ID EN

Medvedev dan De Minaur Melangkah ke Perempat Final Shanghai Masters 2025

Kamis, 9 Oktober 2025 | 09:39

Penulis: Respaty Gilang

Ilustrasi tenis
Ilustrasi Medvedev dan De Minaur melaju ke perempat final Shanghai Masters.
Sumber: Freepik

Langit malam Shanghai menyambut para pemain dengan udara lembap dan lampu reflektor yang memantulkan segaris bayangan di Qizhong Forest Arena. Di tengah panggung megah itu, dua nama besar Daniil Medvedev dan Alex de Minaur menapak menuju babak perempat final ATP Masters 1000. Namun perjalanan mereka tidaklah mudah, setiap titik, setiap rally, adalah medan ujian mental dan fisik.

Medvedev, setelah hanya delapan hari mundur karena kram di semifinal Beijing, kembali menunjukkan kelasnya. Ia menundukkan petenis muda Amerika, Learner Tien, dalam duel dramatis 7-6(6), 6-7(1), 6-4. Set kedua menjadi momen genting, kelelahan tampak ketika kram mendera, namun dengan jiwa juara, Medvedev mampu menstabilkan diri dan menutup pertandingan di set ketiga.

“Saya pikir bagian tersulitnya adalah kami pernah bermain dua kali sebelumnya, dan menurut saya dia pemain yang luar biasa, karena servisnya tidak bagus, padahal servis sangat penting dalam tenis,”
kata Medvedev, dikutip dari ATP.

Pernyataan itu mengandung rasa hormat sekaligus penilaian tajam, Learner Tien masih muda (usia 19 tahun) namun kiprahnya di peringkat ATP sudah menarik perhatian banyak pengamat tenis dunia. Medvedev memberikan pujian sekaligus pengakuan bahwa tidak mudah menghadapi lawan yang energik dan tumbuh cepat di dunia tenis.

Sementara itu, di bagian lain lapangan, Alex de Minaur mencetak tonggak prestasi penting. Dengan kemenangan atas Nuno Borges 7-5, 6-2, ia mencatat 50 kemenangan di level tur untuk musim 2025, sebuah pencapaian yang hanya dicapai oleh segelintir pemain tahun ini, yakni Carlos Alcaraz (67) dan Taylor Fritz (50).

Dalam 1 jam 47 menit, De Minaur bermain dengan keseimbangan luar biasa, 19 winners dibanding hanya 10 unforced errors. Statistik ini mencerminkan gaya permainannya agresif namun terkendali, tekanan dari baseline yang konsisten dan komitmen pada setiap poin. Di antara lawan-lawan permukaan keras, catatan 37 kemenangan di lapangan keras menjadi rekor musim terkuatnya.

“Bagi saya, ini menunjukkan konsistensi dan itulah yang paling saya banggakan. Tampil setiap pekan dan itu adalah angka yang luar biasa,”
ucap De Minaur mengenai pencapaian 50 kemenangan itu.

Prestasi ini juga meningkat dibanding musim terbaiknya di 2024 saat ia mencatat 47 kemenangan dan dua gelar dan menjadi acuan bahwa De Minaur dewasa sebagai pemain yang membangun fondasi jangka panjang.

Lapangan Keras, Tantangan Berat

Shanghai Masters tak pernah menjadi ajang ringan. Cuaca lembap dan kondisi keras Qizhong Forest Arena menuntut daya tahan ekstra. Beberapa pemain unggulan di turnamen ini justru tumbang atau menunjukkan performa menurun karena kelelahan atau cedera. Faktanya, dalam banyak edisi, ada pemain yang mundur ketika sudah dalam kondisi unggul gambaran betapa kerasnya tekanan turnamen Masters 1000 Asia.

Di sisi lain lapangan, Felix Auger-Aliassime menunjukkan performa impresif. Ia menundukkan Lorenzo Musetti dengan skor 6-4, 6-2 dalam 85 menit dan mengonversi 3 dari 6 kesempatan poin break. Aksi tenang Auger-Aliassime di lapangan keras menandakan kesiapan mental dan kapasitas fisik menghadapi turnamen kelas atas.

Dengan menghadapi Arthur Rinderknech selanjutnya, Auger-Aliassime solid dalam momentum—semangatnya menjadi pelengkap dinamika menarik di perempat final.

Pengalaman vs Nafsu Muda

Medvedev dan De Minaur kini berdiri di ambang peluang emas. Duel mereka di babak perempat final bukan sekadar pertarungan skor, melainkan benturan filosofi tenis, pengalaman vs nafsu muda, strategi vs laju taktis. Di balik lampu sorot Shanghai, satu hal jelas, mereka tidak hanya berjuang untuk kemenangan, tetapi untuk meninggalkan jejak dalam musim tenis yang penuh persaingan. (Antara)