Wisata Geopark Sangkulirang-Mangkalihat Terus Berkembang, Kunjungan Diproyeksi Tembus 16 Ribu pada 2026
Selasa, 30 Juni 2026 | 11:31
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: AntaraNews
Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim), Kalimantan Timur, terus memperkuat pengembangan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat sebagai destinasi wisata berkelanjutan. Kawasan yang dikenal memiliki kekayaan geologi, budaya, dan keanekaragaman hayati tersebut dikelola melalui pendekatan tiga pilar utama atau 3P, yaitu perlindungan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
Strategi tersebut disiapkan agar Geopark Sangkulirang-Mangkalihat tidak hanya menjadi tujuan wisata unggulan, tetapi juga mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan maupun masyarakat sekitar.
"Pemkab Kutim sepakat menjaga kawasan tersebut agar tetap terlindungi karena merupakan bagian dari aset daerah yang memiliki nilai strategis dalam mendukung konservasi, pendidikan, dan pengembangan pariwisata," ujar Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman di Sangatta, Kaltim, Selasa, 30 Juni 2026.
BACA JUGA
Desa Jatiluwih, Serenitas Bali yang Menjadi Inspirasi Pariwisata Dunia
Sambut Hari Pariwisata Sedunia, Kemenparekraf Ajak Publik Jadi Wisatawan Bertanggung Jawab
Menjemput Wisatawan dari Langit: Enam Pesona Kalsel Sambut Wisatawan Dunia
Menurut Ardiansyah, kawasan geopark tersebut juga diharapkan menjadi warisan alam yang tetap lestari dan memiliki nilai penting bagi generasi mendatang.
Sebagai bentuk implementasi pilar perlindungan, Pemkab Kutim menetapkan pembagian kawasan menjadi zona inti, zona penyangga, dan zona pengembangan.
Di area inti, aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan dilarang sepenuhnya, termasuk penambangan, pembukaan lahan, maupun kegiatan lain yang dapat mengganggu kondisi bentang alam serta keberadaan lukisan purba di dalam gua.
Selain itu, jumlah wisatawan yang masuk ke kawasan juga dibatasi setiap hari agar tidak melampaui daya dukung lingkungan. Pengelola turut memasang pagar pengaman, menjalankan sistem pemantauan berkala, melarang penggunaan bahan kimia berbahaya, serta mengatur jalur kunjungan untuk menjaga kondisi tanah dan dinding gua tetap alami.
Pilar kedua berfokus pada penelitian dan edukasi. Pemerintah merancang pembangunan pusat informasi geopark yang dilengkapi jalur wisata edukatif beserta papan informasi mengenai sejarah geologi dan nilai budaya di setiap lokasi.
Program tersebut juga didukung dengan memasukkan materi mengenai kekayaan alam dan sejarah kawasan ke dalam kurikulum sekolah melalui Program Adiwiyata. Di sisi lain, akses penelitian juga dibuka bagi peneliti dari dalam maupun luar negeri.
Dengan konsep tersebut, Geopark Sangkulirang-Mangkalihat diproyeksikan menjadi sekolah alam terbuka, tempat masyarakat dan wisatawan dapat belajar sekaligus menikmati keindahan alam.
"Ketiga, pemberdayaan masyarakat, cara yang ditempuh adalah melatih warga lokal menjadi pemandu wisata bersertifikat, pengelola homestay, pengrajin kerajinan, dan pengolah kuliner khas," katanya.
Pemerintah daerah juga mendorong pembentukan kelompok usaha bersama agar manfaat ekonomi dari sektor pariwisata dapat dirasakan langsung oleh masyarakat desa. Pendapatan yang berasal dari tiket masuk, jasa transportasi, hingga penjualan produk lokal diharapkan kembali berputar di wilayah sekitar geopark.
Berbagai program pemberdayaan pun terus dikembangkan, mulai dari budidaya madu hutan, kopi, produk olahan kakao, hingga kerajinan anyaman yang dikemas lebih menarik sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Berdasarkan data pemerintah daerah, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Geopark Sangkulirang-Mangkalihat sepanjang 2025 mencapai 12.470 orang atau meningkat sekitar 35 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara hingga pertengahan 2026, jumlah kunjungan telah menyentuh angka 7.850 wisatawan. Dengan tren tersebut, total kunjungan sepanjang tahun diperkirakan mampu menembus 16.000 pengunjung.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!