Inggris Menutup Luka dengan Perunggu, Prancis Pulang Membawa Sejarah
Minggu, 19 Juli 2026 | 12:00
Penulis: Rojes Saragih

Sumber: ITSMe
Medali perunggu bukanlah target yang dibawa Inggris ke Piala Dunia 2026. Mimpi tampil di final sirna setelah Three Lions disingkirkan Argentina di semifinal.
Namun, di Hard Rock Stadium, Miami Gardens, Florida, AS, Minggu (19/7/2026), mereka menemukan cara untuk menutup turnamen dengan kepala tegak. Kemenangan dramatis 6-4 atas Prancis memang bukan trofi yang mereka impikan, tetapi memberi penutup yang pantas bagi perjalanan mereka di Piala Dunia 2026.
Hasil itu bukan hanya mengakhiri turnamen dengan kemenangan. Inggris juga untuk pertama kalinya memenangi laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia dan membukukan finis terbaik sejak menjadi juara dunia pada 1966.
BACA JUGA
Hattrick Saka Antar Inggris Bungkam Prancis 6-4 dan Rebut Posisi Ketiga Piala Dunia 2026
Kylian Mbappe Sindir Gaya Main Paraguay: Kami Juga Tahu Caranya Bermain Kotor
Michael Olise Ukir Sejarah, Catat Assist Terbanyak Pecahkan Rekor Pele
Bagi Prancis, kekalahan itu tidak berarti pulang dengan tangan hampa. Kylian Mbappe tetap memimpin perburuan Golden Boot setelah mencetak dua gol, sementara Michael Olise mengakhiri turnamen dengan tujuh assist, melewati catatan enam assist yang selama ini dikaitkan dengan Pele pada Piala Dunia 1970.
Laga yang kerap dipandang sebagai pelipur lara justru menghadirkan cerita berbeda. Inggris menemukan penawar atas kegagalan menuju final, sedangkan Prancis menutup turnamen dengan dua pencapaian individu yang kemungkinan akan dikenang lebih lama daripada hasil pertandingan itu sendiri.
Inggris menjawab kritik dengan permainan menyerang
Kekalahan 1-2 dari Argentina di semifinal meninggalkan banyak pertanyaan bagi Inggris. Thomas Tuchel menjadi sasaran kritik setelah timnya gagal mempertahankan keunggulan dan kehilangan tiket menuju partai puncak.
Di Miami, pelatih asal Jerman itu merespons dengan keberanian.
Tuchel merombak susunan pemain dengan menurunkan tujuh starter baru dibanding laga semifinal. Rotasi ini menghadirkan energi baru dan membuat Inggris langsung menekan sejak menit-menit awal.
Hasilnya terlihat cepat. Declan Rice membuka keunggulan, disusul gol Ezri Konsa, sebelum Bukayo Saka mencetak dua gol yang membawa Three Lions menutup babak pertama dengan keunggulan 4-0.
Keunggulan besar itu sempat memberi kesan pertandingan telah usai. Prancis ternyata memiliki rencana berbeda.
Bradley Barcola memulai kebangkitan Les Bleus, lalu Mbappe mencetak dua gol yang memangkas ketertinggalan menjadi 4-3 hanya dalam rentang sekitar 20 menit babak kedua.
Ketika tekanan mulai beralih kepada Inggris, Saka kembali memperlebar keunggulan melalui eksekusi penalti. Ousmane Dembele sempat memperkecil skor menjadi 5-4 pada masa injury time, sebelum Jude Bellingham memastikan kemenangan Inggris lewat gol penutup yang mengubah skor menjadi 6-4.
Sepuluh gol yang tercipta menjadikan pertandingan ini sebagai laga perebutan tempat ketiga dengan skor tertinggi dalam sejarah Piala Dunia.
Medali perunggu yang memberi makna
Kemenangan di Miami tidak menghapus kekecewaan Inggris karena gagal mencapai final. Namun, hasil itu memberi makna baru bagi perjalanan mereka di Amerika Utara.
