ID EN

Sembalun Tak Lagi Sekadar Jalur Rinjani, Kini Punya Agrowisata yang Bikin Traveler Betah

Minggu, 19 Juli 2026 | 18:00

Penulis: Respaty Gilang

Taman bunga di Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Taman bunga di Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Sumber: AntaraNews

Di Sembalun, Lombok Timur, perjalanan tak lagi hanya tentang mencapai puncak Gunung Rinjani. Kawasan dataran tinggi di kaki gunung tertinggi kedua di Indonesia itu kini menghadirkan wajah baru sebagai destinasi agrowisata yang memadukan panorama alam, aktivitas pertanian, serta budaya lokal dalam satu pengalaman perjalanan.

Berada di ketinggian sekitar 1.100 hingga 1.300 meter di atas permukaan laut, Sembalun menawarkan udara sejuk, bentang lahan pertanian yang luas, serta lanskap pegunungan yang menjadi salah satu panorama paling ikonik di Nusa Tenggara Barat.

Kini, para pelancong memiliki lebih banyak alasan untuk menghabiskan waktu lebih lama di desa ini.

Taman Bunga yang Mengubah Wajah Sembalun

Salah satu magnet baru adalah Taman Bunga Sembalun yang tumbuh dari mimpi sederhana seorang warga bernama Junaidi.

Di tengah hamparan ladang hortikultura, kebun bunga seluas sekitar setengah hektare itu menjadi lokasi favorit wisatawan untuk menikmati warna-warni bunga krisan dengan latar megah Gunung Rinjani.

Cerita di balik taman ini pun sederhana namun inspiratif.

"Kami tanam bunga sedikit demi sedikit dan terkadang beli bunga ke rumah-rumah warga, beli tanam, beli tanam, ternyata bagus, mendatangkan banyak pengunjung," ucap Junaidi, sembari mengenang proses pembentukan Taman Bunga Sembalun yang berlangsung lima tahun silam.

Keberadaan taman bunga membuktikan bahwa daya tarik Sembalun tidak hanya bergantung pada pendakian gunung. Ribuan wisatawan kini datang untuk menikmati suasana pedesaan yang tenang, mengabadikan momen di tengah hamparan bunga, hingga menikmati matahari sore yang menyinari lereng Rinjani.

Bagi pencinta fotografi maupun pemburu konten media sosial, lokasi ini menjadi salah satu spot terbaik di Lombok Timur.

Lebih dari Sekadar Berfoto, Rasakan Menjadi Petani Sehari

Namun masa depan pariwisata Sembalun sesungguhnya tidak berhenti pada panorama.

Konsep yang mulai berkembang adalah agrowisata berbasis pengalaman (experiential tourism), sebuah tren wisata dunia yang mengajak wisatawan ikut terlibat langsung dalam kehidupan masyarakat lokal.

Alih-alih hanya berjalan di tengah ladang, wisatawan diajak memahami bagaimana sayuran yang mereka konsumsi tumbuh sejak masih berupa bibit.

Pagi hari dimulai dengan menyusuri pematang sawah yang masih dipenuhi embun. Bersama para petani, pengunjung belajar memilih bibit, menanam sayuran, merawat tanaman, hingga memahami pentingnya kesabaran dalam proses bertani.

Pengalaman berlanjut dengan memanen hasil kebun secara langsung. Sayuran segar yang baru dipetik kemudian diolah menjadi santapan makan siang khas Sembalun.

Aktivitas sederhana ini menghadirkan pengalaman yang jauh lebih bermakna dibanding sekadar berburu foto.

Traveler membawa pulang cerita, pengetahuan, sekaligus penghargaan baru terhadap kerja keras para petani yang menjadi bagian penting dalam rantai pangan dunia.

Model wisata seperti ini juga memberi dampak ekonomi langsung kepada masyarakat karena membuka sumber pendapatan baru di luar hasil panen.

Alam Indah, Tapi Air Masih Menjadi Tantangan

Di balik kesuburan lahan pertanian, Sembalun masih menghadapi tantangan besar berupa ketersediaan air bersih.

Juru Bicara Pemerintah Provinsi NTB, Ahsanul Khalik, mengatakan sistem irigasi menjadi kebutuhan penting agar sektor pertanian dapat berkembang lebih optimal.

Selama ini masyarakat mengandalkan sumur bor dan pertanian tadah hujan. Padahal sumber air tersedia di kawasan pegunungan, hanya saja penyalurannya memerlukan dukungan infrastruktur karena berada di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani.

Peningkatan infrastruktur tersebut diyakini akan memperkuat posisi Sembalun sebagai destinasi wisata sekaligus sentra pertanian unggulan.

Tradisi Sapi Umbaran yang Sulit Ditemukan di Tempat Lain

Selain pertanian, Sembalun juga menyimpan tradisi unik yang jarang ditemukan di destinasi wisata lain.

Banyak keluarga di desa ini memelihara sapi dengan sistem umbaran, yakni melepas ternak merumput bebas di perbukitan seperti Bukit Kanji dan Bukit Dandaun.

Yang menarik, setiap peternak memiliki panggilan khas untuk sapi-sapi miliknya.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB, Muhamad Riadi, mengaku terkesan melihat tradisi tersebut.

Meski ratusan bahkan ribuan sapi berada di padang rumput yang sama, hanya sapi milik peternak bersangkutan yang akan menghampiri ketika mendengar panggilan khusus itu.

Tradisi turun-temurun tersebut menunjukkan hubungan erat antara manusia, alam, dan hewan ternak yang masih terjaga hingga sekarang.

Bagi wisatawan, pengalaman menyaksikan sapi umbaran bukan hanya menjadi atraksi unik, tetapi juga kesempatan memahami kehidupan masyarakat Sembalun secara autentik.

Destinasi yang Layak Dinikmati Lebih Lama

Selama ini Sembalun dikenal sebagai gerbang menuju Gunung Rinjani. Padahal kawasan ini memiliki potensi jauh lebih besar.

Hamparan ladang bunga, kebun hortikultura, aktivitas bertani, kuliner berbahan hasil panen segar, hingga budaya sapi umbaran menjadikan Sembalun sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman lengkap.

Inilah arah baru pariwisata berkualitas—wisata yang tidak hanya menghasilkan foto indah, tetapi juga meninggalkan pengalaman, pengetahuan, dan kedekatan dengan kehidupan masyarakat lokal.

Bagi traveler yang mencari perjalanan penuh makna, Sembalun bukan sekadar tempat singgah sebelum mendaki Rinjani. Desa ini layak menjadi destinasi utama untuk menikmati wajah asli dataran tinggi Lombok yang masih alami, hangat, dan kaya cerita.

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!