ID EN

Mudik Terbalik di China: Generasi Muda Undang Orang Tua ke Kota Perantauan Saat Imlek

Kamis, 12 Februari 2026 | 15:09

Penulis: Arif S

Stasiun Kereta Nanjing di Kota Nanjing
Stasiun Kereta Nanjing di Kota Nanjing, Provinsi Jiangsu, China.
Sumber: Antara/Xinhua/Yang Suping

Di tengah arus migrasi terbesar tahunan di dunia, sebuah pola baru perlahan mengubah arah perjalanan. Selama puluhan tahun, Imlek identik dengan jutaan warga China pulang ke kampung halaman. Kini semakin banyak Generasi Muda mengajak orang tua ke kota tempat mereka merantau.

Fenomena ini dikenal sebagai fanxiang guonian atau Mudik Terbalik yang kian populer di kalangan muda China. Di balik perubahan arah ini, tersimpan cerita tentang urbanisasi, efisiensi perjalanan, hingga redefinisi makna pulang.

Data Meituan Travel, platform penjualan tiket daring populer di Tiongkok, menunjukkan penjualan Tiket Pesawat untuk mudik terbalik pada 2026 meningkat 84 persen dibandingkan tahun 2025. Beijing, Shanghai, dan Chengdu menjadi destinasi utama pada masa libur Tahun Baru China.

Angka itu bukan sekadar statistic tetapi mencerminkan pergeseran budaya perjalanan.

Data lain menunjukkan, pada masa libur Imlek tahun ini terjadi peningkatan signifikan angka Perjalanan Udara yang dilakukan warga berusia 60 tahun. 

Tujuannya kota besar seperti Beijing (naik 40 persen), Chengdu (naik 31 persen), Tianjin (naik 30 persen), dan Guangzhou (27 persen).

Bandara besar biasanya dipenuhi pekerja muda. Kini bandara besar juga menyambut kedatangan lansia dengan koper dan tradisi keluarga ke apartemen kota modern.

Kota Besar Jadi Panggung Perayaan

Sejumlah kota besar di China mengadakan kegiatan bagi warga yang tidak mudik dan mengakomodasi pengunjung mudik terbalik pada masa libur Imlek.

Di Shanghai, lebih dari 2.000 kegiatan budaya dan wisata akan digelar. Sementara Beijing akan mengadakan kegiatan seperti festival lampion, pertunjukan budaya, dan bazar di 26 lokasi berbeda.

Imlek yang dulu terasa intim di desa kini tampil megah di pusat kota metropolitan, dengan lampion merah menerangi gedung pencakar langit dan pertunjukan budaya mengisi ruang publik urban.

Viral di Media Sosial

Fenomena ini tak hanya ramai di terminal dan bandara, tetapi juga di ranah digital. Topik terkait mudik terbalik di media sosial Weibo pada Senin 9 Februari 2026 mencapai 2,2 juta tampilan.

Sementara di platform Xiaohongshu, sejumlah pengguna membagikan pengalaman mengajak orang tuanya mudik terbalik di tempat mereka merantau.

Seorang pengguna Xiaohongshu dari Henan yang bekerja di Shenzhen membagikan ceritanya mengajak orang tua mudik terbalik ke kota tempatnya bekerja. Menurutnya, ini menghemat pengeluaran perjalanan, akomodasi, dan konsumsi.

Pengguna platform lain menyebut mudik terbalik lebih mudah karena tidak perlu berebut membeli tiket, tidak kelelahan melakukan perjalanan jauh dan mengunjungi rumah sanak saudara.

Di tengah kemacetan transportasi dan lonjakan harga tiket selama musim mudik, kenyamanan menjadi pertimbangan rasional sekaligus emosional.

Lebih dari Sekadar Efisiensi

Menurut siaran media pemerintah China, Wakil Direktur Pusat Penelitian Ekonomi di Central China Normal University Hu Jiliang menyebut tren mudik terbalik dapat menumbuhkan pemahaman lebih baik antara orang tua dan anak yang tinggal di perantauan. Selain itu juga meningkatkan perputaran uang di kota.

Artinya, mudik terbalik bukan sekadar strategi hemat biaya tetapi menciptakan ruang dialog antargenerasi di lingkungan urban.

Orang tua dapat melihat langsung ritme kerja anak mereka. Sementara anak memperkenalkan dunia baru yang menjadi realitas keseharian mereka.

Di Tengah 9,5 Miliar Perjalanan

Mudik merupakan salah satu tradisi penting dalam perayaan tahun baru Imlek di China.

Pada masa mudik Imlek 2026, diperkirakan ada 9,5 miliar perjalanan penumpang di China. Rinciannya, 540 juta perjalanan kereta api dan 95 juta perjalanan melalui jalur Udara.

Di tengah angka yang luar biasa besar itu, mudik terbalik mungkin masih menjadi bagian kecil dari keseluruhan arus perjalanan. 

Namun ini menandai perubahan arah simbolik, rumah tidak lagi selalu berarti desa asal, tetapi juga kota tempat mimpi dibangun.

Dalam lanskap China modern yang terus bergerak, Imlek tetap tentang keluarga. Hanya saja, kini keluarga itu bertemu di apartemen tinggi di Shanghai, di distrik teknologi Shenzhen, atau di antara festival lampion Beijing.

Tradisi tetap hidup, meski jalannya berbalik arah.(Xinhua)