Angelique Widjaja Teruskan Jejak Sang Mentor, Ajak Anak-anak Ikuti Pelatihan Tenis
Minggu, 12 Oktober 2025 | 09:45
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Antaranews
Ada pemandangan berbeda di sela turnamen ITF World Tennis Tour Juniors Deddy Tedjamukti International Junior Championships 2025 di Jakarta. Di tengah deretan petenis muda yang berlaga serius, lapangan tiba-tiba dipenuhi tawa anak-anak yang memegang raket hampir sebesar tubuh mereka.
Mereka datang bukan untuk mengejar poin dunia, melainkan belajar memukul bola, tertawa, dan mengenal semangat pantang menyerah dari legenda tenis Indonesia, semangat yang dulu diajarkan mendiang Deddy Tedjamukti.
Adalah Angelique Widjaja, mantan petenis nasional yang akrab disapa Angie, yang menginisiasi kegiatan ini. Bersama beberapa rekan seperti Sandy Gumulya, Beatrice Gumulya, dan Lavinia Tananta, Angie mengajak anak-anak ikut pelatihan tenis sebagai bagian dari kegiatan sosial dalam rangkaian turnamen berlevel ITF J30.
BACA JUGA
Shinar Zahra Sapu Bersih Dua Gelar di Deddy Tedjamukti Championship 2025
Janice Tjen Juara WTA Guangzhou, Simbol Kebangkitan Tenis Indonesia di Dunia
Nominasi WTA Award 2025: Janice Tjen, Petenis Muda Indonesia yang Melesat ke Panggung Dunia
“Semoga kegiatan ini mampu mengembalikan senyum sehat anak-anak Indonesia, sebagaimana tujuan Yayasan Kanker Anak Indonesia,” ujar Angie yang pernah menembus peringkat 55 dunia dan merupakan murid Deddy sejak usia sembilan tahun.
Tenis, Harapan, dan Warisan
Tahun ini, turnamen bekerja sama dengan Yayasan Kanker Anak Indonesia (YKAI). Kolaborasi ini menjadikan ajang internasional ini bukan hanya soal kompetisi, tapi juga ruang untuk berbagi semangat hidup bagi anak-anak penyintas kanker dari keluarga pra-sejahtera.
Nilai yang dibawa turnamen ini sejalan dengan filosofi sang legenda yang diabadikan namanya dalam kejuaraan tersebut. Deddy Tedjamukti bukan hanya pelatih tenis, tapi juga mentor kehidupan bagi banyak atlet muda Indonesia. Ia percaya bahwa tenis tak sekadar olahraga melainkan cara untuk menumbuhkan karakter, disiplin, dan empati.
Sengit di Lapangan, Hangat di Hati
Di sisi kompetisi, pertarungan antarpetenis muda Indonesia tak kalah menarik. Nomor tunggal putri memastikan terciptanya All Indonesian Final, setelah Shinar Zahra Shukayna Heriyadi Sunggoro dan Daniella Clara Surjapranata sama-sama menyingkirkan lawan dari Thailand.
Shinar, unggulan pertama, menang 7-5, 6-4 atas Paweenon Nualsri, sedangkan Clara menaklukkan Paramee Tadkaew 6-4, 6-4.
“Saya akan berusaha tampil terbaik. Rekor pertemuan dengan Clara 1-0,” kata Shinar setelah pertandingan.
Sementara di sektor putra, M. Alfaradu Sumirat menjadi satu-satunya wakil Indonesia di final setelah mengalahkan Eric Matthew Gunawan 6-2, 6-1. Ia akan berhadapan dengan petenis Korea Selatan Geonhyung Kim, yang sebelumnya menundukkan Rafa Jeconia Verdasco Mangunsong 6-3, 6-4.
Turnamen ini sekaligus menjadi seri penutup dari tujuh ajang tenis junior internasional di Indonesia sepanjang 2025 dan sejak tahun lalu, turnamen ini telah menerima ITF Tournament Recognition Award, sebuah pengakuan bergengsi dari Federasi Tenis Internasional.
Mengenang Sentuhan Tangan Dingin Sang Pelatih
Deddy Tedjamukti (1964–2024) adalah nama besar dalam sejarah tenis Indonesia. Ia dikenal melahirkan banyak talenta muda, termasuk Angie Widjaja yang di bawah asuhannya meraih gelar Grand Slam Junior Wimbledon 2001, prestasi langka bagi tenis Indonesia.
Deddy wafat pada 5 Oktober 2024 setelah dua tahun berjuang melawan kanker. Kini, semangat dan dedikasinya terus hidup lewat turnamen ini, yang tak hanya melahirkan juara baru, tapi juga menjaga nilai kemanusiaan di balik olahraga.
Turnamen Deddy Tedjamukti International Junior Championships bukan sekadar kompetisi tenis, tapi sebuah perayaan atas nilai-nilai yang ia tanamkan, kerja keras, ketulusan, dan cinta terhadap olahraga. Di setiap bola yang dipukul, ada semangat untuk terus melanjutkan warisan itu. (Antara)










