ID EN

Seni di Lapangan Olahraga, Filosofi Golf dan Tenis Sebagai Status Bisnis

Rabu, 8 Oktober 2025 | 16:38

Penulis: Respaty Gilang

Kesepakatan bisnis
Ilustrasi kesepakatan bisnis antara CEO dan Investor di lapangan Golf.
Sumber: Freepik

Di tengah munculnya olahraga tren seperti padel, pickleball, bahkan e-sports yang cepat populer, terdapat dua cabang klasik yang tetap mempertahankan pesonanya di kalangan CEO, investor, dan elite bisnis. Golf dan tenis, bukan hanya soal warisan atau status, melainkan ritual yang menyatukan karakter, jaringan, dan filosofi yang sangat mirip dengan cara mereka membuat keputusan dalam dunia bisnis.

Siang di lapangan golf Jakarta mungkin panas, tapi udara juga membawa peluang. CEO yang mengayunkan stik bukan sekadar melepas stres, mereka menanam benih koneksi. Percakapan bisnis sering berawal dari tee‐off pertama, bukan dari kursi rapat.

Golf mengajarkan kesabaran, fokus terhadap detail seperti memilih klub yang pas, memperhitungkan angin, atau merencanakan pukulan berdasarkan topografi lapangan. Semua itu mirip dengan strategi investasi, analisis risiko, evaluasi kondisi, keputusan dengan dampak jangka panjang.

Sementara tenis menawarkan ketangguhan mental berbeda, adu cepat antar poin, tekanan servis yang menentukan, dan kontrol diri saat lawan menyerang. Dalam satu set, seorang pemain CEO bisa membaca karakter lawan, mempertahankan ketenangan saat skor tipis, atau malah memutar balik momentum. Kemampuan itu tak sekadar mengasah refleks tangan, tetapi juga ketahanan menghadapi ketidakpastian yang sangat dibutuhkan bila harus memimpin perusahaan di pasar fluktuatif.

Angka dan Realitas Eksklusivitas di Indonesia

Kenapa dua olahraga ini terasa sangat “kelas atas”? Salah satunya karena akses dan fasilitas yang tinggi. Misalnya, berdasarkan hasil riset terkini yang diambil dari poidata, ada sekitar 148 sampai 159 klub golf di Indonesia. Jakarta memimpin dengan puluhan klub yang tersebar di berbagai wilayah kota dan pinggiran. 

Klub-klub ini seringkali menjadi markas social stories, tempat bertemu investor, menjalin kerjasama, ataupun buat “client appreciation”. Misalnya melalui keanggotaan eksklusif, green fee tinggi pada hari libur, locale sosial yang premium, fasilitas pendukung lounge, restoran berkelas, hingga kesempatan tampil di event tertutup.

Data dari The Mutual Card oleh APLGI juga menunjukkan bahwa ada kartu keanggotaan yang memberi akses ke 60 lapangan golf paling baik di Indonesia, plus diskon ke restoran dan hotel.

Di ranah tenis pun demikian, keterlibatan luxury brand dan fashion dalam tenis mulai makin kentara. Di China misalnya, penjualan pakaian bergaya “tennis core” (gabungan gaya tennis klasik + fashion modern) melonjak drastis. Di Arab Saudi, banyak sekolah tenis menjadi bagian dari program nasional kesehatan dan gaya hidup, memperluas akses tenis ke sekolah-sekolah. 

Filosofi dan Nilai yang Terjadi di Lapangan

CEO dan investor melihat golf atau tenis bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan ruang di mana karakter diuji dan reputasi dibangun. Di antara rintangan bunker atau saat harus mengembalikan servis yang sangat cepat (timing), disiplin, dan mental diuji. Mereka yang kuat di lapangan sering dianggap lebih mampu mengelola tekanan bisnis.

Sobat CEO juga menganggap bahwa bermain tenis atau golf mendemonstrasikan nilai toleransi risiko, presisi, dan usaha kontinyu. Ketika mereka melakukan volley tensi, melewati putt sulit, atau menang di set panjang, mereka membuktikan bahwa usaha kecil yang konsisten lebih penting daripada ledakan performa sesaat.

Selain itu, klub-klub golf dan lapangan tenis sering menjadi gerbang akses sosial. Anggota klub biasanya adalah mereka yang sudah memiliki jaringan sosial dan ekonomi tinggi, sehingga undangan bergabung bisa berarti jaringan bisnis dan peluang kolaborasi yang belum terduga.

Tantangan dan Catatan Penting

Meski terlihat glamor, ada sisi yang kompleks. Biaya keanggotaan klub golf atau lapangan tenis premium tidak kecil, ada biaya operasional, maintenance, tenaga pelatih, barang import, dan fasilitas mumpuni. Belum lagi, lapangan tennis di banyak tempat belum mudah dijangkau atau memiliki jam operasional eksklusif.

Golf dan tenis bertahan bukan karena nostalgia, melainkan karena mereka terus menawarkan nilai yang sulit ditiru oleh olahraga modern lainnya, kombinasi antara eksklusivitas, filosofi performa, pengalaman sosial, dan ruang refleksi. Di antara pepohonan fairway atau di lapangan tenis yang terlindung, CEO dan investor menemukan ritme yang mencerminkan perjalanan membuat keputusannya sendiri. Fokus, sabar, presisi, dan selalu siap menghadapi tekanan.