ID EN

Dari Imigrasi ke Pembatalan Hotel: Tantangan Besar Jelang Piala Dunia 2026

Kamis, 26 Maret 2026 | 14:30

Penulis: Arif S

Trofi Piala Dunia
Trofi Piala Dunia.
Sumber: Antara/Twitter@FIFAWorldCup

Menjelang Piala Dunia FIFA 2026, bayang-bayang di luar lapangan mulai mencuri perhatian. Bukan soal taktik atau komposisi pemain, melainkan kebijakan imigrasi dan logistik yang berpotensi memengaruhi jalannya turnamen terbesar Sepak Bola Dunia itu.

Amerika Serikat (AS) akan menjadi tuan rumah mayoritas pertandingan Piala Dunia 2026.  Dengan 78 dari 104 pertandingan digelar di AS, stabilitas akses masuk menjadi krusial bagi suksesnya turnamen yang juga melibatkan Kanada dan Meksiko.

Kekhawatiran meningkat di AS terkait dampak pengetatan imigrasi terhadap kedatangan pemain dan suporter internasional. 

Situasi ini bahkan mendorong anggota Kongres New Jersey, Nellie Pou, mengajukan langkah legislative. Ini menandakan isu tersebut telah melampaui ranah Olahraga dan memasuki wilayah kebijakan publik.

Di tengah ketidakpastian itu, keputusan FIFA membatalkan ribuan reservasi hotel menambah kekhawatiran baru. 

Laporan The Philadelphia Inquirer menyebutkan adanya pembatalan 2.000 kamar di Philadelphia, dengan langkah serupa terjadi di kota tuan rumah lainnya.

Langkah tersebut mengikuti pengurangan besar sebelumnya di Mexico City, di mana sekitar 40% Pemesanan Hotel FIFA dibatalkan. 

Meski sumber internal menyebut ini sebagai bagian dari penyesuaian kontraktual yang lazim, namun skala dan waktunya memunculkan tanda tanya.

Bagi kota tuan rumah, keputusan ini bukan sekadar angka. Hotel, restoran, dan sektor Pariwisata yang bergantung pada lonjakan pengunjung kini menghadapi ketidakpastian baru. 

Terlebih, penundaan pendanaan federal untuk keamanan memaksa beberapa kota seperti Boston, Miami, dan San Francisco mengurangi skala Fan Festival, ruang penting bagi penggemar tanpa tiket.

Dengan jutaan pasang mata tertuju pada musim panas 2026, tantangannya kini bukan hanya soal siapa yang akan mengangkat trofi, tetapi juga bagaimana memastikan panggung global ttetap terbuka, aman, dan inklusif bagi semua.(Forbes)