ID EN

Jejak Kuliner Minang di Singapura, Warong Nasi Pariaman Tutup 31 Januari Setelah 78 Tahun

Jumat, 23 Januari 2026 | 13:30

Penulis: Arif S

Warong Nasi Pariamanakan
Warong Nasi Pariamanakan di Singapura.
Sumber: Facebook

Di jantung Kampong Glam, aroma rempah yang selama puluhan tahun menjadi penanda pulang bagi banyak perantau Indonesia di Singapura akan menghilang. Warong Nasi Pariamanakan akan menutup pintunya pada 31 Januari 2026, mengakhiri perjalanan kuliner sejak 1948.

Kabar ini diumumkan pengelola melalui media sosial yang disambut gelombang nostalgia dari pelanggan lintas generasi.

"Assalamualaikum semuanyaa... Dengan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya, kami ingin menginformasikan bahwa Warong Nasi Pariaman akan berhenti bisnis pada tanggal 31 Januari 2026.Terima kasih atas dukungan, cinta, dan kenangan manis bersama kami selama ini," bunyi pengumuman di akun Facebook mereka yang diunggah pada 20 Januari 2026.

Berada di ruko Jalan Jembatan Utara 738, tak jauh dari Masjid Sultan, Warong Nasi Pariaman diyakini sebagai Warung Nasi Padang tertua di Singapura.

Warung ini bukan sekadar tempat makan, tetapi persinggahan emosional, terutama bagi Wisatawan Indonesia yang singgah untuk menunaikan salat lima waktu. 

Dikutip dari Strait Times, Kamis 22 Januari 2026, warung ini dijalankan secara turun-temurun, menjaga cita rasa dan tradisi Minangkabau selama hampir delapan dekade.

Mengambil nama dari kota pesisir di Sumatera Barat, Warong Nasi Pariaman menyajikan hidangan rendang sapi kaya rempah, ikan bakar asap, kalio sotong dengan kuah santan kental, hingga ayam gulai lembut. Sajian-sajian ini menjadikan warung ini lebih dari sekadar destinasi kuliner tetapi arsip hidup warisan rasa.

Menurut platform Singapore Infopedia milik National Library Board, Warong Nasi Pariaman diyakini sebagai warung tertua di Singapura yang menyajikan nasi padang. Pada 2016, tempat ini juga masuk dalam daftar penerima Heritage Heroes Awards, sebuah pengakuan bagi pelaku kuliner yang menjaga tradisi lokal di tengah perubahan kota.

Meski pihak pengelola belum mengungkap alasan resmi penutupan, banyak pihak menduga tekanan ekonomi menjadi faktor utama. 

Lonjakan harga sewa di kawasan Kampong Glam disebut-sebut membuat usaha kecil sulit bertahan. 

Channel News Asia melaporkan harga sewa di kawasan tersebut melonjak dari sekitar SGD 3 ribu menjadi SGD 10 ribu dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan ini membuat banyak penyewa tak lagi mampu bertahan. 

Praktik penyewaan ulang yang agresif, masuknya brand besar, serta bisnis berorientasi pariwisata bermodal kuat semakin memperketat persaingan.

Ironisnya, Kampong Glam telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi sejak 1989, sebuah pusat sejarah komunitas Melayu Muslim Singapura. 

Jalan Arab dikenal dengan toko tekstil dan karpet tradisional, sementara Jalan Haji berkembang menjadi kawasan kreatif dengan kafe dan gerai gaya hidup. Di tengah transformasi ini, ruang bagi warung-warung bersejarah kian menyempit.

Bagi para pelanggan setia, penutupan Warong Nasi Pariaman adalah kehilangan personal.
Di Instagram dan Facebook, pelanggan membagikan kenangannya dengan tempat itu. 

Ketika pintu Warong Nasi Pariaman akhirnya tertutup, yang hilang bukan hanya sebuah warung, melainkan sepotong sejarah kuliner Asia Tenggara, kisah tentang migrasi, ketekunan keluarga, dan rasa yang bertahan melampaui zaman. 

Hingga akhir Januari 2026, satu piring nasi Padang di Kampong Glam masih bisa dinikmati. Setelah itu, kenangannya akan hidup dalam ingatan mereka yang pernah duduk di bangku warung legendaris.