Mengapa FIFA Masih Menggelar Perebutan Peringkat Ketiga Piala Dunia? Ini Alasannya
Sabtu, 18 Juli 2026 | 10:38
Penulis: Arif S

Sumber: Antara/Xinhua/Wu Xiaoling
Perebutan peringkat ketiga selalu menjadi bagian dari sejarah Piala Dunia. Meski sering dianggap sebagai pertandingan paling tidak diinginkan tim yang gagal mencapai final, FIFA tetap mempertahankan laga tersebut hingga edisi 2026.
Berbeda dengan FIFA, UEFA sudah menghapus pertandingan perebutan tempat ketiga di Euro sejak 1984. Sejak saat itu, dua tim yang kalah di semifinal langsung mengakhiri turnamen tanpa harus kembali bertanding.
Perbedaan kebijakan ini kembali menjadi sorotan setelah Prancis dan Inggris dipastikan bertemu pada laga perebutan peringkat ketiga Piala Dunia 2026. Kedua tim gagal melangkah ke final setelah Prancis kalah 0-2 dari Spanyol, sedangkan Inggris menyerah 1-2 dari Argentina.
BACA JUGA
Los Angeles Stadium, Stadion Futuristik yang Jadi Andalan Piala Dunia 2026
FIFA Revisi Kebijakan Stadion, Suporter Diizinkan Membawa Botol Air Tertentu
Trump Akan Saksikan Langsung Final Piala Dunia 2026 dan Serahkan Trofi Juara
Faktor Komersial Jadi Alasan Utama
Salah satu alasan terbesar FIFA mempertahankan pertandingan perebutan posisi ketiga adalah nilai komersial yang dihasilkan.
Setiap pertandingan tambahan di Piala Dunia memberikan pemasukan signifikan, mulai dari penjualan tiket, hak siar televisi, hingga pendapatan sponsor dan iklan.
Selain itu, pertandingan perebutan tempat ketiga juga mengisi jeda antara semifinal dan final sehingga publik tetap disuguhi laga bergengsi menjelang partai puncak.
Dengan jutaan penonton dari berbagai negara, pertandingan perebutan tempat ketiga tetap memiliki daya tarik meski bukan laga perebutan gelar juara.
Berpengaruh terhadap Ranking FIFA
Selain aspek bisnis, laga perebutan posisi ketiga juga memiliki nilai kompetitif.
Karena berstatus pertandingan resmi FIFA, hasil pertandingan akan memengaruhi perolehan poin ranking.
Tambahan poin dapat berpengaruh terhadap posisi unggulan suatu negara dalam undian berbagai kompetisi internasional, termasuk kualifikasi Piala Dunia maupun UEFA Nations League.
Bagi para pemain, pertandingan ini menjadi kesempatan terakhir untuk menutup turnamen dengan kemenangan setelah kekecewaan akibat tersingkir di semifinal.
Hadiah Lebih Besar untuk Peringkat Ketiga
FIFA juga memberikan insentif finansial cukup besar bagi tim yang mampu finis di posisi ketiga.
Tim peringkat ketiga memperoleh hadiah sebesar 29 juta dolar AS, atau dua juta dolar AS lebih besar dibanding tim peringkat keempat dengan hadiah 27 juta dolar AS.
Selain hadiah uang, pemenang membawa pulang medali perunggu sebagai penghargaan atas pencapaiannya selama turnamen.
Melahirkan Banyak Rekor Bersejarah
Meski sering dipandang sebelah mata, pertandingan perebutan tempat ketiga justru melahirkan sejumlah catatan bersejarah di Piala Dunia.
Gol tercepat sepanjang sejarah turnamen lahir pada perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2002 ketika striker Turki Hakan Sukur mencetak gol hanya dalam waktu 11 detik ke gawang Korea Selatan.
Sementara itu, penyerang Prancis Just Fontaine mencetak empat gol saat mengalahkan Jerman Barat 6-3 pada perebutan tempat ketiga Piala Dunia 1958.
Dengan torehan itu, ia mengakhiri turnamen dengan 13 gol, rekor gol terbanyak untuk seorang pemain dalam satu edisi Piala Dunia yang hingga kini belum terpecahkan.
Pertandingan perebutan posisi ketiga kerap menentukan persaingan Golden Boot. Eusebio (1966), Salvatore "Toto" Schillaci (1990), Davor Suker (1998), hingga Thomas Muller (2010) berhasil menambah koleksi gol mereka sebelum akhirnya menjadi top skor turnamen.
Pada Piala Dunia 2026, pertandingan Prancis kontra Inggris menjadi kesempatan terakhir bagi Kylian Mbappe dan Harry Kane untuk memperbaiki posisi mereka dalam perebutan Golden Boot.
Tetap Menuai Kritik
Meski begitu, pertandingan perebutan tempat ketiga tetap menuai kritik.
Mantan pelatih Belanda Louis van Gaal dikutip The Athletic, pernah mengatakan laga perebutan tempat ketiga seharusnya tidak lagi dimainkan.
Menurutnya, pertandingan itu tidak adil karena tim yang sudah tampil luar biasa sepanjang turnamen berpotensi pulang dengan dua kekalahan beruntun setelah gagal di semifinal.
Pandangan serupa pernah diungkapkan mantan pelatih Inggris Gareth Southgate menjelang perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2018 melawan Belgia. Ia menilai pertandingan itu bukan laga yang benar-benar ingin dimainkan siapa pun.
Legenda Inggris Alan Shearer juga mengkritik keberadaan pertandingan itu. Menurutnya, sebagian besar pemain hanya ingin segera mengakhiri turnamen dan kembali membela klub masing-masing.
Mengapa Euro Menghapusnya?
Berbeda dengan FIFA, UEFA memutuskan menghapus perebutan tempat ketiga mulai Euro 1984.
Keputusan itu diambil setelah evaluasi penyelenggaraan sebelumnya. UEFA menilai pertandingan itu kurang diminati penonton, memiliki nilai hiburan rendah, dan justru menambah beban fisik pemain setelah menjalani padatnya jadwal turnamen.
Sejak saat itu, dua tim yang kalah di semifinal Euro berbagi status sebagai semifinalis tanpa perlu memainkan pertandingan tambahan.***











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!