Jalur Pendakian Arjuno-Welirang Ditutup, Ini Penjelasan Tahura Raden Soerjo
Rabu, 19 November 2025 | 12:13
Penulis: Arif S

Sumber: Antara/Vicki Febrianto
Lereng sejuk Gunung Arjuno dan Welirang di Jawa Timur menyuguhkan keindahan hutan pegunungan, padang sabana, hingga kawah belerang yang terus bernafas. Namun pada November 2025, dua gunung ini memasuki fase keheningan. Bukan karena sepi pendaki, tetapi karena alam meminta waktu untuk dipulihkan.
Unit Pengelola Teknis (UPT) Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo resmi menutup total jalur pendakian Gunung Arjuno dan Welirang sebagai respons atas prakiraan cuaca ekstrem dari BMKG.
Keputusan ini bukan sekadar administrasi tetapi langkah penyelamatan, baik bagi manusia maupun ekosistem pegunungan.
BACA JUGA
Pendakian dan Wisata Gunung Gede-Pangrango Ditutup Sementara Saat Lebaran
BMKG Imbau Pelaku Wisata Labuan Bajo Waspadai Peningkatan Curah Hujan
Anti Mainstream, Ini 7 Destinasi Hijau Terindah di Dunia
Musim Hujan, Angin Kencang dan Petir
Pintu pendakian via Lawang, Sumber Brantas, Tretes, dan Tambaksari sementara ditutup. Plt Kepala UPT Tahura Raden Soerjo, Agustiningtyas Marini menjelaskan alasan utamanya.
"Memasuki musim hujan disertai angin kencang dan petir, terhitung 16 November seluruh aktivitas pendakian Gunung Arjuno dan Welirang ditutup sementara waktu, mempertimbangkan untuk menjaga keselamatan pendaki," ujar Agustiningtyas.
Cuaca ekstrem di ketinggian bukan sekadar hujan deras. Setiap tahun, lereng Arjuno-Welirang menghadapi potensi longsor, jalur licin, pohon tumbang, serta hempasan angin yang mampu mengubah perjalanan pendakian menjadi situasi berbahaya dalam hitungan menit.
Keputusan penutupan adalah bentuk penghormatan pada alam yang sedang bergerak liar dan tak terduga.
Bukan Hanya Soal Cuaca: Saatnya Ekosistem Beristirahat
Selain ancaman cuaca ekstrem, UPT Tahura Raden Soerjo juga menegaskan penutupan ini memberi ruang bagi hutan untuk pulih.
Pemulihan vegetasi, pemulihan tanah yang tererosi, hingga stabilisasi satwa liar adalah siklus penting yang sering tak terlihat para pendaki.
Dengan tidak adanya aktivitas manusia, kawasan hutan dapat kembali bernafas bebas, kesempatan yang jarang didapatkan di gunung populer seperti Arjuno-Welirang.
Penutupan ini hingga batas waktu yang belum ditentukan. Pembukaan jalur baru akan dilakukan hanya jika situasi kembali kondusif.
Patroli Ketat: Menjaga Gunung dari Aktivitas Ilegal
Selama periode penutupan, para petugas tetap bekerja. Patroli dilakukan setiap hari untuk memastikan tak ada celah bagi perburuan liar, penebangan ilegal, maupun pendakian tanpa izin.
"Untuk pendaki ilegal ada patroli di jalur pendakian dan titik-titik yang rawan dilewati pendaki ilegal," katanya.
Beberapa Jalur Wisata Masih Dibuka, Namun Tetap Waspada
Tidak semua ditutup. Beberapa destinasi seperti Puncak Lincing, Gunung Pundak, Bukit Cendono, Bukit Semar, Watu Jengger, serta area wisata religi masih dibuka dengan pengecualian. Namun, ada catatan penting dari UPT Tahura:
"Pendakian ditutup sewaktu-waktu jika kondisi cuaca tidak memungkinkan atau tidak kondusif," ucapnya.
Artinya, para wisatawan tetap harus bijak membaca cuaca, memperhatikan informasi resmi, dan memahami bahwa keselamatan adalah prioritas utama.
Menyelami Kebijaksanaan Gunung
Penutupan jalur pendakian Arjuno–Welirang bukanlah penghalang, tetapi jeda. Jeda untuk menghormati musim, untuk melindungi diri, dan untuk membiarkan alam memperbaiki dirinya.
Bagi para pencinta alam, ini waktu untuk belajar bahwa hubungan manusia dan gunung bukan hanya soal penaklukan puncak, tetapi juga tentang memahami kapan harus berhenti melangkah.
Ketika nantinya jalur dibuka kembali, Arjuno dan Welirang akan menyambut kembali para pendakinya mungkin dengan wajah lebih sehat, lebih indah, dan lebih siap untuk diceritakan.(Antara)***










