Pencak Silat Unjuk Gigi di ISG Riyadh 2025: Dari Warisan Nusantara ke Panggung Dunia
Sabtu, 8 November 2025 | 12:00
Penulis: Pudila

Sumber: Antara
Pencak silat kembali mencuri sorotan.
Kali ini, pencak silat melakukan unjuk gigi di panggung Islamic Solidarity Games (ISG) 2025 di Riyadh. Meski hanya berstatus demonstration sport, kehadirannya jadi bukti bahwa warisan bela diri khas Indonesia ini tak sekadar tentang jurus dan tendangan, tetapi juga mengenai jati diri bangsa yang kini menembus batas budaya dan benua.
Di balik tampilnya pencak silat di ISG 2025, ada kerja panjang dari Persilat, PB IPSI, dan NOC Indonesia. Mereka bukan sekadar membawa olahraga ini keluar negeri, tetapi membawa jiwa Nusantara ikut berkelana.
BACA JUGA
Riyadh, Suara Sorak dan Doa di Langit Arab
Perenang Muda Adellia Persembahkan Emas Pertama Indonesia di ISG 2025
Sejarah Riyadh yang Kini Menjadi Tuan Rumah ISG 2025
“Walaupun sifatnya demo sport, kami mempersiapkannya sebaik event resmi. Ini bagian dari menjaga marwah pencak silat sebagai olahraga warisan budaya yang mendidik, beretika, dan penuh nilai,” ujar Teddy Suratmadji, Sekjen PB IPSI dan Persilat.
ISG 2025 menghadirkan 19 atlet dari sembilan negara yang berlaga di empat nomor pertandingan, yaitu kelas C (55–60 kg) dan D (60–65 kg) putra dan putri. Upacara pembukaannya pun penuh filosofi. Tradisi “buka gelanggang” menjadi simbol keseimbangan antara seni dan sportivitas. Di sana, pencak silat tampil bukan cuma sebagai bela diri, melainkan juga ekspresi budaya.
Yang menarik, walau berstatus ekshibisi, pelaksanaannya dikelola dengan standar profesional. Ini bagian dari langkah strategis menuju multievent dunia seperti Youth Olympic Games Dakar 2026. Perkembangan pencak silat juga makin terasa di Asia Tengah. Negara-negara seperti Uzbekistan, Kazakhstan, dan Kyrgyzstan kini aktif membina atlet-atlet pencak silat muda.
Menurut Teddy, hal ini tak lepas dari diplomasi olahraga yang dijalankan NOC Indonesia bersama Persilat dan PB IPSI.
“Kita optimistis pencak silat akan terus naik kelas. Setelah tampil di Asian Youth Games Bahrain dan memberi medali perak untuk tuan rumah, kini giliran ISG jadi panggungnya. Ini langkah nyata,” tegasnya.
Namun, yang paling menggembirakan datang dari Timur Tengah. Semangat pencak silat mulai tumbuh di sana. Mazen Alzahrani, atlet Arab Saudi, mengaku jatuh cinta setelah menonton video pertandingan silat dari Indonesia dan Malaysia.
“Awalnya saya dari Muaythai, tapi pencak silat terasa lebih lengkap. Ia menuntut kekuatan, kecepatan, dan pikiran, ada koneksi khusus di dalamnya,” ujarnya.
Fenomena ini menegaskan, bahwa pencak silat kini bukan lagi milik Indonesia saja. Ia sudah menjadi bahasa universal tentang keseimbangan, etika, dan rasa hormat.
Dan melalui ISG Riyadh 2025, pencak silat tidak hanya unjuk gigi, tetapi juga menegaskan langkahnya menuju dunia, dengan kepala tegak dan akar yang tetap menjejak tanah Nusantara.