Three Lions akhirnya mematahkan catatan buruk setelah kalah dalam laga perebutan tempat ketiga pada edisi 1990 dan 2018. Mereka juga mengakhiri turnamen dengan pencapaian terbaik sejak mengangkat trofi Jules Rimet enam dekade silam.
Bagi Tuchel, kemenangan ini juga menjadi jawaban atas kritik yang mengiringi kekalahan di semifinal. Meski belum berhasil membawa Inggris ke partai puncak, ia menunjukkan bahwa timnya memiliki karakter untuk bangkit ketika tekanan sedang berada di titik tertinggi.
Saka menuntaskan kisah yang tertunda
Bukayo Saka menjadi simbol kemenangan Inggris.
Winger Arsenal itu mencetak hattrick, termasuk satu gol dari titik penalti setelah Jude Bellingham menyerahkan kesempatan kepadanya.
Gol itu memiliki makna yang melampaui statistik.
Pada final Euro 2020 yang dimainkan pada 2021, Saka gagal mengeksekusi penalti dalam adu penalti melawan Italia. Kegagalan tersebut menjadi salah satu momen paling menyakitkan dalam karier internasionalnya.
Lima tahun kemudian, di panggung Piala Dunia, ia kembali berdiri di titik yang sama. Kali ini, tanpa keraguan, Saka mengirim bola ke gawang dan menutup salah satu bab yang paling membekas dalam perjalanan kariernya bersama tim nasional.
Mbappe tetap berada di depan
Di tengah kekalahan Prancis, Mbappe kembali menjadi pembeda.
Dua gol yang dicetaknya membuat sang kapten mengoleksi 10 gol sepanjang Piala Dunia 2026 dan tetap memimpin daftar pencetak gol sementara menjelang partai final.
Lionel Messi masih memiliki peluang mengejar koleksi gol itu saat Argentina menghadapi Spanyol. Jika keduanya mengakhiri turnamen dengan jumlah gol yang sama, pemenang Golden Boot akan ditentukan berdasarkan kriteria berikutnya sesuai regulasi FIFA, termasuk jumlah assist.
Terlepas dari hasil perebutan penghargaan itu, Mbappe menjadi pemain putra pertama sejak Gerd Müller pada Piala Dunia 1970 yang mampu mencetak dua digit gol dalam satu edisi turnamen.
Olise mengukir sejarah
Di balik ketajaman Mbappe, Michael Olise kembali menunjukkan perannya sebagai pengatur serangan Prancis.
Dua assist untuk dua gol Mbappe membuat gelandang Bayern Munich itu menutup Piala Dunia 2026 dengan tujuh assist.
Jumlah itu melewati catatan enam assist yang selama ini dikaitkan dengan Pele pada Piala Dunia 1970, menjadikan Olise pemilik rekor assist terbanyak dalam satu edisi Piala Dunia menurut statistik turnamen ini.
Rekor itu sekaligus menjadi penegasan bahwa Prancis tetap meninggalkan Piala Dunia dengan warisan permainan menyerang yang produktif, meski gagal membawa pulang medali.
Dua semifinalis, dua akhir yang sama-sama bermakna
Bagi Inggris, medali perunggu bukan pengganti kegagalan mencapai final. Namun, kemenangan di Miami memastikan mereka tidak pulang hanya dengan penyesalan. Three Lions membawa pulang keyakinan bahwa proyek yang dibangun Thomas Tuchel masih memiliki arah.
Bagi Prancis, kekalahan ini bukan akhir dari segalanya. Mbappe pulang sebagai pemimpin perburuan Golden Boot, sementara Olise meninggalkan turnamen sebagai pemegang rekor assist baru.
Tidak semua perjalanan di Piala Dunia berakhir dengan trofi. Ada yang pulang membawa medali, ada pula yang meninggalkan jejak lewat rekor. Di Miami, Inggris dan Prancis membuktikan bahwa bahkan pertandingan yang sering dianggap sekadar formalitas pun tetap mampu menghadirkan cerita yang layak dikenang.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!