ID EN

Rapor Tim Bulu Tangkis Indonesia di Tur Eropa 2026: Tanpa Gelar, Tapi Menjanjikan

Rabu, 25 Maret 2026 | 17:00

Penulis: Arif S

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI Eng Hian
Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI Eng Hian.
Sumber: PBSI

Tim Bulu Tangkis Indonesia gagal membawa pulang gelar dari rangkaian Tur Eropa 2026, tetapi rapor performa mereka dinilai menjanjikan. Skuad Merah Putih tetap mampu bersaing, bahkan menembus fase krusial di sejumlah turnamen besar turnamen Eropa.

Rangkaian tur mencakup German Open, All England Open, Swiss Open, hingga Orleans Masters menjadi panggung pembuktian bagi generasi baru Indonesia. 

Turnamen-turnamen ini bukan sekadar ajang berburu gelar, melainkan bagian dari proses pembinaan jangka panjang.

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Eng Hian, menilai perkembangan para atlet tetap berada di jalur yang tepat meski hasil akhir belum maksimal.

“Kalau melihat hasil memang belum sesuai harapan, tetapi dari sisi performa dan progres, kami melihat ada perkembangan yang cukup baik. Daya saing pemain terlihat, terutama saat menghadapi pemain top dunia,” ujar Eng Hian dalam keterangan resmi PP PBSI, Selasa.

Salah satu indikator positif datang dari Swiss Open 2026. Indonesia menempatkan dua wakil di partai final melalui Alwi Farhan dan Putri Kusuma Wardani

Namun, keduanya harus puas sebagai runner-up setelah menghadapi lawan tangguh dari Asia.

Alwi kalah dari Yushi Tanaka 18-21, 12-21, sementara Putri takluk dari Supanida Katethong 11-21, 15-21.

Di level tertinggi, All England Open yang berstatus Super 1000 juga menghadirkan catatan kompetitif. 

Pasangan ganda putra Raymond Indra/Nikolaus Joaquin mampu menembus semifinal, pencapaian yang menegaskan daya saing Indonesia di sektor ganda.

Sementara itu, pada Orleans Masters 2026, langkah Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana terhenti di empat besar. 

Hasil serupa juga diraih pasangan ganda putri Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum.

Meski belum menyentuh podium tertinggi, performa konsisten hingga fase akhir menjadi sinyal, gap kualitas dengan pemain elite dunia semakin menipis. Namun, satu aspek masih menjadi pembeda utama.

“Yang perlu ditingkatkan adalah konsistensi di momen-momen krusial. Dari situ biasanya menjadi pembeda antara menang dan kalah,” katanya.

Bagi Eng Hian, pengalaman menghadapi tekanan di turnamen besar adalah investasi penting bagi perkembangan atlet, baik dari sisi teknik maupun mental.

“Hasil di tur Eropa ini akan menjadi pijakan penting untuk langkah selanjutnya, dengan berbagai perbaikan yang akan dilakukan secara bertahap dan terukur,” pungkasnya.