ID EN

Ketika Politik Mengubah Peta Liburan: Dampak Ketegangan Beijing-Tokyo pada Pariwisata Jepang

Jumat, 26 Desember 2025 | 11:30

Penulis: Arif S

Pariwisata Jepang
Pariwisata Jepang terdampak ketegangan Beijing-Tokyo.
Sumber: Envato

Pada peta Pariwisata Asia Timur, Jepang selama bertahun-tahun menjadi magnet utama bagi Wisatawan China. Kota-kota seperti Tokyo, Osaka, Kyoto, dan Hokkaido adalah wajah liburan modern Asia, memadukan budaya tradisional, teknologi, belanja, dan kuliner. Namun pada akhir 2025, arus itu mendadak melambat, bukan karena gempa atau pandemi, tetapi politik.

China telah mendesak agen perjalanan domestik untuk mengurangi jumlah wisatawan yang menuju Jepang sebesar 40 persen.

Sumber industri seperti dikutip dari Kyodo, menyebut langkah ini muncul di tengah perselisihan diplomatik antara Beijing dan Tokyo. 

Pemicunya, pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi tentang kemungkinan serangan ke Taiwan. Takaichi menyatakan, serangan ke Taiwan dapat menjadi situasi mengancam kelangsungan hidup Jepang, yang mungkin melibatkan pasukan pertahanannya.

Menurut sumber itu, agen perjalanan utama di China diberitahu pada akhir November untuk mengurangi jumlah permohonan visa Jepang sebesar 40 persen setelah pernyataan Takaichi di parlemen pada 7 November. 

Ketegangan itu tidak berhenti di level diplomasi. Dampaknya segera merembes ke sektor paling “manusiawi” dari hubungan antarnegara, perjalanan wisata.

Sebelumnya, pada pertengahan November, pemerintah China meminta warganya untuk menghindari kunjungan ke Jepang, dengan alasan pernyataan Takaichi telah merusak suasana pertukaran antarmasyarakat dan meningkatkan risiko keselamatan warga China di Jepang.

Dalam praktiknya, sistem perjalanan warga China ke Jepang memang sangat terstruktur. Seperti diketahui, warga negara China perlu mendapatkan visa untuk mengunjungi Jepang dan mengajukannya melalui agen perjalanan yang ditunjuk. Artinya, ketika pemerintah memberi sinyal, industri perjalanan langsung menyesuaikan diri.

Menurut laporan media China, lebih dari 1.900 penerbangan dari Negeri Tirai Bambu menuju Jepang, atau lebih dari 40 persen dari total penerbangan, dibatalkan di China pada Desember. Sementara 2.195 penerbangan lainnya akan dibatalkan pada Januari, juga sekitar 40 persen.

Padahal, dalam beberapa tahun terakhir Jepang terdaftar sebagai salah satu tujuan wisata paling populer bagi wisatawan China. Wisata Belanja, bunga sakura, salju Hokkaido, hingga taman hiburan menjadi alasan utama jutaan wisatawan menyeberangi Laut Cina Timur setiap tahun.

Namun kini peta itu bergeser. Jepang tidak termasuk dalam 10 lokasi luar negeri terpopuler selama liburan musim dingin pada Januari dan Februari tahun depan.

Data resmi Jepang menunjukkan perlambatan. Statistik Jepang menunjukkan jumlah pengunjung dari Tiongkok hanya meningkat 3,0 persen pada November dibandingkan tahun sebelumnya, disbanding peningkatan 22,8 persen pada Oktober. Ini dipengaruhi peringatan perjalanan yang dikeluarkan pemerintah China.

Di balik angka-angka ini menunjukkan, bagaimana geopolitik bisa mengubah rencana liburan jutaan orang. Hotel, maskapai, toko bebas pajak, hingga pemandu wisata merasakan langsung efek dari ketegangan antarnegara yang terjadi di ruang parlemen.

Di Asia Timur hari ini, Destinasi Wisata bukan hanya ditentukan keindahan alam atau daya tarik budaya, tetapi juga arah angin politik.***