Mengenal Hari Diwali, Festival Cahaya yang Penuh Makna
Senin, 20 Oktober 2025 | 16:14
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Pixabay
Setiap tahun, di sekitar bulan Oktober atau November, langit di banyak kota India berubah jadi lautan cahaya. Rumah-rumah bersinar, jalanan penuh warna, dan udara dipenuhi aroma dupa serta kembang api. Itulah suasana Dipawali, atau lebih dikenal secara global sebagai Diwali — festival cahaya yang tak hanya jadi perayaan keagamaan, tapi juga simbol universal dari kemenangan cahaya atas kegelapan dan kebaikan atas kejahatan.
Peringatan Diwali atau Hari Dipawali tahun ini jatuh pada 20-21 Oktober 2025. Berdasarkan kalender India, perayaan dimulai pada Senin malam 20 Oktober 2025 dan berlangsung hingga Selasa 21 Oktober 2025.
Kata “Diwali” berasal dari bahasa Sanskerta Deepavali, yang berarti “barisan lampu”. Makna itu terasa nyata saat malam perayaan tiba, ribuan diyas (lampu minyak kecil dari tanah liat) dinyalakan berjejer di depan rumah, di jalan, bahkan di tepi sungai. Menurut The Old Farmer’s Almanac dan situs resmi pemerintah India, Utsav.gov.in, Diwali jatuh pada bulan Kartika dalam kalender lunar Hindu, biasanya berlangsung selama lima hari penuh.
BACA JUGA
Festival Cap Go Meh 2026, Strategi Memperkuat Singkawang Sebagai Destinasi Wisata Unggulan Budaya
Wisatawan AS ke Bali Tembus 274 Ribu, Kedubes Ingin Perjalanan Lebih Mudah
Magnet Budaya Suku Osing, Bikin Traveler Dunia Rela 'Blusukan' ke Desa Kemiren Setiap Tahun
Meski maknanya satu "kemenangan cahaya atas gelap" alasan perayaan Diwali bisa berbeda di setiap wilayah. Di utara India, misalnya, Diwali dipercaya menandai kembalinya Rama bersama Sita dan Lakshmana ke kerajaan Ayodhya setelah mengalahkan raja raksasa Ravana. Kisah ini begitu populer hingga setiap tahun masyarakat menyalakan lampu untuk menyambut kepulangan sang pahlawan.
Di selatan India, Diwali sering dikaitkan dengan kemenangan Krishna atas Narakasura, simbol kemenangan kebenaran atas kezaliman. Sementara bagi umat Jain, hari ini diperingati sebagai momen Mahavira, Tirthankara ke-24, mencapai nirwana. Komunitas Sikh pun punya kisah tersendiri, Diwali menandai pembebasan Guru Hargobind dan raja-raja yang ditahan oleh kekaisaran Mughal sebuah simbol kebebasan dan keadilan.
Namun Diwali bukan hanya tentang legenda atau kepercayaan. Lebih dari itu, festival ini adalah momen kebersamaan yang melampaui batas agama dan negara. Menurut PBS NewsHour, jutaan orang di seluruh dunia kini ikut merayakan Diwali, dari Singapura hingga London, dari Toronto sampai Jakarta.
Di Ayodhya, India, bahkan pernah tercatat rekor dunia ketika lebih dari 2,5 juta diyas dinyalakan secara serentak di tepi Sungai Saryu, sebuah pemandangan luar biasa yang menunjukkan betapa kuatnya makna cahaya bagi umat manusia.
Suasana Diwali bisa dirasakan sejak jauh hari. Rumah-rumah dibersihkan, dicat ulang, lalu dihias dengan rangoli, seni menghias lantai dengan bubuk warna atau bunga. Malam hari menjadi panggung bagi cahaya lampu minyak berkelip di jendela, lilin-lilin kecil menari di depan pintu, sementara langit dihiasi kembang api. Namun, belakangan muncul tren baru, perayaan Diwali yang lebih ramah lingkungan. Alih-alih membakar petasan, banyak anak muda memilih menyalakan lentera biodegradable atau berpartisipasi dalam kegiatan sosial.
Yang tak kalah menarik, Diwali juga punya dimensi ekonomi. Di India, festival ini menandai dimulainya tahun keuangan baru bagi banyak pedagang. Orang-orang membeli emas, pakaian baru, atau barang elektronik sebagai simbol keberuntungan. Menurut laporan The Economic Times, bisnis di berbagai sektor meningkat tajam selama musim Diwali, mirip dengan momen belanja besar seperti Black Friday di Barat.
Bagi generasi muda yang hidup aktif dan energik, nilai-nilai Diwali terasa relevan. Festival ini mengajarkan bahwa cahaya bukan hanya milik lampu atau lilin, tapi juga milik semangat manusia. Diwali adalah simbol dari keberanian untuk menyalakan potensi diri, mengusir “gelap” dalam bentuk keraguan dan rasa takut, lalu bersinar dengan kemampuan dan kebaikan yang kita punya.
Sama seperti di dunia olahraga, kemenangan sejati bukan hanya soal skor atau trofi, melainkan tentang bagaimana seseorang terus berjuang melawan kelemahan diri dan menjadi versi terbaik dari dirinya.
Diwali juga mengingatkan pentingnya kebersamaan. Di tengah dunia yang semakin individualistik, festival ini membawa pesan sederhana namun dalam, bahwa cahaya paling terang justru muncul ketika kita bersinar bersama.
Tradisi menyalakan lampu berjejer di depan rumah bukan sekadar ritual, tapi juga metafora bahwa cahaya kecil yang menyatu bisa mengubah gelap menjadi terang sesuatu yang sangat relevan di era sekarang, di mana kolaborasi dan solidaritas makin dibutuhkan.
Kini, Diwali tak lagi terbatas di India atau di kalangan umat Hindu. Dari kota New York sampai Bali, perayaan ini sudah menjadi bagian dari kalender budaya global. Diwali bukan hanya festival religi, tapi juga perayaan identitas manusia, bahwa di manapun kita berada, kita selalu mencari cahaya dalam bentuk harapan, cinta, dan semangat baru.
Jadi, saat jutaan lampu menyala di berbagai belahan dunia setiap musim gugur, Diwali berbicara pada kita semua, tanpa memandang latar atau keyakinan, untuk menyalakan cahaya dalam diri, berbagi terang dengan sekitar, dan terus berjalan dengan hati yang hangat. Karena sejatinya, setiap manusia punya Diwali-nya sendiri momen untuk bangkit, bersinar, dan memberi makna.










