Wisatawan Lokal Kian Aktif, Pembatalan Hotel di Indonesia Terendah di Dunia
Sabtu, 21 Februari 2026 | 15:36
Penulis: Arif S

Sumber: Envato
Ada yang berubah dalam cara orang Indonesia bepergian setahun terakhir. Jika dulu bandara internasional menjadi simbol kebangkitan Pariwisata, kini pergerakan justru terasa kuat melalui Pemesanan Hotel di dalam negeri.
Platform akuisisi tamu dan pendapatan hotel global, SiteMinder mencatat adanya pemulihan dan pertumbuhan kembali dalam perjalanan domestik dan pariwisata Indonesia.
Hal ini seiring dengan peningkatan permintaan dari wisatawan lokal yang tercermin dari pemesanan hotel sepanjang 2025.
BACA JUGA
Danantara Gandeng QIA Kembangkan Labuan Bajo Jadi Destinasi Kelas Dunia
NTB Siap Jadi Magnet Wisata 2026, Kunjungan Ditargetkan Naik
Festival Musik Bukan Sekadar Hiburan, Tapi Daya Tarik Wisata Baru Indonesia
Mengacu pada SiteMinder’s Hotel Booking Trends yang disusun berdasarkan lebih dari 130 juta pemesanan hotel, pangsa tamu domestik melakukan check-in di properti Hotel Indonesia tahun 2025 mencapai 48 persen. Angka ini meningkat 5,6 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya.
"Ini tertinggi kedua secara global setelah Kanada," ungkap Country Manager SiteMinder Indonesia Fifin Prapmasari.
Angka tersebut memperlihatkan pergeseran signifikan. Pada periode sama, pangsa tamu internasional turun menjadi 52 persen dari 57 persen pada tahun 2024, sehingga permintaan domestik dan internasional hampir seimbang.
Indonesia, yang selama ini dikenal sebagai magnet Wisatawan Mancanegara, kini menemukan kekuatan baru pada pasar dalam negerinya sendiri.
Fifin mengatakan, perubahan pola pemesanan ini sejalan dengan lonjakan pariwisata domestik sepanjang tahun lalu, di mana Indonesia mencatat kenaikan tahunan sebesar 19 persen dalam perjalanan domestik.
Menariknya, perilaku wisatawan lokal juga menunjukkan karakter berbeda. Seiring dengan meningkatnya perjalanan lokal, tingkat pembatalan pemesanan hotel menurun menjadi 11,38 persen atau terendah di dunia, sementara rentang waktu pemesanan menjadi lebih pendek.
Waktu pemesanan hotel berkurang 7 persen menjadi 19 hari, jauh di bawah rata-rata global 32 hari, dan 80 persen pemesanan hotel adalah untuk menginap semalam, dibandingkan dengan rata-rata global 74 persen.
Sementara itu, tarif kamar rata-rata turun 9,38 persen secara tahunan menjadi Rp1.884.476.
“Menurunnya jumlah pembatalan, pemesanan yang dilakukan semakin dekat dengan tanggal menginap, serta durasi tinggal yang lebih singkat mencerminkan semangat wisatawan lokal untuk menjelajahi negeri sendiri,” kata Fifin.
Bagi hotel, lanjut dia, peningkatan permintaan untuk perjalanan domestik memungkinkan penerapan harga berdasarkan kebutuhan dan kreativitas terhadap penawaran lokal.
“Hal ini memanfaatkan pengetahuan mendalam mereka tentang apa yang disukai dan dibutuhkan oleh wisatawan lokal untuk mempromosikan fasilitas hotel yang unik, sekaligus merancang berbagai penawaran yang menarik dan tidak hanya memaksimalkan pemasukan per tamu tetapi juga memberikan pengalaman menginap yang menyenangkan,” kata Fifin.
Ia menilai, Wisatawan Domestik merupakan kekuatan signifikan. Karena itu ia menyarankan sebaiknya hotel memanfaatkan pertumbuhan mereka, sama seperti untuk tamu internasional.
Pola perjalanan pun semakin merata. Laporan SiteMinder menunjukkan, meski Juli dan Agustus tetap menjadi bulan puncak pariwisata Indonesia pada tahun 2025, permintaan penginapan hotel menjadi lebih merata sepanjang periode pertengahan tahun.
Januari bahkan mencatat pertumbuhan tahunan tertinggi, dengan pangsa pemesanan naik menjadi 7,69 persen didukung liburan Tahun Baru dan perayaan Tahun Baru Imlek.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!