Toronto menjadi salah satu kota tuan rumah Piala Dunia 2026 di Kanada. Ketika jutaan penggemar sepak bola datang dari berbagai penjuru dunia, kota terbesar di Provinsi Ontario ini menawarkan lebih dari sekadar pertandingan di stadion.
Keragaman budaya, pusat perbelanjaan kelas dunia, hingga destinasi unik menjadikan Toronto sebagai salah satu kota yang layak dijelajahi selama turnamen berlangsung.
Toronto dikenal sebagai salah satu kota paling multikultural di dunia. Ratusan komunitas etnis hidup berdampingan dan membentuk wajah kota yang terbuka bagi siapa saja.
BACA JUGA
Gol Injury Time Eustaquio Antar Kanada Singkirkan Afrika Selatan di Piala Dunia 2026
Pahlawan Kanada Stephen Eustaquio Percaya Diri Tantang Belanda atau Maroko
Banyak Jalan ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026, Siapa Lolos, Siapa Tergelincir?
Para suporter dari berbagai negara pun dapat dengan mudah menemukan kuliner, budaya, maupun suasana yang terasa akrab dengan kehidupan mereka.
Namun, di balik deretan gedung pencakar langit dan jalanan yang selalu ramai, Toronto menyimpan sebuah daya tarik yang sering terlewat dari perhatian wisatawan, yaitu PATH.
Jaringan pejalan kaki yang sebagian besar berada di bawah tanah ini membentang lebih dari 30 kilometer dan menghubungkan lebih dari 75 gedung di pusat kota, mulai dari gedung perkantoran, hotel, pusat perbelanjaan, enam stasiun subway, hingga Union Station. Menurut Guinness World Records, PATH merupakan kompleks pertokoan bawah tanah terbesar di dunia.
Sejarah PATH bermula pada 1900 melalui sebuah terowongan yang menghubungkan dua bangunan milik Eaton's. Sejak dekade 1970-an, jaringan itu berkembang pesat sebagai solusi agar aktivitas masyarakat tetap berjalan meski musim dingin membawa suhu di bawah titik beku.
Kini, PATH menjadi bagian penting dari mobilitas Toronto dan melayani lebih dari 200.000 komuter pada hari kerja, selain wisatawan dan warga setempat.
Bagi para suporter Piala Dunia 2026, PATH menawarkan cara praktis menjelajahi pusat kota tanpa harus menghadapi salju, hujan, maupun cuaca ekstrem. Di dalamnya terdapat sekitar 1.200 toko, restoran, kafe, dan berbagai layanan yang menempati area ritel seluas sekitar 3,7 juta kaki persegi.
Tak sedikit wisatawan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menyusuri lorong-lorong bawah tanah yang dipenuhi pusat belanja, tempat makan, dan ruang publik modern.
Keunggulan PATH adalah kemampuannya menghubungkan berbagai destinasi populer tanpa harus keluar ke jalan. Pengunjung dapat berjalan kaki menuju CF Toronto Eaton Centre, Hudson's Bay, Scotiabank Arena, Hockey Hall of Fame, hingga sejumlah hotel dan gedung perkantoran di kawasan finansial Toronto melalui jalur yang nyaman dan terintegrasi.
PATH juga menjadi surga bagi pencinta kuliner. Dari poutine, hidangan khas Kanada, hingga sushi Jepang, taco Meksiko, dan beragam menu internasional tersedia di sepanjang koridor. Deretan kafe dan kedai kopi menjadi tempat favorit wisatawan untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan menjelajahi pusat kota.
Di tengah kemeriahan Piala Dunia 2026, PATH menawarkan pengalaman yang berbeda dari kebanyakan destinasi wisata. Bukan stadion ataupun landmark ikonik yang menjadi daya tarik utamanya, melainkan sebuah "kota tersembunyi" di bawah permukaan Toronto yang memadukan mobilitas, kenyamanan, belanja, dan kuliner dalam satu jaringan terintegrasi.
Informasi mengenai PATH ini sebelumnya telah dipublikasikan dalam artikel ITSMe.co.id dan kembali diulas dalam Podcast *Seputar Piala Dunia 2026* bersama host Syafira dan Dila sebagai rekomendasi destinasi menarik bagi para suporter yang berkunjung ke Toronto.










