ID EN

Indonesia Dorong Pariwisata Digital di APEC, Traveler Bakal Rasakan Liburan yang Lebih Mudah

Senin, 29 Juni 2026 | 15:00

Penulis: Respaty Gilang

Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana
Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana.
Sumber: Kemenpar

Masa depan industri pariwisata tak lagi hanya bergantung pada keindahan destinasi. Di era digital, pengalaman wisata yang cepat, praktis, dan personal menjadi faktor utama yang dicari wisatawan. Melihat tren tersebut, Indonesia mendorong transformasi digital sebagai fondasi baru pengembangan pariwisata kawasan Asia-Pasifik melalui forum Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC).

Komitmen tersebut disampaikan Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana dalam The 13th APEC Tourism Ministerial Meeting (TMM13) yang digelar di Makau SAR, Tiongkok, Sabtu, 27 Juni 2026.

Menurut Widiyanti, teknologi bukan lagi sekadar pelengkap industri wisata, melainkan motor penggerak yang mampu menghadirkan pengalaman perjalanan yang lebih mudah, inklusif, dan berkelanjutan.

Transformasi Digital Jadi Masa Depan Pariwisata Asia-Pasifik

Dalam forum tingkat menteri tersebut, Indonesia mengajak seluruh anggota APEC memanfaatkan inovasi digital untuk membangun ekosistem pariwisata yang lebih tangguh di tengah perubahan perilaku wisatawan global.

"Sebagai negara yang sedang menjalani transformasi digital secara masif, Indonesia percaya bahwa titik temu antara teknologi pintar dan kolaborasi yang berpusat pada komunitas merupakan cara yang tepat untuk membangun ekosistem pariwisata yang tangguh, inklusif, dan terintegrasi di seluruh kawasan," katanya sebagaimana dikutip dalam siaran pers kementerian pada Senin.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi harus mampu meningkatkan kualitas perjalanan wisata sekaligus memberi dampak ekonomi langsung kepada masyarakat lokal.

Dalam sesi pembahasan mengenai teknologi digital dan inovasi baru di sektor pariwisata, Indonesia menekankan bahwa digitalisasi menjadi jalan menuju industri wisata yang lebih bernilai.

"Kami percaya bahwa inovasi digital harus menjadi jembatan untuk mentransisikan kawasan kita dari mass tourism menuju pariwisata yang bernilai tinggi, berkualitas, dan berkelanjutan," katanya.

Konsep tersebut sejalan dengan tren global yang kini lebih mengutamakan quality tourism, yakni perjalanan yang mengedepankan pengalaman autentik, keberlanjutan lingkungan, serta manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat dibanding sekadar mengejar jumlah kunjungan wisatawan.

QRIS hingga AI, Teknologi yang Memudahkan Pengalaman Traveler

Indonesia juga mengajak negara-negara APEC mempercepat transformasi digital yang inklusif dengan mengurangi kesenjangan literasi teknologi dan memperluas akses digital bagi masyarakat.

Salah satu contoh yang diperkenalkan adalah pemanfaatan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Perluasan penggunaan sistem pembayaran digital lintas negara diyakini akan membuat transaksi wisata menjadi lebih praktis sekaligus memperkuat konektivitas ekonomi kawasan.

Bagi wisatawan, sistem pembayaran digital yang saling terhubung dapat mengurangi kebutuhan membawa uang tunai, mempercepat transaksi, dan memberikan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman saat berkunjung ke berbagai destinasi.

Selain pembayaran digital, Indonesia juga memperkenalkan MaiA, platform perencanaan perjalanan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dikembangkan Kementerian Pariwisata.

Teknologi ini dirancang untuk membantu wisatawan menemukan destinasi yang sesuai dengan minat mereka, menyusun rencana perjalanan yang lebih personal, sekaligus meningkatkan promosi destinasi wisata Indonesia.

Pendekatan berbasis data seperti ini dinilai mampu membantu pemerintah mengelola destinasi secara lebih cerdas, mulai dari mengatur kepadatan wisatawan hingga meningkatkan kualitas layanan.

UMKM dan SDM Jadi Kunci Pariwisata Digital

Tak hanya berfokus pada wisatawan, Indonesia juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu memanfaatkan teknologi digital dalam mengembangkan bisnis pariwisata.

Digitalisasi dinilai membuka peluang lebih besar bagi UMKM lokal untuk menjangkau pasar internasional, memasarkan produk secara lebih luas, hingga meningkatkan daya saing destinasi wisata.

Selain itu, peningkatan literasi digital bagi tenaga kerja pariwisata menjadi perhatian penting agar mereka mampu mengikuti perkembangan teknologi yang bergerak sangat cepat.

"Inovasi digital harus menjadi alat yang mempersatukan, bukan penghalang bagi pengembangan yang inklusif," kata Widiyanti.

"Indonesia siap berkolaborasi dengan seluruh ekonomi APEC untuk membangun masa depan pariwisata yang maju secara teknologi, tangguh, inklusif, dan memastikan tidak ada satu pun yang tertinggal," ia menambahkan.

Sebagai bentuk komitmen tersebut, Indonesia juga mendukung implementasi APEC Tourism Strategic Plan 2025–2029, Putrajaya Vision 2040, serta berbagai upaya peningkatan kemudahan perjalanan wisata di kawasan Asia-Pasifik.

Bagi para traveler, transformasi digital yang tengah didorong negara-negara APEC berpotensi menghadirkan pengalaman perjalanan yang semakin praktis. Mulai dari pembayaran lintas negara yang lebih mudah, rekomendasi destinasi berbasis AI, hingga layanan wisata yang semakin personal dan efisien.

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!