ID EN

Gen Z Kuasai Dunia Wisata, Menpar Widiyanti Beberkan Rahasia Tren Baru Pariwisata Indonesia

Sabtu, 1 November 2025 | 10:30

Penulis: Arif S

Pacu Jalur
Pacu Jalur kini menjadi bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN) 2025.
Sumber: Antara/HO-Pemprov Riau)

Suara tawa di pantai, bidikan kamera ponsel yang tak henti merekam momen, dan unggahan cepat ke media sosial. Begitulah wajah baru pariwisata dunia saat ini. Bukan lagi brosur atau pamflet yang memengaruhi pilihan destinasi, tetapi konten kreator, ulasan digital, dan algoritma kecerdasan buatan (AI) yang membentuk peta perjalanan wisatawan masa kini.

Fenomena ini, menurut Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, lahir dari perubahan besar dalam demografi wisatawan global.

“Ada perubahan demografi, gen Z dan milenial kini menjadi motor baru pertumbuhan pariwisata dunia dengan minat pariwisata paling tinggi. Karena itu, kita perlu menghadirkan pengalaman yang sesuai dengan preferensi mereka,” ujar Widiyanti dalam Tourism Outlook di Jakarta, Rabu.

Pergeseran Tren Wisata: Dari Brosur ke Feed Sosial

Widiyanti menjelaskan, saat ini telah terjadi tiga pergeseran besar dalam tren pariwisata global, yaitu sumber wisatawan, demografi, dan pola pemilihan destinasi.

Dari sisi demografi, generasi muda seperti Gen Z dan milenial lebih aktif mencari inspirasi perjalanan melalui media sosial. Mereka gemar menonton konten para kreator untuk mengetahui ulasan suatu destinasi, bahkan kini mulai memanfaatkan AI generatif untuk merencanakan perjalanan mereka secara personal.

“52 persen gen Z rela mengeluarkan uang lebih untuk pengalaman berwisata jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya, misalnya baby boomers (yang hanya 29 persen). Perubahan ini membuka peluang besar bagi promosi pariwisata Indonesia,” katanya.

Generasi ini tidak sekadar mencari tempat yang indah, tapi pengalaman yang bermakna dan bisa dibagikan, mulai dari sensasi kuliner lokal hingga interaksi dengan budaya setempat.

Promosi Digital Berbasis Pengalaman

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana.
Sumber: Antara/Hreeloita Dharma Shanti

Menurut Widiyanti, peluang besar terbuka jika Indonesia mampu menyesuaikan cara promosi pariwisatanya dengan karakter generasi ini. Pendekatan yang digital, interaktif, dan berbasis pengalaman nyata dinilai lebih efektif menjangkau pasar global.

Salah satu contoh sukses adalah Pacu Jalur, yang kini menjadi bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN) 2025.

“Pacu Jalur meraih puluhan juta impresi di media sosial dan menarik 1,6 juta pengunjung karena promosinya disesuaikan dengan cara generasi muda dalam mencari informasi dan menekankan pengalaman yang autentik,” kata Widiyanti.

Pacu Jalur bukan hanya lomba perahu tradisional, tapi juga kisah tentang semangat, budaya, dan kebersamaan masyarakat. Inilah jenis pengalaman yang dicari oleh generasi muda, autentik, emosional, dan membekas.

Destinasi Baru dan Detour Menarik

Selain pergeseran demografi, perubahan juga terjadi pada pola pemilihan destinasi. Tempat-tempat yang sebelumnya bukan top of mind kini mulai diminati, terutama destinasi detour atau lokasi yang berdekatan dengan tujuan utama.

“Hal ini disebabkan karena wisatawan mencari pengalaman baru di destinasi unik yang berbeda dari destinasi utama,” jelas Widiyanti.

Misalnya, wisatawan yang berkunjung ke Bali kini tertarik melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi untuk merasakan sisi lain Pulau Jawa, dari pantai eksotis hingga hutan tropis yang masih asri.

“Berdekatan ini juga memungkinkan kita untuk memaksimalkan potensi wisatawan intra-regional dengan mendorong mereka untuk tinggal lebih lama dan menjelajahi lebih banyak tempat di Indonesia,” katanya.

Menatap Masa Depan Wisata Indonesia

Dengan kekayaan alam dan budaya yang begitu beragam, Indonesia berada di posisi strategis untuk memimpin tren wisata berbasis pengalaman di kawasan Asia Tenggara. 

Terlebih, tren perjalanan intra-regional di kawasan ini diprediksi meningkat dari 24 persen pada 2023 menjadi 30 persen pada 2030.

“Ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mengemas ulang dan memperkaya produk wisata. Menggabungkan destinasi populer dengan destinasi MICE di sekitarnya, menciptakan paket wisata yang lebih autentik,” kata Widiyanti.

Kini, tantangan sekaligus peluang bagi industri pariwisata Indonesia adalah bagaimana menghadirkan pengalaman yang dekat, digital, dan menggugah, sesuai dengan selera generasi yang tumbuh bersama internet, tapi tetap rindu akan keaslian budaya dan alam Nusantara.