Festival Musik Bukan Sekadar Hiburan, Tapi Daya Tarik Wisata Baru Indonesia
Senin, 5 Januari 2026 | 16:00
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Antaranews
Musik perlahan bertransformasi dari sekadar hiburan menjadi alasan utama orang bepergian. Pada 2026, tren pariwisata global diprediksi akan semakin didominasi oleh pariwisata berbasis pengalaman, dan musik disebut-sebut sebagai salah satu magnet terkuat yang mampu menggerakkan wisatawan datang ke suatu destinasi, termasuk di Indonesia.
Seiring perubahan pola perjalanan, wisatawan kini tak lagi hanya berburu destinasi indah atau spot ikonik. Mereka mencari pengalaman yang meninggalkan kesan emosional. Musik, dengan kekuatan memorinya, dinilai mampu menghadirkan pengalaman personal yang membuat perjalanan terasa lebih bermakna.
Pegiat pariwisata musik, Penny Hutabarat, mengungkapkan bahwa pariwisata musik merupakan bentuk perjalanan di mana musik menjadi motivasi utama wisatawan untuk berkunjung ke suatu tempat.
BACA JUGA
Danantara Gandeng QIA Kembangkan Labuan Bajo Jadi Destinasi Kelas Dunia
NTB Siap Jadi Magnet Wisata 2026, Kunjungan Ditargetkan Naik
Wisata Indonesia 2025 Meledak, Pergerakan Wisman dan Wisatawan Lokal Tembus Rekor
Pengamat musik dari Universitas Indonesia tersebut menjelaskan bahwa pariwisata musik memiliki spektrum luas. Mulai dari konser dan festival, kunjungan ke museum musik, hingga eksplorasi kota yang memiliki sejarah panjang dalam industri musik.
Beberapa negara telah membuktikan kekuatan tren ini. Inggris, misalnya, menjadikan Liverpool sebagai destinasi wajib bagi penggemar The Beatles. Di Amerika Serikat, Nashville tumbuh sebagai pusat wisata musik country dunia. Sementara di Asia, Korea Selatan menjadi contoh paling nyata bagaimana K-pop mampu menarik jutaan Wisatawan Mancanegara setiap tahunnya.
“Wisatawan itu saat ini cenderung ingin merasakan pengalaman, dan musik menjadi pengalaman paling emosional yang membuat orang bergerak ke suatu destinasi,” ungkap Penny.
Secara global, pariwisata musik menunjukkan pertumbuhan signifikan. Data Customer Insight 2023 mencatat valuasi pasar music tourism telah mencapai 6,6 miliar dolar AS dan diproyeksikan terus meningkat hingga 2032. Lonjakan ini juga tercermin dari keberlanjutan festival besar seperti Glastonbury dan Coachella yang terus berkembang sejak awal 2000-an.
Di Indonesia, geliat serupa terasa semakin kuat. Menurut Penny, pascapandemi terjadi lonjakan signifikan pada penyelenggaraan festival musik. Antusiasme penonton yang tinggi menunjukkan bahwa penikmat musik rindu akan pengalaman menonton langsung.
“Efeknya, pariwisata musik memasuki fase renaissance dan tumbuh lebih besar dari sebelumnya,” jelas Penny.
Indonesia dinilai memiliki modal besar untuk mengembangkan pariwisata musik sebagai penggerak ekonomi kreatif. Keragaman budaya, lanskap alam yang unik, serta melimpahnya talenta kreatif menjadi kombinasi ideal untuk menciptakan pengalaman musik yang berbeda dari negara lain.
Dari hasil penelitiannya, Penny menyoroti dua festival yang dianggap sebagai praktik terbaik pariwisata musik di Indonesia.
Prambanan Jazz Festival menjadi contoh bagaimana musik dapat berpadu dengan kekuatan warisan budaya. Digelar di kompleks Candi Prambanan, Yogyakarta, festival ini menawarkan pengalaman menonton konser dengan latar situs warisan dunia. Wisatawan tak hanya datang untuk musik, tetapi juga menikmati keindahan candi dan kehidupan masyarakat lokal di sekitarnya.
“Banyak generasi silver atau rambut putih yang mengadakan reuni dengan mendatangi Prambanan Jazz. Tidak hanya itu, generasi muda juga ikut mendominasi gelaran musik tahunan ini, sehingga kolaborasi lintas generasi kumpul semua disini,” tutur Penny.
Sementara itu, Ngayogjazz menghadirkan konsep yang sangat berbeda. Festival ini digelar secara bergilir di desa-desa Kabupaten Bantul. Selama acara berlangsung, warga lokal terlibat langsung sebagai tuan rumah. Pengalaman inilah yang menarik wisatawan mancanegara karena menawarkan authentic local experience yang sulit ditemukan di tempat lain.
Selain menghadirkan Pengalaman Budaya, pariwisata musik juga menciptakan efek berantai bagi ekonomi kreatif. Setiap festival musik mendorong aktivitas UMKM lokal, mulai dari kuliner, kerajinan tangan, hingga produk souvenir. Lonjakan pengunjung membuat omzet pedagang meningkat signifikan selama acara berlangsung.
Dampak lainnya terlihat pada sektor lapangan kerja musiman. Festival musik membuka peluang kerja bagi masyarakat setempat, mulai dari kru teknis panggung, petugas keamanan, logistik, hingga kebersihan. Sektor akomodasi dan transportasi pun ikut terdorong. Hotel, homestay, dan layanan transportasi kerap penuh dipesan jauh hari sebelum festival digelar.
Tren ini semakin kuat dengan kehadiran artis internasional di berbagai festival dan konser di Indonesia. Fenomena ini terbukti menjadi magnet bagi generasi muda yang rela bepergian lintas kota demi menyaksikan musisi favorit tampil langsung. Dalam banyak kasus, sebuah kota berubah menjadi pusat keramaian selama beberapa hari dan ikut dikenal lebih luas sebagai Destinasi Wisata.
Melihat potensi tersebut, Kementerian Pariwisata menjadikan musik sebagai salah satu daya tarik utama dalam kalender Kharisma Event Nusantara (KEN). Program ini terbukti mampu menarik lebih dari 8,4 juta pengunjung, meningkat 13,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Pada KEN 2024, kenaikannya di atas 10 persen atau menyumbang Rp 238,2 miliar produk domestik bruto (PDB). Dari angka ini, tentu kami hadirkan kembali 110 event yang berbasis budaya (termasuk musik) untuk menjadi daya tarik utama pariwisata,” ungkap Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa.
Penny menegaskan bahwa kunci keberhasilan pariwisata musik Indonesia terletak pada autentisitas. Festival musik tidak cukup hanya menawarkan pertunjukan, tetapi juga pengalaman menyeluruh yang melibatkan masyarakat lokal, kuliner khas, suasana budaya, serta lanskap alam dan situs heritage.
“Inilah yang disebut sebagai experience economy, situasi ketika orang datang bukan hanya melihat konser, tetapi untuk mendapatkan memori, emosi, dan keterlibatan langsung dengan budaya lokal,” kata Penny Hutabarat.
Dengan pendekatan tersebut, pariwisata musik berpotensi menjadi wajah baru pariwisata Indonesia, bukan hanya sebagai tempat berlibur, tetapi sebagai ruang untuk merasakan, mengingat, dan terhubung secara emosional.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!