ID EN

Wisata Ramadhan NTB: Ngabuburit di Sirkuit Mandalika Jadi Magnet Sport Tourism

Selasa, 3 Maret 2026 | 14:22

Penulis: Arif S

 Pertamina Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Warga ngabuburide di Sirkuit Pertamina Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
Sumber: Antara/Akhyar Rosidi

Pertamina Mandalika International Circuit di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) menawarkan ngabuburide, gabungan dari ngabuburit dan riding selama Ramadhan. Warga dan wisatawan bisa merasakan pengalaman berkendara di lintasan balap yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika tersebut. 

Sirkuit sepanjang 4,3 kilometer dengan 17 tikungan itu selama ini dikenal sebagai panggung tahunan MotoGP. Namun saat Ramadhan, atmosfernya berbeda.

Bukit-bukit hijau dan Pasir Putih mengelilingi lintasan, menciptakan lanskap yang jarang dimiliki arena balap lain di dunia. Di sinilah Mandalika menemukan identitasnya sebagai Sport Tourism, sirkuit menyatu harmonis dengan keindahan alam tropis.

Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA) Priandhi Satria menegaskan sirkuit ini bukan hanya untuk balapan.

“Promo Ramadhan ini kami hadirkan agar masyarakat dapat merasakan pengalaman di Sirkuit Mandalika dengan lebih terjangkau selama Ramadhan, tanpa mengurangi kualitas layanan. Kami berharap aktivitas ini dapat menjadi pilihan kegiatan positif selama bulan suci,” ujarnya.

Pernyataan itu menandai transformasi dari arena eksklusif menjadi ruang interaksi sosial dan ekonomi.

Harga Lebih Aksesibel, Pengalaman Tetap Kelas Dunia

Selama periode Ramadhan, MGPA menghadirkan program khusus dengan tarif lebih ramah. Aktivitas Lampaq di Sirkuit ditawarkan Rp50.000 per orang dari harga normal Rp75.000. Kegiatan ini berlangsung setiap akhir pekan pukul 06.00-09.00 WITA dan 17.00–18.00 WITA.

Taxi Ride dipatok Rp400.000 untuk dua lap, sementara CBR 250 Experience Rp400.000 untuk tiga lap. Bagi komunitas, tersedia Track Experience dengan potongan harga 15 persen.

Sport Tourism Menggerakkan Ekonomi Lokal

Program ngabuburide menjawab tantangan besar Mandalika, menjaga denyut kunjungan di luar kalender balap. 

Warga yang awalnya hanya mencari takjil kini memiliki alternatif ruang publik unik. Efeknya terasa hingga restoran, kafe, hotel, dan bazar UMKM di sekitar kawasan. 

Banyak pengunjung melanjutkan pengalaman mengaspal dengan berbuka puasa di area sekitar sirkuit. 

“Warga atau wisatawan harus memaksimalkan pengalaman tersebut untuk berkunjung ke Mandalika Circuit agar bisa menikmati fasilitas seperti lampaq, berkendara di sana, bisa drive dengan mobil ataupun motor,” kata Riyan, seorang pengunjung.

Pengembangan KEK Mandalika sejak awal dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Lombok Tengah dan NTB secara luas. 

Infrastruktur megah tanpa keterlibatan masyarakat lokal akan kehilangan makna.

Ngabuburide menunjukkan bagaimana ruang publik modern dapat diintegrasikan dengan nilai religius. Ramadhan menjadi momentum memperkuat solidaritas sosial dan ekonomi.