ID EN

Menyusuri Cahaya di Bedugul, Kebun Raya Bali Kembangkan Program Eksplorasi Kunang-kunang

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:39

Penulis: Arif S

Kebun Raya Bedugul mengembangkan program eksplorasi kunang-kunang.
Kebun Raya Bedugul mengembangkan program eksplorasi kunang-kunang.
Sumber: Antara/HO-Kebun Raya Bali

Saat cahaya matahari perlahan digantikan langit temaram, titik-titik cahaya kecil mulai muncul di ANTARA dedaunan hutan tropis. Itulah momen ketika kunang-kunang menari di udara dan kini menjadi bagian dari program eksplorasi alam yang dikembangkan Kebun Raya Bedugul di Kabupaten Tabanan, Bali.

Pengelola Kebun Raya Bedugul menghadirkan program Eksplorasi Kunang-kunang dan keanekaragaman hayati. Langkah ini sebagai upaya membangun kesadaran publik tentang pentingnya Konservasi flora dan fauna.

Menurut Direktur Pengelola Kebun Raya, program ini dirancang agar konservasi tidak hanya menjadi konsep, tetapi pengalaman langsung.

“Sehingga upaya konservasi tidak hanya terhenti pada perlindungan kawasan tapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif,” ujar Direktur Pengelola Kebun Raya Marga Anggrianto di Tabanan, Bali, Rabu 14 Januari 2026.

Petualangan Menyaksikan Kunang-kunang 

Petualangan menyaksikan kunang-kunang berlangsung dari pukul 16.00 hingga 21.00 Wita.

Waktu ini dipilih karena merupakan periode krepuskular, masa peralihan siang ke malam, saat kunang-kunang aktif berkomunikasi melalui cahaya.

Peserta eksplorasi diajak menyusuri berbagai lanskap alami di dalam kawasan kebun raya di area pemandangan Danau Beratan, hutan tropis, hingga Taman Panca Yadnya.

Di sepanjang jalur tersebut, beberapa spesies kunang-kunang dapat dijumpai. Misalnya, Lamprigera species pluralis (Spp) dan Abscondita Spp dapat ditemukan di kawasan danau dan Taman Panca Yadnya.

Penanda Lingkungan Sehat

Kehadiran kunang-kunang bukan sekadar pemandangan indah, melainkan indikator kondisi iklim stabil ditandai kelembaban udara tinggi, suhu sejuk, sirkulasi udara yang baik serta rendahnya intensitas cahaya buatan.

Kondisi ini menjadi habitat optimal bagi serangga bercahaya alami itu.

Cahaya kunang-kunang berasal dari proses bioluminesensi, reaksi kimia alami di dalam tubuh serangga yang hampir tidak menghasilkan panas dan berfungsi sebagai alat komunikasi, terutama dalam proses reproduksi.

Selain kunang-kunang, peserta juga berkesempatan menyaksikan fauna malam jenis amfibi, reptil, burung dan jenis serangga lainnya dengan latar belakang vegetasi hutan tropis.

Kolaborasi untuk Edukasi Alam

Program ini dijalankan bersama komunitas pecinta alam Nusantara Wilderness yang focus dengan eksplorasi alam.

Bagi mereka, eksplorasi ini bukan sekadar wisata, melainkan proses belajar memahami sistem alam.

“Kebun raya memegang peranan penting dalam perlindungan habitat,” katanya.

Melalui kelap-kelip cahaya kunang-kunang di senja Bedugul, Kebun Raya Bali tidak hanya menawarkan pengalaman visual magis, tetapi juga menghadirkan perjalanan reflektif tentang hubungan manusia dan alam.***