'Miracle of Mind' Menemukan Ketenangan di Tengah Megahnya Candi Prambanan
Senin, 13 Oktober 2025 | 13:20
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Freepik
Ada yang berbeda di kawasan Candi Prambanan Minggu pagi itu. Bukan sekadar wisata budaya seperti biasa, tapi suasana penuh ketenangan, tarikan napas panjang, dan alunan lembut instruksi meditasi yang menyatu dengan cahaya matahari terbit.
Di tempat yang biasanya ramai turis dan kamera, kini hadir ratusan orang yang duduk diam, menutup mata, dan mencari kejernihan batin. Semua itu menjadi bagian dari program meditasi “Miracle of Mind”, kolaborasi antara InJourney Destination Management (IDM) atau PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, dengan Isha Foundation, organisasi nirlaba internasional yang dikenal dengan gerakan global kesejahteraan mental dan spiritual.
“Inisiatif ini dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Dunia yang jatuh pada 10 Oktober 2025, sekaligus rangkaian pra-peluncuran Samadha, aktivitas wellness di destinasi Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko,”
kata Direktur Komersial IDM, Gistang Richard Panutur, di Sleman, Yogyakarta.
BACA JUGA
Libur Imlek Makin Seru! Ini Agenda Spesial di Prambanan dan Borobudur
Menyusuri Spiritualitas dan Budaya di Prambanan Shiva Festival 2026
Mahashivaratri 2026 di Candi Prambanan: Dari Warisan Dunia ke Destinasi Wisata Spiritual Global
Ratusan Peserta Nikmati Momen Tenang di Situs Bersejarah
Bertempat di Rama Shinta Garden Resto, kompleks Ramayana Ballet Prambanan, kegiatan ini diikuti 200 peserta dari Yogyakarta dan sekitarnya semuanya gratis. Dari profesional muda, ibu rumah tangga, hingga traveler yang sengaja datang untuk merasakan pengalaman meditasi di bawah nuansa candi, semuanya larut dalam suasana yang hening namun hangat.
“Aktivitas ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran secara kolektif tentang pentingnya kesehatan mental bagi setiap individu,” lanjut Gistang.
Program ini juga menjadi bagian dari inisiatif Samadha, yang dihadirkan IDM untuk mengembangkan wellness tourism di destinasi heritage Indonesia. Lewat program seperti ini, pengalaman berwisata bukan cuma soal melihat keindahan fisik, tapi juga menyentuh sisi batin dan spiritual.
Menghubungkan Warisan Budaya dengan Ketenangan Jiwa
Menurut Gistang, Candi Prambanan bukan hanya simbol sejarah, tapi juga tempat yang punya energi transformatif bagi jiwa.
“Kami percaya bahwa destinasi heritage seperti Candi Prambanan memiliki potensi transformatif yang mendalam. Miracle of Mind* adalah inisiatif kami untuk menawarkan kesejahteraan batin dan menumbuhkan ketenangan jiwa,” ujarnya.
Melalui kolaborasi dengan Isha Foundation, IDM membawa praktik kesejahteraan yang telah dikenal di seluruh dunia ke tengah komunitas lokal. Kolaborasi ini menjadi jembatan antara warisan budaya Indonesia dan kearifan spiritual universal sesuatu yang jarang bisa ditemui di destinasi wisata biasa.
Peserta mendapat bimbingan langsung dari Suchita Raman, instruktur senior Isha Foundation, yang mengajarkan teknik Isha Kriya dan Upa-Yoga, metode sederhana namun efektif untuk mencapai kejernihan, kesehatan, dan keseimbangan diri.
Meditasi di Bawah Matahari Pagi Prambanan
Sejak matahari muncul di ufuk timur, para peserta mulai bermeditasi dengan pemandangan megah Candi Prambanan di depan mereka. Bayangkan duduk dalam keheningan, merasakan angin pagi menyentuh kulit, sementara mantra dan napas perlahan menuntun pikiran menuju ketenangan.
Sesi kemudian dilanjutkan di Gedung Trimurti, bagian dari kompleks Ramayana Ballet, di mana peserta mempraktikkan Isha Kriya, meditasi dengan elemen keheningan total. Sesi diakhiri dengan duduk dalam diam sekitar lima menit, fokus pada ruang di antara kedua alis, untuk benar-benar meresapi ketenangan batin.
Wellness Tourism, Tren Baru yang Dihidupkan Kembali
Program Samadha sendiri punya makna mendalam, sebuah perjalanan “kembali ke dalam diri.” Gistang menyebutnya sebagai ajakan untuk menelusuri kembali kejernihan batin yang terinspirasi dari nilai-nilai spiritual Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko.
“Di dunia yang serba cepat ini, ketenangan pikiran bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar. Kami berharap peserta dapat membawa pulang teknik praktis yang memungkinkan mereka mengelola stres, mencapai keseimbangan emosional, dan menjalani hidup dengan sukacita yang utuh,” kata Gistang.
Program ini juga menjadi simbol bagaimana pariwisata Indonesia kini bergerak ke arah yang lebih bermakna bukan sekadar hiburan visual, tapi juga pengalaman penyembuhan dan keseimbangan diri.
Bagi banyak traveler muda yang mulai mencari makna di balik setiap perjalanan, kegiatan seperti Miracle of Mind adalah bentuk baru dari petualangan, bukan ke luar, tapi ke dalam diri sendiri. (Antara)










