ID EN

20 Pelaku Wisata Lokal Finalis WISH 2025 Pamer Inovasi di Hadapan Investor Besar

Kamis, 23 Oktober 2025 | 08:00

Penulis: Arif S

Wonderful Indonesia Scale-up Hub (WISH) 2025
Program Wonderful Indonesia Scale-up Hub (WISH) 2025.
Sumber: Kemenpar

Dua puluh pelaku usaha pariwisata dari berbagai penjuru Indonesia berdiri di depan para calon investor di The Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Mereka menenteng mimpi dan ide segar tentang pariwisata berkelanjutan.

Inilah puncak dari perjalanan panjang mereka di “Wonderful Indonesia Scale-up Hub (WISH) 2025”, sebuah program yang dirancang untuk membantu pelaku usaha pariwisata naik kelas. 

Setelah berbulan-bulan mengikuti pelatihan dan pendampingan, kini tibalah saat mereka unjuk gigi di ajang Demoday, tahap akhir yang mempertemukan mereka dengan calon investor dan mitra bisnis potensial.

“Demoday WISH 2025 terdiri dari sesi pitching dan business matching yang diikuti 20 finalis. Mereka terpilih setelah melalui proses kurasi bersama lebih dari 400 pendaftar, yang dilanjutkan dengan tahap pengembangan kapasitas dan pendampingan intensif selama beberapa bulan,” ujar pihak penyelenggara.

Bagi para finalis, hari itu bukan sekadar kompetisi, tapi kesempatan untuk memperjuangkan harapan agar usahanya bisa terus tumbuh. Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata, Rizki Handayani, menegaskan pentingnya kemampuan berkomunikasi dan membangun citra usaha bagi para pelaku industri.

“Dalam menarik minat pembiayaan calon investor, penting bagi pelaku usaha memiliki kemampuan branding dan copywriting,” ujar Rizki. “Dua hal ini juga memiliki peranan penting dalam meningkatkan nilai dari sebuah produk serta tentunya mendukung pertumbuhan industri pariwisata,” katanya.

Di antara para peserta, ada yang baru memulai usaha kecil di desa wisata dan ada pula yang bertahun-tahun berjuang tanpa akses permodalan. 

“Saya berharap pelaku usaha dengan para calon investor tidak berakhir di sini, tetapi berkelanjutan. Karena ini kali pertama kami menggelar, jadikan moment untuk saling berelasi,” harapnya.

Di sisi lain, Hanifah Makarim, Asisten Deputi Pengembangan Usaha dan Akses Permodalan Kementerian Pariwisata, menyebut momen Demoday sebagai saat yang paling ditunggu-tunggu.

“Hari ini kami mengundang para investor, akses pasar, dan calon mitra dengan harapan nantinya akan ada yang bertemu jodoh dengan usaha bapak ibu. Karena pada dasarnya tugas kami adalah mempertemukan usaha bapak ibu dengan para investor dan calon mitra lainnya,” kata Hanifah.

Hanifah memahami benar tantangan para pengusaha kecil di sektor pariwisata termasuk modal dan pasar. Ia menegaskan, program WISH hadir untuk menjawab dua tantangan besar tersebut.

“Untuk itu, Kementerian Pariwisata berkolaborasi dengan platform kewirausahaan KUMPUL menghadirkan WISH dengan harapan dapat memperkuat kapasitas usaha agar pelaku industri pariwisata naik kelas,” katanya.

Hanifah menambahkan, program ini diharapkan bukan hanya memberi peluang pertemuan, tetapi juga memastikan ada tindak lanjut nyata dari para investor. 

Sementara itu, Faye Wongso, Founder dan Chairperson KUMPUL, menyebut acara ini sebagai awal dari kolaborasi besar antara dunia usaha dan pemerintah.

“Tema besar KUMPUL Connect for Change Summit 2025 adalah building bridges for sustainable change yang sejalan dengan program WISH. Karena WISH ini it’s all about sustainability,” kata Faye.

Ia memuji semangat para finalis yang telah bekerja keras memperkenalkan produk dan gagasan mereka di depan para calon mitra. 

“Hari ini bukan akhir dari perjalanan WISH tetapi awal dari kolaborasi yang lebih luas antara pemerintah, dunia usaha, dan komunitas kreatif untuk mewujudkan ekosistem pariwisata yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” kata Faye.

Deretan investor dan mitra strategis yang hadir, mulai dari Traveloka, Smesco Indonesia, Gayo Capital, Supernova Ecosystem, hingga Tiket.com dan KADIN ITH. Mereka datang dengan satu tujuan, mencari potensi bisnis baru yang bisa membawa pariwisata Indonesia melangkah lebih jauh.

Di antara para finalis, ada kisah-kisah inspiratif yang layak diangkat. Seperti PT Salaku Cara Enak Makan Salak, yang mengubah buah lokal menjadi produk bernilai ekspor; Joglo Ayu Tenan yang menggabungkan budaya dan kuliner; hingga Ramen Jawi Yogyakarta, yang memadukan cita rasa Jepang dengan bumbu Nusantara. Semua datang dengan semangat menjadikan pariwisata Indonesia bukan hanya indah untuk dilihat, tapi juga menggerakkan ekonomi lokal.***