ID EN

BMKG Imbau Pelaku Wisata Labuan Bajo Waspadai Peningkatan Curah Hujan

Kamis, 18 Desember 2025 | 13:06

Penulis: Arif S

Labuan Bajo
Pesona keindahan Labuan Bajo.
Sumber: Envato

Labuan Bajo selama ini dikenal sebagai gerbang menuju Taman Nasional Komodo, sebuah lanskap eksotis dengan laut biru, perbukitan savana, dan matahari terbenam yang ikonik. Namun, di balik pesonanya, musim hujan 2025 membawa tantangan tersendiri bagi warga, nelayan, dan pelaku wisata di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan agar kewaspadaan ditingkatkan menyusul peningkatan curah hujan di musim hujan tahun ini. 

Kepala Stasiun Meteorologi Komodo, Maria Seran, menyebut kondisi tersebut tak bisa dipandang sebelah mata, terlebih karena dipengaruhi fenomena iklim global. Ia mengimbau masyarakat, termasuk nelayan dan para pelaku wisata, untuk meningkatkan kewaspadaan.

Menurut BMKG, musim hujan di Manggarai Barat kali ini turut dipengaruhi fenomena La Nina lemah dan kerap disertai pembentukan bibit siklon tropis. 

Kombinasi ini berpotensi meningkatkan intensitas hujan, baik di darat maupun di wilayah perairan sekitar Labuan Bajo, area yang menjadi nadi aktivitas Pariwisata bahari.

Wilayah Manggarai Barat telah resmi memasuki musim hujan. BMKG memprakirakan potensi curah hujan tinggi terjadi di sejumlah kecamatan, di antaranya Lembor, Lembor Selatan, Sano Nggoang, Mbeliling, Welak, dan Kuwus. 

Dalam tiga hari terakhir, Kota Labuan Bajo pun tercatat diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

Maria Seran menekankan pentingnya langkah mitigasi, khususnya bagi pelaku wisata yang banyak beraktivitas di laut dan alam terbuka.

“Upaya mitigasi dapat dilakukan masyarakat dengan memantau informasi dan peringatan dini BMKG, menunda aktivitas laut saat cuaca buruk, serta ketika beraktivitas di darat mewaspadai potensi banjir dan longsor, terutama saat terjadi hujan berdurasi panjang," ujarnya, Selasa 16 Desember 2025.

Di sisi pemerintah daerah, Wakil Bupati Manggarai Barat, Yulianus Weng mengatakan pihaknya meminta para kepala desa di 12 kecamatan agar proaktif melaporkan setiap kejadian bencana alam kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

BPBD Manggarai Barat telah menyiapkan posko antisipasi dampak Cuaca Ekstrem untuk periode musim hujan 2025 hingga awal 2026. 

Surat imbauan telah diedarkan kepada para kepala desa dan camat guna meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem.

Yulianus menjelaskan, setiap laporan bencana akan segera ditindaklanjuti personel BPBD. Jika penanganan lanjutan diperlukan, kejadian tersebut dilaporkan ke pemerintah daerah untuk penetapan status bencana melalui surat keputusan bupati.

“Pemerintah daerah ada dana tidak terduga (BTT), tapi pemanfaatan dana ada mekanismenya yakni mereka lapor segera, BPBD setelah turun lokasi tetapkan sebagai bencana, lalu buat segera ke bupati untuk tetapkan sebagai bencana,” jelasnya.

Hampir seluruh wilayah Manggarai Barat berpotensi terdampak cuaca ekstrem. Di perairan Kecamatan Komodo dan Boleng, gelombang tinggi berisiko mengganggu pelayaran wisata. 

Sementara di daratan, ancaman longsor, angin puting beliung, hingga banjir bandang perlu diantisipasi.

Sebagai langkah tambahan, pada November 2025 pemerintah daerah telah menginstruksikan Dinas Kesehatan setempat untuk menyediakan obat-obatan di seluruh kecamatan. Langkah ini ditujukan untuk mengantisipasi berbagai penyakit yang kerap muncul selama musim hujan.(ANTARA)