Smart Traveling, Jangan Sampai Rencana Liburanmu Hancur Karena Terlalu Percaya Pada AI
Senin, 2 Februari 2026 | 18:02
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Freepik
Pernah nggak saat lagi asyik scrolling rekomendasi Hidden Gem di TikTok atau blog travel, terus nemu tempat yang kelihatannya surga banget? Nah, hati-hati! Jangan sampai seperti para pelancong di Tasmania, Australia, yang baru-baru ini kena "prank" teknologi.
Tasmania Tours, salah satu operator tur di sana, baru saja tersandung masalah serius gara-gara terlalu percaya sama Artificial Intelligence (AI). Demi konten blog yang "segar", mereka mempublikasikan rekomendasi destinasi bernama "Weldborough Hot Springs".
AI tersebut mendeskripsikan Weldborough sebagai pedesaan sejuk yang punya Pemandian Air Panas tersembunyi yang eksotis. Masalahnya, mata air panas itu nggak pernah ada di dunia nyata.
BACA JUGA
Jelajah Jakarta, Rekomendasi Wisata Libur Panjang Tahun Baru Imlek dari Festival, Lari, hingga Atraksi Cahaya
10 Kreator Traveling Indonesia dengan Cerita Paling Autentik
Panduan Memilih Destinasi Liburan Terbaik 2026, Dari Kuliner hingga Petualangan
Efeknya? Ribuan turis yang penasaran langsung menyerbu Weldborough. Kristy Probert, pemilik Hotel Weldborough, sampai kebingungan menghadapi serbuan turis yang "tersesat" ini.
"Awalnya hanya beberapa panggilan telepon, namun kemudian orang-orang mulai berbondong-bondong datang. Saya menerima sekitar lima panggilan sehari, dan setidaknya ada dua hingga tiga orang yang tiba di hotel setiap hari hanya untuk mencari mata air panas itu," ujar Probert.
Pihak Tasmania Tours pun kena getahnya. Mereka dibanjiri komplain dan hate speech secara online karena dianggap melakukan penipuan. Scott Hennessey, pemilik induk perusahaan tersebut, akhirnya mengaku bahwa konten itu adalah hasil "halusinasi" AI yang luput dari verifikasi karena diunggah saat manajemen sedang di luar negeri.
"Sistem AI kami benar-benar kacau," aku Scott Hennessey.
Fenomena ini jadi alarm buat kita semua. Data menunjukkan 37% Traveler mulai pakai AI untuk bikin itinerary. Tapi, menurut Profesor Anne Hardy dari Southern Cross University, 90% rencana perjalanan hasil AI ternyata mengandung kesalahan.










