ID EN

Juara Tanpa Kemenangan, Jon Rahm Buka Suara soal Reformasi Format dan Sistem Poin LIV Golf

Minggu, 11 Januari 2026 | 16:00

Penulis: Respaty Gilang

Jon Rahm
Jon Rahm
Sumber: Tangkap layar YouTube TenGolf

Jon Rahm secara terbuka mendukung wacana perubahan sistem poin LIV Golf yang berpotensi menghalanginya meraih gelar LIV Golf Individual Championship musim lalu. Pegolf asal Spanyol itu memang finis di puncak Klasemen individu untuk dua musim beruntun pada 2025, namun menariknya, ia melakukannya tanpa satu pun kemenangan turnamen.

Situasi ini memicu perdebatan serius di internal LIV Golf. Pasalnya, pesaing terdekat Rahm, Joaquin Niemann, justru tampil jauh lebih eksplosif. Pegolf asal Chile tersebut mencatatkan lima kemenangan turnamen sepanjang musim, masing-masing di Adelaide, Singapura, Mexico City, Virginia, dan Inggris Raya. Meski demikian, Niemann tetap gagal mengamankan gelar juara individu keseluruhan.

Keberhasilan Rahm meraih gelar individu bertumpu pada tingkat konsistensi yang nyaris sempurna. Dari 13 penampilan di sirkuit LIV Golf yang didukung Arab Saudi, ia hanya sekali gagal menembus posisi 10 besar. Bryson DeChambeau pun harus puas finis di posisi ketiga klasemen akhir.

Konsistensi Jadi Kunci, Tapi Dipertanyakan

Namun, anomali ini justru memunculkan kritik terhadap sistem poin LIV Golf. Banyak pihak menilai kemenangan turnamen seharusnya memiliki bobot lebih besar dibanding sekadar konsistensi finis tinggi. Rahm sendiri tak menampik anggapan tersebut dan mengakui bahwa gelar terbarunya terasa kurang utuh.

“Saya akan mengatakan bahwa memenangkan kejuaraan individu tanpa kemenangan turnamen tidak memiliki beban yang sama seperti tahun lalu, terutama jika melihat Joaquin yang menang lima kali,” ujar Rahm dalam podcast Subpar.

“Anda bisa saja berargumen bahwa dia mungkin lebih pantas mendapatkannya. Tapi saya tidak bertanggung jawab atas sistem poin,” tambahnya.

Dorongan Perubahan Sistem Poin

Rahm juga menyambut positif jika LIV Golf benar-benar merevisi sistem penilaian agar kemenangan turnamen diberi nilai lebih tinggi.

“Saya harap begitu. Saya tahu saya lebih konsisten, tetapi jika seseorang memenangkan lebih dari sepertiga turnamen, mereka mungkin seharusnya keluar sebagai juara, bahkan jika saya finis kedua setiap pekan, yang nyatanya juga tidak terjadi,” jelas pegolf berusia 31 tahun itu.

Ia menilai Niemann kehilangan gelar karena “beberapa pekan yang buruk”, namun tetap percaya perubahan regulasi akan segera diterapkan.

“Perasaannya memang campur aduk, tapi saya rasa mereka akan mengubahnya,” kata Rahm.

LIV Golf Menuju Format Lebih Tradisional

Rahm juga angkat bicara soal rencana peralihan format turnamen dari 54 hole ke 72 hole, sebuah langkah yang sejak awal digaungkan sebagai upaya mendekatkan LIV Golf ke standar tur golf tradisional.

Menurut Rahm, perubahan ini justru akan menguntungkan para pemain elite. Ia menilai format lebih panjang memberi ruang bagi kualitas sejati untuk tampil konsisten dan adil dalam perebutan gelar.

Selain itu, LIV Golf dikabarkan akan menambah jumlah pemain yang terdegradasi menjadi 11 orang pada musim ini, meningkat dari enam pemain pada tahun sebelumnya. Nama-nama besar seperti Anthony Kim dan Henrik Stenson termasuk di antara pemain yang tereliminasi musim lalu.

Langkah tersebut dinilai sebagai strategi penting untuk memperkuat legitimasi kompetisi, termasuk upaya LIV Golf agar diakui dalam sistem Peringkat Golf Dunia (Official World Golf Ranking/OWGR), yang hingga kini masih menutup pintu bagi tur tersebut. Jumlah peserta turnamen juga direncanakan meningkat dari 54 menjadi 57 pegolf.

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!