Generasi Z Dorong Tren Wisata Visual, Destinasi Bekasi Kian Dilirik
Jumat, 23 Januari 2026 | 12:04
Penulis: Arif S

Sumber: Antara Foto/Risky Andrianto
Bekasi perlahan menemukan wajah barunya di mata generasi Z. Kota yang selama ini identik sebagai kawasan penyangga Jakarta kini muncul sebagai kanvas urban, tempat estetika visual, ruang terbuka, dan pengalaman personal bertemu dalam satu perjalanan.
Tren Wisata Visual yang menonjolkan nilai estetika sekaligus pengalaman ruang menjadi pintu masuk meningkatnya minat wisatawan muda ke sejumlah destinasi di Bekasi.
Bagi generasi Z, perjalanan bukan semata berpindah tempat, melainkan tentang bagaimana sebuah ruang dirasakan dan diceritakan kembali.
BACA JUGA
Ramadan Trip: 5 Masjid Estetik di Jawa Barat Cocok untuk Wisata Religi
ASEAN Tourism Awards 2026: Kebun Raya Bogor Diakui sebagai Wisata Hijau Perkotaan
Wisata Estetik Jadi Tren, Bekasi Dilirik Traveler Gen Z
Aspek visual kini menjadi pertimbangan utama dalam memilih destinasi dan akomodasi, berdampingan dengan kebutuhan relaksasi dan pemulihan emosi.
“Generasi Z sangat selektif. Mereka mencari tempat yang bukan hanya nyaman, tetapi juga memiliki karakter visual kuat. Pengalaman yang bisa dibagikan menjadi nilai tambah yang penting,” ujar perwakilan indistri perhotelan Yudhitia Kurniawan, Jumat.
Perubahan preferensi ini mendorong pelaku industri Pariwisata, mulai dari hotel hingga pengelola destinasi, melakukan penataan ruang secara lebih kreatif.
Desain tematik, area komunal estetik, serta pencahayaan yang dirancang dengan cermat menjadi elemen penting dalam menciptakan pengalaman visual berkesan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan motivasi utama generasi Z dalam berwisata masih berakar pada kebutuhan dasar, refreshing sebesar 67,2 persen. Diikuti eksplorasi budaya 18,5 persen dan pencarian pengalaman baru 14,3 persen.
Prosentase ini mengungkap, di balik dorongan media sosial, wisatawan muda tetap mencari jeda, makna, dan pemulihan emosi.
Di Bekasi, tren wisata visual mulai membuka peluang baru bagi pengembangan pariwisata urban dan Ekonomi Kreatif.
Wilayah penyangga Jakarta ini menemukan momentumnya dengan menawarkan ruang-ruang yang memadukan alam, desain, dan hiburan tematik.
“Wisata yang instagramable bukan sekadar soal foto. Jika dikelola dengan baik, estetika bisa menjadi pintu masuk untuk menggerakkan ekonomi lokal dan memperkenalkan destinasi yang sebelumnya kurang dikenal,” katanya.
Sejumlah destinasi mulai mencuri perhatian generasi Z. Hutan Bambu Bekasi menawarkan keteduhan visual yang kontras dengan lanskap kota.
Sabana Delta Mas menghadirkan ruang terbuka luas dengan nuansa alami. Sementara Situ Rawa Gede menyuguhkan ketenangan air dan ruang hijau.
Di sisi lain, Trans Snow World Bekasi memberi pengalaman tematik unik, sebuah dunia musim dingin di tengah kota tropis.
Kehadiran destinasi-destinasi ini dinilai mampu memperkuat posisi Bekasi sebagai alternatif tujuan wisata perkotaan di Jawa Barat.
Namun, estetika bukan tujuan akhir. Yudhitia berharap pengembangan wisata visual dapat berjalan seiring dengan penataan ruang berkelanjutan, agar pengalaman wisata tidak berhenti pada konten digital semata, melainkan meninggalkan kesan utuh dan bertahan lama.
“Dengan integrasi data akurat dan perencanaan wilayah terarah, Bekasi kini bersiap menjadi pemimpin dalam pasar pariwisata urban di Jawa Barat, menyasar generasi yang menghargai keindahan sekaligus makna dari sebuah perjalanan,” pungkasnya.










