses perubahan.

Menariknya, perjalanan Alina tidak hanya fisik tapi juga metaforis. Setiap tempat yang dikunjunginya menjadi refleksi dari tahapan hijrah. Jakarta yang kacau menggambarkan kebingungan, Belitung yang hangat melambangkan harapan baru, dan Uzbekistan yang bersejarah menandai puncak pencarian spiritualnya.

Endy Arfian disebut melakukan riset mendalam, termasuk belajar bahasa dan budaya Uzbek agar perannya terasa autentik. Steffi Zamora pun tampil meyakinkan sebagai perempuan yang berjuang menyeimbangkan luka, ego, dan niat baik.

Kehadiran aktris senior Adolat Kimsanova dari Uzbekistan sebagai nenek Omar memberi warna tersendiri. Dengan pengalaman 50 tahun di dunia seni peran, Adolat mengaku tertantang memerankan karakter nenek agresif untuk pertama kalinya, dan hasilnya tak mengecewakan.

Ketika Film Jadi Jendela Wisata dan Jiwa

“Pengin Hijrah” sejatinya adalah film perjalanan dalam arti sesungguhnya. Ia membawa kita menjelajahi dua dunia, dunia luar yang penuh keindahan, dan dunia dalam yang penuh perenungan.

Visual Uzbekistan yang eksotik dan Belitung yang memesona membuat film ini bukan cuma tontonan, tapi juga undangan untuk berwisata. Buat para traveler muda yang suka budaya, sejarah, dan spiritual journey, film ini bisa jadi inspirasi untuk menambah destinasi di bucket list, dari pantai Tanjung Tinggi hingga Registan Square di Samarkand.

Secara keseluruhan, “Pengin Hijrah” berhasil menjadi lebih dari sekadar film romansa. Film ini potret tentang perjalanan manusia dengan latar dunia yang indah dan batin yang bergejolak. Sebuah karya yang membuktikan bahwa film bisa jadi paspor menuju pemahaman diri dan dunia yang lebih luas.