Pendakian Gunung Rinjani Kembali Dibuka 28 Maret 2026, Ini Pertimbangannya
Selasa, 24 Februari 2026 | 16:12
Penulis: Arif S

Sumber: Antara/HO-TNGR NTB
Jalur pendakian menuju puncak Gunung Rinjani akan kembali dibuka. Bagi banyak pendaki, keputusan ini menjadi kabar baik sekaligus penanda salah satu lanskap paling dramatis di Indonesia siap menyambut musim baru dengan standar keselamatan dan konservasi yang ditingkatkan.
Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) memastikan pembukaan kembali pendakian pada 28 Maret 2026, setelah ditutup sejak 1 Januari 2026 akibat kondisi Cuaca Ekstrem yang berisiko bagi keselamatan.
"Rencana pembukaan pendakian tanggal 28 Maret 2026 mendatang," ujar Kepala Balai TNGR Budhy Kurniawan dalam keterangan di Mataram, Selasa.
Alasan utama pembukaan kembali bukan semata faktor musim yang membaik. Menurut Budhy, keputusan ini diambil setelah evaluasi menyeluruh terhadap kondisi kawasan, fasilitas pendukung, serta kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi musim Kunjungan Wisata.
Sejak masa penutupan, Balai TNGR meningkatkan aspek keselamatan, konservasi, dan tata kelola destinasi dengan melibatkan pemerintah daerah serta masyarakat sekitar.
Pendekatan ini menjadi fondasi baru pengelolaan Rinjani, lebih kolaboratif dan berorientasi jangka panjang.
Transformasi tersebut juga terlihat pada penerapan teknologi. Balai TNGR mengaktifkan gelang RFID bagi pendaki, personal beacon untuk memantau posisi, membangun pusat komando, mengintegrasikan komunikasi radio, hingga menerapkan sistem zero waste berbasis digital.
Langkah-langkah ini dirancang untuk menciptakan Pengalaman Pendakian lebih aman sekaligus meminimalkan dampak terhadap ekosistem pegunungan.
Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal mendukungan penuh pembukaan kembali jalur pendakian dengan arah pengelolaan lebih terkoordinasi.
"Arah pengelolaan Gunung Rinjani bukan menuju pariwisata massal, melainkan pendakian yang eksklusif, berkualitas, dan berorientasi konservasi. Pengalaman kelas dunia harus berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem," ucapnya.
Iqbal juga menekankan pentingnya koordinasi antara Balai TNGR, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan masyarakat sekitar, terutama dalam aspek keselamatan dan konservasi.
Ia mencontohkan penanganan kecelakaan wisatawan yang membutuhkan kolaborasi lintas pihak, termasuk inisiatif vertical rescue sebagai wujud tanggung jawab bersama.
"Gunung Rinjani sebagai simbol kehidupan masyarakat. Kami berharap inovasi Balai TNGR dalam tata kelola lingkungan dan pariwisata segera diwujudkan," kata Iqbal.
Secara ekonomi, pembukaan kembali pendakian memiliki dampak signifikan. Sepanjang 2025, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari kawasan Wisata Gunung Rinjani mencapai Rp25,92 miliar, dengan total perputaran uang Rp182,05 miliar.
Jumlah Kunjungan Wisata pendakian tercatat 80.214 orang, terdiri dari 43.236 Wisatawan Mancanegara dan 36.978 Wisatawan Domestik.
Sementara kunjungan nonpendakian mencapai 52.108 orang, didominasi Wisatawan Domestik 51.311 orang dan 797 Wisatawan Mancanegara.***











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!