ID EN

Inside Los Angeles Stadium, Venue Futuristik Piala Dunia 2026

Minggu, 19 Juli 2026 | 16:28

Penulis: Rojes Saragih

Inglewood - Piala Dunia 2026 sedang berlangsung. Di berbagai kota, stadion bergemuruh oleh nyanyian suporter dan drama 90 menit yang menyita perhatian dunia.

Namun di Los Angeles, ada satu hari yang berjalan sedikit berbeda.

Hari itu, Los Angeles Stadium tidak menggelar pertandingan. Gerbangnya lengang. Tidak ada antrean, tidak ada lautan jersey, tidak ada suara genderang dari tribun.

Saat itu, reporter ITSMe, Raisha, tiba di Los Angeles Stadium, nama resmi yang digunakan FIFA selama Piala Dunia 2026 untuk stadion yang sehari-hari dikenal sebagai SoFi Stadium.

Dalam keheningan itu, stadion justru terasa lebih hidup.

Kanopi transparan membentang begitu luas hingga seolah melayang di udara. Sesekali pesawat menuju Bandara Internasional Los Angeles (LAX) melintas rendah di atasnya. Orang-orang yang datang bukan untuk menonton pertandingan tetap berhenti, mendongak, lalu mengabadikan bangunan itu dengan telepon genggam mereka.

Raisha memang tidak sedang menyaksikan pertandingan di stadion ini. Namun jeda di tengah hiruk-pikuk Piala Dunia justru memberinya kesempatan melihat sesuatu yang sering luput: kemegahan sebuah stadion ketika sepak bola sedang tidak dimainkan.

Los Angeles Stadium menjadi salah satu venue utama Piala Dunia 2026 dengan menggelar delapan pertandingan, terdiri atas lima laga fase grup, dua babak 32 besar, dan satu perempat final.

Dua tahun mendatang, stadion ini kembali menjadi pusat perhatian sebagai lokasi upacara pembukaan Olimpiade Los Angeles 2028 bersama LA Memorial Coliseum, sekaligus venue cabang olahraga renang.

Dibuka pada September 2020, stadion ini lahir dari investasi sekitar US$5–6 miliar, menjadikannya salah satu stadion olahraga termahal yang pernah dibangun.

Keistimewaannya bukan hanya pada ukuran.

Kanopi permanen berbahan ETFE membiarkan cahaya matahari masuk, sementara sisi stadion tetap terbuka sehingga menghadirkan pengalaman semi-terbuka yang berbeda dari kebanyakan venue Piala Dunia.

Di tengah arena menggantung Infinity Screen, layar video oval dua sisi yang termasuk salah satu terbesar di dunia. Bahkan saat stadion kosong, ukurannya sudah cukup membuat siapa pun terpaku.

Sulit membayangkan bagaimana suasananya ketika lebih dari 70 ribu penonton memenuhi tribun.

Ada pula kisah menarik di balik konstruksinya. Karena berada di jalur penerbangan menuju LAX, stadion ini dibangun sekitar 30 meter di bawah permukaan tanah agar tidak melampaui batas ketinggian bangunan.

Solusi itu justru melahirkan bentuk futuristik yang membuat banyak orang menjulukinya "The Spaceship."

Los Angeles Stadium berdiri di jantung Hollywood Park, kawasan terpadu seluas hampir 300 acre yang memadukan stadion, hotel, pusat perbelanjaan, perkantoran, ruang publik, dan area hiburan.

Stadion berkapasitas dasar 70.240 penonton ini juga menjadi kandang Los Angeles Rams dan Los Angeles Chargers, sekaligus pernah menjadi tuan rumah Super Bowl, WrestleMania, hingga konser Taylor Swift dan Beyoncé.

Pengalaman Raisha mengelilingi stadion ini kemudian menjadi salah satu bahasan dalam Podcast Seputar Piala Dunia 2026 produksi ITSMe.

Bersama host Syafira dan Dila dari Studio ITSMe di Sentul, Bogor, ia bercerita tentang sisi lain sebuah venue Piala Dunia—tetap memesona, bahkan ketika peluit pertandingan belum berbunyi.

Saat Raisha meninggalkan Hollywood Park, stadion itu masih sunyi. Piala Dunia tetap berjalan, hanya saja bukan di sini hari itu.

Dalam beberapa hari, tribun yang kini kosong akan kembali bergemuruh oleh puluhan ribu suporter dari berbagai penjuru dunia. Namun bahkan dalam keheningan, Los Angeles Stadium sudah mampu meninggalkan kesan yang sulit dilupakan.