Lawan Erosi Pesisir, Jepang Gelontorkan Rp1 Triliun untuk Konservasi Pantai Bali
Kamis, 12 Februari 2026 | 15:39
Penulis: Arif S

Sumber: Envato
Di balik pesona lanskap tropisnya, Bali menghadapi ancaman abrasi yang perlahan menggerus pesisirnya. Pemerintah Jepang melanjutkan proyek konservasi pantai di Bali dengan tujuan mengendalikan dampak erosi di sejumlah kawasan strategis pesisir Pulau Dewata.
Proyek konservasi ini telah memasuki fase II dengan nilai 9,85 miliar yen atau sekitar Rp1,08 triliun, yang ditargetkan rampung pada 2028.
“Jepang berkomitmen akan terus berkontribusi dalam mendukung pembangunan Indonesia yang kita cintai,” ujar Konsul Jenderal Jepang, Miyakawa Katsutoshi kepada Antara di Denpasar, Bali, Kamis.
BACA JUGA
Travel Warning Korsel, Ini Langkah Kemenpar Jaga Kepercayaan Wisatawan Tetap ke Bali
Indonesia Masuk Daftar Destinasi Alternatif Favorit Influencer Dunia
Tren Baru Wisatawan China ke Bali: Anak Muda, Digital, dan Solo Traveling
Dari Kuta hingga Candidasa: Menjaga Garis Pantai Ikonik Bali
Fase kedua proyek konservasi ini mencakup sejumlah Destinasi Wisata utama Bali yang selama ini menjadi magnet Wisata Dunia.
Paket II meliputi kawasan Kuta-Legian-Seminyak di Kabupaten Badung.
Sementara Paket III mencakup Nusa Dua, Tanjung Benoa, dan Sanur di Kabupaten Badung dan Kota Denpasar.
Tak hanya kawasan selatan yang padat wisatawan, konservasi juga diperluas ke Candidasa di Kabupaten Karangasem dalam Paket I. Wilayah ini sejak lama dikenal rentan terhadap abrasi.
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air pada Kementerian Pekerjaan Umum yang menjadi badan pengelola proyek, menegaskan inisiatif ini bukan sekadar proyek bilateral, melainkan bagian dari strategi nasional menjaga keberlanjutan pesisir.
Nilai investasi fase II (2021–2028) meningkat dibanding fase pertama periode 2000–2008, mencapai 9,5 miliar yen atau sekitar Rp1,04 triliun.
Peningkatan ini mencerminkan skala tantangan yang kian kompleks sekaligus pentingnya menjaga daya tahan pantai Bali sebagai tulang punggung pariwisata Indonesia.
Teknologi Rekayasa Pesisir dan Revitalisasi Karang
Proyek Konservasi Pantai Bali didanai melalui bantuan pembangunan resmi Jepang, dengan fokus menekan abrasi sekaligus merevitalisasi ekosistem karang.
Pada fase pertama, intervensi dilakukan melalui berbagai pendekatan teknik rekayasa pesisir.
Di Sanur dilakukan pengisian pasir sebanyak 300 ribu meter kubik, pembangunan groin, serta pemecah gelombang laut.
Di Nusa Dua, pengisian pasir mencapai 340 ribu meter kubik disertai pembangunan groin dan head land.
Kuta menerima pengisian pasir terbesar, 520 ribu meter kubik, dilengkapi pemecah gelombang offshore dan transplantasi karang.
Sementara di pesisir Pura Tanah Lot dibangun panel batu dan karang untuk melindungi kawasan suci tersebut dari hempasan ombak.
Pada fase II, metode yang digunakan secara umum serupa dengan fase pertama.
Di Kuta-Legian-Seminyak dilakukan pengisian pasir serta konstruksi breakwater atau pemecah gelombang laut.
Untuk Paket III di Nusa Dua, Tanjung Benoa, dan Sanur, material pasir berasal dari stockpile Mertasari serta pasir yang terakumulasi secara alami dari waktu ke waktu.
Adapun di Candidasa, dilakukan pengisian pasir, perbaikan tembok laut dan groin yang sudah ada, serta pemeliharaan berkelanjutan.
Groin merupakan struktur yang dibangun tegak lurus dari garis pantai untuk menahan pergerakan pasir akibat arus laut. Solusi teknis ini krusial dalam mengembalikan stabilitas garis pantai.
Menjaga Masa Depan Pariwisata Bali
Bagi Bali, garis pantai bukan sekadar bentang geografis tetapi ruang hidup masyarakat, panggung budaya, sekaligus fondasi Ekonomi Pariwisata.
Setiap butir pasir yang bertahan berarti keberlanjutan bagi hotel, restoran, nelayan, hingga pelaku usaha kecil di sepanjang pesisir.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!