ID EN

Candi Perwara Dipugar, Plaosan Siap Jadi Magnet Wisata Baru

Jumat, 24 Oktober 2025 | 10:30

Penulis: Arif S

Fadli Zon
Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Sumber: Antara/Rahid Putra Laksana)

Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan Candi Perwara Deret II No 19 di Situs Candi Plaosan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah yang baru saja rampung dipugar, Kamis 23 Oktober 2025. Pemugaran candi ini dilakukan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X.

“Kalau kita lihat ini adalah pencapaian luar biasa, apalagi candi ini dibangun pada masa abad IX. Mungkin prosesnya dari abad VIII, sehingga menjadi simbol harmoni, toleransi, kemajuan peradaban nusantara pada masa itu,” ujar Fadli Zon.

Bagi banyak orang, Candi Plaosan bukan sekadar tumpukan batu berlumut yang dipahat ribuan tahun silam. Ia adalah jejak sejarah yang hidup, tentang kisah pertemuan dua peradaban besar, Hindu dan Budha, yang pada masanya berpadu dalam harmoni dan menghasilkan keindahan karya arsitektur.

Menjaga Warisan dari Masa ke Masa

Pemugaran Candi Perwara atau Candi Pendamping merupakan bagian dari upaya panjang Kementerian Kebudayaan untuk melestarikan peninggalan budaya abad IX Masehi. 

Proyek ini dilakukan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X, melibatkan tim ahli arkeologi dan konservasi untuk memastikan setiap batu, setiap pahatan, dan setiap lapisan ditempatkan sesuai aslinya.

Kementerian menyebut, program seperti ini adalah kelanjutan dari tradisi pelestarian yang telah dimulai sejak masa pemerintahan Belanda yang diteruskan hingga kini, dengan semangat menjaga warisan leluhur bangsa.

Pemugaran candi berukuran 4,89 meter x 4,89 meter dengan tinggi 7,26 meter ini memerlukan ketelitian luar biasa. Terdiri dari 36 lapisan batu andesit, proses rekonstruksi dilakukan sepenuhnya menggunakan dana APBN tahun 2024 dan 2025 dengan total Rp1,475 miliar.

Dari Pemugaran ke Pengembangan

Tak hanya meresmikan candi, Fadli Zon juga menandai dimulainya tahap pertama pengembangan lanskap Situs Candi Plaosan. 

Langkah ini diharapkan bisa meningkatkan aksesibilitas dan kenyamanan bagi pengunjung, tanpa menghilangkan nilai spiritual dan sejarah yang melekat pada kawasan ini.

Pengembangan kawasan Plaosan akan mengusung konsep “Harmony in Diversity”, sebuah gagasan yang mencerminkan keberagaman dalam sejarah, agama, dan seni yang melekat pada situs ini.

Melalui penataan entrance, area parkir, dan fasilitas wisata budaya, pemerintah ingin menjadikan Plaosan sebagai destinasi yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai kebersamaan dan toleransi yang telah menjadi ruh Nusantara sejak berabad-abad lalu.

Simbol Harmoni di Tengah Zaman Modern

Di tengah arus modernisasi yang serba cepat, upaya memugar dan menghidupkan kembali candi-candi kuno seperti Plaosan bukan hanya soal melestarikan benda mati.

Ini adalah cara untuk menyambungkan masa lalu dengan masa kini, agar generasi modern tetap punya pijakan sejarah yang kokoh.(Antara)