ID EN

Wisata Religi dan Pelestarian Mangrove: Perpaduan Harmoni Budaya dan Alam di Jantung Bali

Rabu, 29 Oktober 2025 | 17:00

Penulis: Arif S

Cultural and Nature Site Visit di Taman Hutan Raya Denpasar, Bali
Cultural and Nature Site Visit di Taman Hutan Raya Denpasar, Bali.
Sumber: Antara/HO-Humas Pemkot Denpasar

Tak hanya dikenal dengan pantainya yang memesona, Kota Denpasar kini juga semakin menonjolkan wajah lain yang tak kalah menawan, wisata religi dan alam berbasis kearifan lokal. Hal itu terlihat saat Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara mengenalkan dua destinasi unggulan, Puri Agung Jero Kuta dan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, kepada para delegasi forum Executive Committee Meeting CityNet Asia Pacific ke-45.

Dua destinasi ini seolah menjadi representasi sempurna dari semangat Denpasar, kota yang berakar kuat pada budaya, namun maju dalam menjaga keseimbangan alam dan lingkungan.

Puri Agung Jero Kuta: Jejak Leluhur di Tengah Denpasar Modern

Kunjungan pertama para delegasi diawali ke Puri Agung Jero Kuta. Suasana khas Bali langsung terasa begitu mereka disambut Tari Pendet, tarian selamat datang yang lembut sekaligus penuh makna.

Di tempat bersejarah yang berdiri sejak abad ke-18 ini, para tamu mendapat penjelasan tentang makna setiap bangunan puri, mulai dari Nista Mandala Puri, Jaba Sisi, Jaba Tengah, hingga Utama Mandala.

Penglingsir Puri Agung Jro Kuta, I Gusti Ngurah Jaka Pratidnya atau akrab disapa Turah Joko, menjelaskan puri ini menjadi simbol penting dalam perjalanan sejarah dan spiritual masyarakat Denpasar.

Selain menjadi saksi peradaban masa lalu, Puri Agung Jero Kuta juga menunjukkan bagaimana nilai-nilai Tri Hita Karana, keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam terus dijaga di tengah pesatnya modernisasi kota.

Tahura Ngurah Rai: Menjaga Napas Hijau Bali

Usai menyelami nilai-nilai budaya di puri, rombongan melanjutkan perjalanan ke Tahura Ngurah Rai, kawasan mangrove yang dulunya menjadi salah satu venue utama KTT G20.

Di sini, para delegasi dikenalkan pada manfaat tanaman mangrove bagi ekosistem pesisir dan peran pentingnya dalam mencegah perubahan iklim. 

Tak hanya belajar, mereka juga turut serta dalam penyerahan bibit mangrove dari CityNet kepada Pemerintah Kota Denpasar, simbol kolaborasi antara kota-kota Asia Pasifik dalam menjaga bumi.

Sekretaris Jenderal CityNet Asia Pasifik, Vijay Jagannathan, mengaku kagum. 

“Tentu sangat luar biasa, bangunan yang sangat apik, terawat sebagai kebudayaan masyarakat, dan kawasan Tahura Manggrove yang merupakan upaya berkelanjutan menjaga ekosistem pesisir dan keberlanjutan dalam mencegah perubahan iklim,” ujarnya.

Harmoni yang Berakar dari Kearifan Lokal

Wali Kota Jaya Negara menjelaskan, kunjungan ini merupakan bagian dari agenda Cultural and Nature Site Visit, yang selaras dengan tema besar “Building Harmony Rooted in Local Wisdom” atau Membangun Harmoni yang Berakar pada Kearifan Lokal.

“Semoga melalui Cultural and Nature Site Visit ini dapat memperkenalkan Denpasar di kancah internasional, dan mampu memberikan inspirasi kepada kota-kota dunia untuk kemajuan bersama,” harapnya.

Melalui kegiatan ini, Denpasar ingin menunjukkan pada dunia bahwa kemajuan kota bukan berarti meninggalkan akar budaya. Justru, budaya dan alam bisa berjalan seiring sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.

Denpasar, Kota Warisan yang Menatap Masa Depan

Langit senja menutup kunjungan hari itu dengan nuansa hangat. Puri yang teduh dan hutan mangrove yang hijau seolah berdialog dalam diam, mengingatkan wisata bukan hanya soal tempat indah, tapi juga tentang nilai dan harmoni.

Dengan langkah kecil namun bermakna seperti ini, Denpasar tak hanya memperkuat posisinya sebagai heritage city, tapi juga mengirim pesan kuat ke dunia, kebudayaan dan alam adalah dua sisi yang tak terpisahkan dari masa depan Bali.(Antara)